Aku mengenalmu tidak dalam waktu setahun dua tahun, apalagi sekedar hitungan bulan. Mengenalmu bertahun- tahun, terasa cukup bagiku untuk tahu. Mengenalmu, membuatku merasa cukup untuk menumpangkan harapan di pundakmu. Mengenalmu bukan hanya perkara siapa kamu dan bagaimana kamu. Perjalanan panjang kita telah menjawab semua tanya, tentangmu, tentang aku, tentang kita.

 

1. Kamu Pernah Menjadi Sandaran Bagi Hatiku yang Merapuh.

Kamulah sandaran hati yang rapuh

Kamulah sandaran hati yang rapuh via http://www.article.wn.com

Di dalam dirimu, aku menemukan sandaran bagi hatiku yang kadang bisa serapuh angin. Kadang aku terlalu lelah untuk berkata ‘cukup’ pada diriku sendiri dan kamu selalu ada sampai hatiku merasa ini semua ‘cukup’. Aku tahu aku terlalu bergantung padamu, hingga suatu saat kita sampai pada titik dimana aku tidak bisa jika tidak ada kamu.

Tapi aku harus bagaimana? Hatiku yang telah terbiasa denganmu, tidak mau belajar untuk menguat dengan sendirinya.

2. Kamu adalah Sapaan Selamat Pagi, Semangat Selamat Siang, dan Salam Selamat Tidur.

Kamu selalu ada.

Kamu selalu ada. via http://www.perfectogift.com

Tidak peduli pagi, siang, sore ataupun tengah malam, kehadiranmu yang tak pernah alpa membuatku tersadar bahwa bahwa yang aku butuhkan hanyalah kamu yang selalu ada. Dengan kehadiranmu, aku merasa tercukupi. Tidak peduli lagi dengan mereka yang sesekali datang menawarkan candu dunia. Aku sudah menyadari, aku tidak butuh mereka dengan semua tawaran yang ada ditanganya. Bagiku, kamu berarti cukup.

3. Ketika Hati Berkata ‘Iya’, Mengapa Keadaan Berkata ‘Tidak!’

Ketika hati dan keadaaan tidak sejalan.

Ketika hati dan keadaaan tidak sejalan. via http://nipzora.blogspot.com

Saling mengenal dengan keluarga satu sama lain sejak lama ternyata tidak membuat hubungan kita semakin membaik. Hubungan yang kita lalui selama ini ternyata dipandang sebagai peran kakak- adik oleh keluarga. Dekat sebagai keluarga memang sudah kita lakoni sebelum cinta kita mulai berbunga. Jika yang berkata adalah keluarga, kita bisa apa?

Selama ini kita selalu merasa cukup dengan hubungan yang tidak diketahui orang banyak, cukup kita yang tahu. Ternyata hal ini membawa petaka bagi kita. Ketika kita jatuh semakin dalam, hubungan ini terasa tidak berdasar.

4. Jika Hatiku Adalah Hati yang Rapuh, Apa Jadinya Jika Sandarannya Ikut Merapuh?

Ketika senja kembali membawa luka, pada siapa duka ini akan aku adukan? Masih bolehkan aku datang dengan segenggam pengharapan? Ketika aku kembali merapuh, pada siapa aku harus bersandar? Aku tau ini tidak mudah bagi kita. Aku terluka. Kamu pun menanggung duka.

5. Kamu Meminta untuk Melupakan Semua Perasaan Kita.

Aku tidak tau apakah aku bisa.

Aku tidak tau apakah aku bisa. via http://www.beranibuka.com

Bumiku terasa kembali berputar setelah sekian lama limbung seperti tak berporos. Hari ini, kamu muncul lagi setelah menghilang seperti terbawa angin berhari- hari yang lalu. Walaupun aku tau ada yang berbeda, setidaknya kamu kembali ada, pikirku. Tapi senyummu menghilang dihadapanku, seperti tercuri oleh waktu. Walaupun suaramu masih sama, tapi nadamu mulai berbeda.

Dengan raut muka yang belum pernah kulihat sebelumnya, kamu memintaku untuk melupakan semua perasaan kita.

6. Katamu, Biarkan Takdir yang Menentukan Akhir Cerita.

Kita sama- sama hancur.

Kita sama- sama hancur. via http://www.informasitips.com

Bumiku sekarang bukan sekedar limbung tak berporos. Dengan kejamnya dia justru berhenti berputar. Aku merasa hancur, ketika kamu menjelaskan semuanya. Aku merasa lebih hancur ketika mengetahui bahwa masih ada cinta dihatimu. Berhari- hari menghilang, ternyata kamu berusaha membunuh perasaan itu, lalu menenangkan diri dalam diam.

 

“Semuanya terasa tidak mungkin. Aku tahu bagaimana hatimu, dan aku yakin kamu juga tahu bagaimana hatiku. Untuk sekarang, mari kita biarkan semuanya berjalan seperti yang takdir inginkan”

7. Jika Aku Tidak Mampu Membunuh Perasaan ini, haruskan Kutikam Hatiku Berkali- kali sampai mati?

Aku membunuh rindu itu sampai mati.

Aku membunuh rindu itu sampai mati. via http://www.detikcinta.com

Apakah aku salah jika aku tidak bisa membuang semuanya begitu saja? Melupakan hal- hal yang belakangan menjadi hal berharga untukku, melupakan semua rajutan mimpi yang kita sambung dari hari ke hari, merelakan masa depan yang selalu kita nyanyikan, tahukah kamu itu lebih sulit dari pada mendaki gunung setinggi apapun? Bagai kehabisan nafas, aku harus berhenti mengucap namamu.

Aku rindu semua yang kata cinta yang dulu punya nada. Aku rindu menggenggam tangan yang dulu kukira akan menghidupiku. Aku rindu bahkan hanya untuk melihat punggung yang dulu kukira akan menjadi sandaran ternyaman dalam hidupku. Aku rindu dan sakit rasanya ketika aku harus menikam hatiku berkalli- kali, sampai rindu itu benar- benar mati.