Kau tahu kawan,bagaimana rasanya mengecap manisnya sebuah proses keberhasilan dari jerih payahmu sendiri?serasa kita sedang dihamparan gurun pasir dan tiba tiba ada tetesan airhujan yang jatuh dari langit,aku tak bergurau kawan,aku serius,sebagian dari kita mungkin terlahir sebagai orang yang beruntung dengan dibekali berbagai fasilitas dari orang tua,dan mungkin ada pula yang harus kerja mati matian untuk memperoleh sebuah pendidikan.

 

1. Aku si Penerima Beasiswa yang Harus Gagal

Masih teringat jelas saaat aku mendapatkan beasiswa dari sebuah universitas yang berada di Malang, kau tahu?Betapa girangnya aku, bak mendapatkan sebuah berlian sekarung, pulang dari sekolah langsung ku lempar sepedaku di depan pintu dan bilang ke ibu yang saat itu yang sedang duduk di kursi:

"Bu, aku mendapatkan beasiswa itu,dan ini suratnya."

Dan saat itu pula aku melihat wajah ibu yang senang tapi juga sendu,aku tunduh seketika mendengar perkataan ibu,

"Nak,maafkan ibumu ini nak, mungkin ayah dan ibu tak mampu membiayai sebagian kuliahmu ,maafkan ibu nak,kalau harus membuat mimpimu tertunda, tapi ibu yakin suatu saat kau bisa mewujudkan mimpimu itu dengan tanganmu sendiri."

Kakiku lunglai,aku tergugu,dan terduduk dihadapan ibu dengan tatapan terpukul.

2. Getirnya Sebuah Perjuangan.

Getirnya perjuangan

Getirnya perjuangan via http://google.com

Tekatku untuk meraih sebuah pendidikan masih kuat, ku beranikan diri untuk pergi ke negri orang, meskipun tak menutup kemungkinan aku akan mati kelaparan di kota orang, itu tak masalah bagiku, setidaknya aku sudah mencoba dan aku tak akan melabeli diriku sebagai pecundang mimpi, bukan?

Aku bahkan harus rela berpisah dengan orangtuaku, sulit memang, tapi... hei, disini aku banyak belajar, belajar yang dalam artian benar benar belajar, kemandirian itu muncul, sikap tanggung jawab atas diri sendiripun sudah mulai kupahami.

3. Semesta Mulai Berbaik Hati Padaku

semesta mulai berbaik hati

semesta mulai berbaik hati via http://google.com

Akhirnya Tuhan memberikan jalan untuk impianku, aku bekerja di sebuah perusahaan, meskipun harus kutemui jadwal kerja yang tak tetap,selama 8 bulan kulakoni, demi mengumpulkan biaya pendaftaran kuliahku. Kau tahu kan? Janji Tuhan itu pasti,"barang siapa yang bersungguh sungguh dia akan berhasil."

Uang pendaftaran terkumpul dan aku bisa membiayai kuliahku dengan hasil jerih payahku sendiri, Tuhan berbaik hati padaku, jalanku untuk meraih impian semakin nyata,tak masalah jika aku harus menguras tenaga, waktu dan pikiranku, setidaknya aku masih memiliki peluang baik itu.

4. Proses yang Ternyata Masih Panjang.

proses yang masih panjang

proses yang masih panjang via http://google.com

Saat aku berhasil untuk melanjutkan pendidikanku, aku tak serta merta semua benar benar sudah clear, ternyata masih banyak yang harus kulalui, aku harus rela menemui waktu tidur yang tidak normal, menjumpai tipisnya dompet, jangan tanya soal nongkrong ataupun jalan jalan ke mall seperti wanita seusiaku, bahkan untuk membeli buku buku pun aku harus rela memangkas uang jajanku.

Jangan tanya pula gadget keren seperti milik kalian, kawan, hpku bisa sms dan telepon saja sudah lebih dari cukup, setidaknya aku masih bisa menanyakan kabarku lewat hp itu.

Proses itu tak secepat kilat, 4 tahun harus dilewati, tak pelak rasa lelah kadang menghampiri, rasa menyerah pernah pula mampir dikepalaku, tapi inilah hidup,apakah lagi lagi aku hanya akan jadi pemimpi ulung? Aku tak ingin hanya berlabel sebagai sang pemimpi ulung tanpa ada sebuah usaha, akhirnya lagi lagi tekat untuk menggenapkan impianku muncul kembali.

5. Kukuatkan Hati untuk Menatap Masa Depan dengan Kepala Tegak.

kuatkan hati

kuatkan hati via http://google.com

Proses panjang itu itu terlewati,setidaknya di masa masa itulah diriku dibentuk oleh sebuah keadaan, keadaan yang memaksaku untuk berdiri tegak diatas kaki sendiri, keadaan dimana yang mengajariku untuk tidak mudah melepaskan asa. 

Keadaan dimana yang menyadarkanku bahwa kita bisa seperti saat ini, bukan hanya karena kerja keras kita, tapi doa orangtua yang tiada pernah ada hentinya, dan akhirnya aku bisa mengangkat wajahku dengan tegak untuk menatap masa depan.

Tak ada lagi ketakutan yang dulu sempat mengkerdilkanku, toh apa lagi yang harus kutakutkan, aku bahkan sudah sering melewati, terjalnya sebuah kehidupan, aku sudah mulai terbiasa dengan keadaan,hidup harus terus berlanjut bukan? Tak peduli seberapa menakutkan kehidupan itu, semua harus dilalui dengan kepala tegak, bukan ngesot, dengan berbagai keluhan.

6. Saatnya Mengecap Manisnya Sebuah Proses

manisnya sebuah proses

manisnya sebuah proses via http://google.com

Kau tahu kawan? bagaimana rasanya melihat orangtua dan keluarga kalian duduk disebuah kursi tamu undangan dan menyaksikan dirimu yang telah berhasil menuntaskan kewajibannya sebagai mahasiswa?

Dada ini berdegub tak beraturan, air mata menetes tak terkendali, bibir ini hanya mampu terucap "ayah, ibu, aku telah selesai menggenapkan kewajibanku sebagai mahasiswa, dan ini hadiah untukmu, maaf belum bisa memberikan sesuatu yang lebih, tapi janji, suatu saat nanti, aku akan memberikan sebuah kesuksesan yang lebih besar lagi untuk ayah dan ibu."

Saat itulah kau baru tahubetapa manisnya mengenang jerih payahmu dulu,saat kau berada di titik berhasil.

Kita mungkin tak terlahir sebagai orang yang serba ada, tapi setidaknya kawan, Allah menitipkan kepala dan tangan agar kita berusaha melakukan yang jauh lebih baik dari saat ini.