1. Stop sebut salah satu isi kebun binatang!

Stop it, Moms and Dads! via http://www.wajibbaca.com

Kata-kata kasar di sini seperti menyimbolkan sifat anak yang salah–dalam pandangan orangtua–dengan kata-kata isi kebun binatang. Jika isi kebun binatang di tempatkan pada sifat anak tentu ini tidak tepat. Sama saja orang tua menghukum anaknya dengan menyebut anak sebagai salah satu isi kebun binatang. Efeknya pada anak yaitu akan tertanamnya sifat anak seperti yang disifati orang tuanya, jika itu terus menerus menghakimi anak. Selain itu juga kosa kata isi kebun binatang menjadi kosa kata yang menjadi kosa kata pilihan untuk berinteraksi kepada orang lain seperti yang dicontohkan oleh orang tuanya.

2. Orangtua mengejek dirinya lebih buruk daripada anaknya

Kalau orang tua mengejek anaknya, berarti ia sedang mengejek dirinya sendiri via https://muhammadgetar.wordpress.com

Orangtua kok mengejek anaknya? Jika ini terjadi, sama saja orang tua mengejek dirinya lebih buruk dari pada anaknya. Kok bisa? Lah iya lah, karena anaknya kan dilahirkan oleh orangtuanya, seperti cinta yang terus melahirkan kebaikan. Kalau orangtuanya baik maka anak yang dilahirkan juga baik –hitungan mayoritas lho ya. Ejekan akan berefek pada psikologis anak yang menyebabkan anak merasa selalu saja buruk di mata orang tuanya, seperti orang yang tidak diinginkan keberadaannya.

3. Hindari membandingkan anak!

Anak tidak suka dibandingkan, jangankan anak-anak orang dewasa pun juga via https://www.google.com

Advertisement

“Kamu kok nggak seperti dia pintar Matematika, kamu itu ngapain aja di sekolah?”

Ingat ibu-ibu dan bapak-bapak, setiap anak itu berbeda-beda. Berbeda dari segi fisik, kecerdasan, keunggulan. Maka hindarilah membandingkan anak anda dengan anak yang lainnya. Angkat dan dukunglah kelebihan anak anda. Membandingkan anak dalam keburukan anak akan menyebabkan anak menjadi orang yang tidak percaya diri dengan kemampuan dan keunggulannya, menyebabkan anak malu pada orangtuanya sendiri. Kalau ini sudah terjadi, lalu siapa yang akan menjadi teman terbaik bagi anak?

4. Hindari menonjolkan kekurangan anak

Beri apresiasi pada setiap pekerjaan yang dilakukan via http://www.yukhamil.com

Anak sudah berusaha sebaik-baiknya dalam melakukan pekerjaannya, tapi masih saja orangtua –ini- menonjolkan kekurang anak dari pada mengapresiasi hasil usaha anak.

“Pekerjaanmu kok buruk sekali, dasar anak bodoh”.

Untukmu -calon- Ibu dan Bapak kalau udah punya anak jangan digituin yah. Nanti anakmu akan merasa rendah diri dan tidak berani untuk survive bahkan menjadi orang menjadi mudah putus asa. Waduh bahaya! Lebih baik membesarkan hati anak dengan memberikan reinforcement, itu kalau bahasa akademiknya. Artinya orang tua harus memberi penguatan seperti “pekerjaanmu luar biasa bagusnya, anakku”.

5. Marah tidak menyelesaikan masalah anak

Marah bukan pemecah masalah, Moms! via http://www.vix.com

“Sudah dibilangin kamu jangan main air, masih saja ngeyel –dasar-!”

Marah tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi akan menambah masalah. Apalagi kalau memarahi anak, ini akan menyebabkan bertambahnya masalah pada anak. Membuat anak akan takut dengan orang tuanya sendiri. Sehingga menyebabkan rumah bukanlah terbaik untuk dirinya dan selalu ingin keluar dari rumah yang terus terasa kejam. Hindari memarahi anak lebih baik, ungkapkan hal-hal yang menyejukan anak dengan nasehat. Itu akan berakibat positif bagi anak.

Keluarkanlah kata-kata yang membawa manfaat pada anak-anak anda. Sehingga anak akan terus terdidik menjadi orang yang selalu mengatakan kebaikan dan membawa manfaat yang akan menjadi citra kebaikan anda sebagai orang tua anak.