Terkadang dalam hidup kita takkan pernah tahu esok kita akan tertawa atau menangis. Kegagalan dalam suatu hal memang sangat terasa pahit. Namun itulah takdir yang sudah di tuliskan oleh Sang Maha Pencipta. Pernah sempat berpikir untuk marah kepadaNya dan berkata ini tidak adil untuk ku. Tetapi aku berpikir kembali apakah Dia marah kepadaku saat aku melupakanNya karena terlalu sibuk dengan berbagai urusanku.

Saat itu aku hanya bisa menyalahkan diri sendiri atas apa yang sudah terjadi. Rasanya malu bahkan sulit untuk menerima kenyataan bahwa dia yang aku jaga kini pergi dengan kemenangan. Namun ternyata yang ku butuhkan hanya waktu. Hari demi hari kelemahan itu semakin terasa.

Sang Pencipta memang sangat baik. Hingga akhirnya aku dipertemukan dengan sesuatu yang baru. Terimakasih untuk kamu yang pernah datang membawa seribu alasan untuk aku tersenyum kembali.

1. Ketulusanmu Bisa Aku Rasa, Meski Rasa Kita Tidak Sama.

www.google.com via https://www.pinterest.com

Sampai saat ini aku tidak mengerti rasa apa yang kamu miliki walaupun aku yakin rasa kita tidak sama. Kita memang di pertemukan oleh Nya entah untuk sementara atau tidak, setidaknya kita pernah saling mengenal. Ya jawaban itu sudah terjawab pertemuan kita hanya bertahan sementara.

Namun aku kini sudah mulai mengerti mungkin saja Sang Pencipta sudah mempersiapkan sesuatu yang baru lagi untuk kita berdua. Tidak ada alasan untuk menyesal telah mengenalmu. Kini rasa yang telah kau bawa masih terasa tertata rapih dalam ingatanku.

2. Kita Pernah Saling Berjanji Sebelum Pada Akhirnya Saling Mengingkari.

www.google.com via http://www.elheraldo.hn

Advertisement

Saat membangun komitmen dengan mu lalu putus di tengah jalan, Sebenarnya kita tidak saling mengingkar. Hanya saja perbedaan yang tidak bisa disatukan dan tidak baik untuk di paksakan.

Perbedaan usia kita yang memang sangat jauh membuat kita sulit untuk beradaptasi dengan baik. Iya, beradaptasi sebagai kekasih. Tetapi sebenarnya perbedaan umur tidak berpengaruh besar terhadap sebuah hubungan. Namun perbedaan cara berpikir lah yang sangat berpengaruh lebih.

Jika kamu dan aku saling menyayangi maka biar saja Sang Pencipta yang mempersatukan kembali. Kita tidak perlu berpura-pura tersenyum menahan sebuah ketidaknyamanan. Karena kita tahu sejauh kamu menghindar jika memang kamu takdirku kita takkan dipisahkan selamanya, namun jika kamu mendekat kepadaku sedekat nadipun tetapi kamu bukan takdirku maka kita tak akan pernah menyatu sampai kapanpun.

3. Dan Sekarang Aku Hanya Bisa Melihat Dan Mendoakanmu Dari Jauh Saja.

www.google.com via http://i.ytimg.com

Keputusan yang sudah kita buat kini membuat kita semakin jauh. Tidak ada komunikasi, tidak ada pertemuan, bahkan semua sudah seperti awal saat kita tidak saling mengenal. Benar-benar aku sudah menaruh rasa berharap yang lebih terhadapmu waktu itu.

Aku sempat berpikir bahwa kamu adalah yang terakhir. Meskipun kenyataan berkata lain. Kini aku sudah menjadi paparazi mu secara diam-diam. Melihat aktivitas mu di sosial media, memajang fotomu dalam ruangan tidur ku, dan mendoakan mu dalam setiap pertemuanku dengan Sang Pencipta. Itu saja sudah membuatku cukup bahagia.

Suatu momen yang membuat ku seperti orang tidak waras adalah ketika aku mengingat-ingat kembali semua tingkah laku kegilaanmu, mengingat pertama kali aku tertarik oleh mu, dan menghitung beberapa ungkapan rasa yang kamu pernah lontarkan kepadaku yang memang sangat jarang kamu ucapkan.

4. Aku Tidak Ingin Menjadi yang Munafik. Aku Berharap Meskipun Kita Terpisah Kamu dan Aku Akan Menemukan yang Lebih Baik Lagi.

www.google.com via http://keesha.soup.io

Aku tidak ingin menjadi yang munafik. Aku memang berdoa kepadaNya jika memang kamu menjadi masa depan ku atau tidak aku hanya ingin kita sama-sama berbahagia. Semoga kelak kamu mendapatkan yang terbaik untuk dirimu, dan aku mendapat yang terbaik untuk ku. Untuk kamu yang telah berhasil mengajak aku untuk berdiri kembali dikala aku lemah. Kebaikanmu takkan pernah aku lupa sampai kapanpun.

5. Sebenarnya untuk Tersenyum Kembali dari Keterpurukan Tak Seribet Itu.

www.google.com via http://www.hailacmartins.com

Bahagia itu hanya cukup menghargai apa yang kita sedang miliki. Bukan meratapi sesuatu yang pernah menjadi milik kita yang belum tentu selamanya kita miliki.

Jangan pernah berpikir " mengapa dia tidak mencintaiku?"

Tapi berpikirlah "kenapa kita tidak mencintai Sang Pencipta seperti Sang Pencipta Mencintai Kita?"

Sudahlah ini hanya tulisan hiburan semata. Terimakasih atas segala perhatian Hipwee Community.