Bermula dari waktu di mana saya bukan hanya “membuka” sebuah lembaran ayat suci yang terbungkus rapih dalam sebuah Al-Quran, namun di saat saya “memaknai dan meresapi” makna dibalik ayat pada lembaran pertama.

Pada sore itu, saya mulai belajar untuk tidak sekadar “membaca” namun, saya belajar untuk “memahami” QS. Al-Baqarah ayat (1-2), yang berbunyi “Alif lam mim” yang maknanya adalah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia yang hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri, kemudian di ayat selanjutnya “Dzalikal kitaabu laa roiba fihi hudan lil  mutaqiin” menjelaskan tentang sifat-sifat yang dimiliki oleh-Nya. Di mana diri-Nya adalah pemilik dari segala macam kesempurnaan, dan hanya diri-Nya dan tidak ada satu orang pun yang dapat menyamakan-Nya, karena hanya diri-Nya lah yang senantiasa akan dipuji, disembah dan tidak ada hal apapun yang dapat disembah selain diri-Nya. Lalu, apa hubungannya dengan tulisan saya ini? 

1. Setelah saya memahami awalan surat QS. Al-Baqarah ayat (1-2)

Jangan hanya dibaca, pahami pula setiap maknanya via http://tumblr.com

Saya dapat mengambil kesimpulan bahwasannya, kita sebagai manusia harus senantiasa tunduk hanya kepada-Nya, dan setiap orang memiliki berbagai bentuk kekurangan dan kesempurnaan hanya milik-Nya semata. Ya, setelah memaknai dua potong ayat dalam kitab suci, saya “tersadar” memang benar sejatinya kesempurnaan hanya milik-Nya, dan dalam diri saya masih banyak sekali kekurangan, bahkan hingga saat ini saya hidup di dunia. Tidak ada manusia yang sempurna, karena pada masa dahulu saya, kamu, atau bahkan mereka pernah berada di dalam posisi “mencintai seseorang bukan karena-Nya”.

Tidak dapat dipungkiri bahwasannya dunia yang fana ini telah mengajak saya untuk terjun ke dalam “lingkaran haram” yang sampai saat ini bahkan menjadi sebuah “budaya” di Negara Indonesia, sebut saja “pacaran”. Merupakan sebuah ikatan tidak resmi yang dilakukan oleh sepasang manusia layaknya suami istri, namun tidak akan pernah mendapatkan rida dari-Nya sampai kapanpun. 

2. Waiting for something special?

Waiting for something special? via http://tumblr.com

Menurut saya pribadi, hidup itu adalah permasalahan untuk menunggu ketetapan-Nya. Iya, ketika saya diberikan ujian oleh-Nya, maka ikhlas dan bersabarlah yang harus saya lakukan saat ini atas semua yang memang sudah digariskan oleh-Nya kepada saya. Karena saya sangat percaya akan ada kebahagiaan yang akan diberikan oleh-Nya.

Advertisement

Kebahagiaan yang hakiki berasal dari hati, entah itu hati saya, hati kamu atau bahkan hati mereka. Bukan dari harta, tahta, apalagi jabatan yang saat ini sedang kita sandang. Beruntunglah jika seorang manusia di zaman ini memiliki hati yang senantiasa terpaut untuk ikut serta dalam ajaran-Nya, dan senantiasa menjaga kehormatannya, karena ketika detik-detik ini mulai terasa sukar untuk dijalankan, maka dari itu saya hanya dapat menunggu detik selanjutnya di mana saya akan merasakan kebahagiaan yang memang dituliskan oleh-Nya di Lauhul Mahfudz.

3. Laki-laki ideal?

Semua wanita menginginkan laki-laki yang ideal bukan? via http://tumblr.com

Perempuan mana yang tidak ingin sosok laki-laki yang bisa dikatakan “ideal”. Saya tidak dapat memungkiri hal tersebut, namun saya meyakini bahwasannya setiap pribadi memiliki kriteria yang berbeda satu sama lain. Begitupun diri saya, saya menginginkan seorang laki-laki yang “bisa sangat sabar” menghadapi diri saya untuk mencapai suatu kebahagiaan, bukan hanya di dunia namun di akhirat.

Saya tersadar, ketika diri saya menginginkan seorang laki-laki dengan kriteria tersebut, maka saya harus lebih taat lagi kepada-Nya. Tidak hanya menjalankan kewajibannya, namun belajar dengan perlahan dan konsisten untuk menjalankan sunnah-Nya, karena cita-cita terbesarku adalah menjadi wanita yang diidamkan oleh ia yang sudah ditentukan oleh-Nya, dengan cara menjadi sebaik-baiknya perhiasaan di dunia. Semoga anda demikian.

4. Hari-hari terus kujalani dengan kesendirian

Sabar dan Ikhlas Ya via http://tumblr.com

Hari-hari sendiri yang harus saya jalani dengan rasa sabar dan ikhlas sembari menunggu takdir-Nya datang entah besok, tahun depan, atau bahkan tahun di masa mendatang. Perubahan yang sudah menempel di kepala dan tubuh saya adalah simbol bahwasannya saya harus tetap menjaga konsistensi yang saya tanam. Terlebih semenjak saya menutup lembaran masa lalu saya.

Saya tidak boleh tergerak untuk kembali lagi ke dalam sana, karena sejatinya kehidupan masa kini harus lebih baik daripada masa lalu saya. Oleh karena-Nya, kesendirian yang saya jalani saat ini merupakan suatu kebahagiaan yang tidak terhingga menurut saya pribadi. Saya tidak sama sekali iri hati dengan mereka yang “memilih” untuk bahagia bersama kekasihnya yang hanya di dunia saja, namun tidak di akhirat. 

5. Perfect timing will be come

Someday My Prince Will Come via http://tumblr.com

Sekarang yang saya inginkan adalah bagaimana saya bisa sukses di dalam karier pekerjaan saya, dan bisa membahagiakan kedua orang tua saya, maka dengan sendirinya Insya Allah jodoh pun akan datang di waktu dan momen yang pas. Dan tentunya di saat yang memang sudah digariskan oleh-Nya sang maha pemilik hati, karena saya sangat percaya janji-Nya adalah sebuah kepastian. Lalu, jalan terbaik menjemput jodoh adalah “menjaga dan memperbaiki diri dari hari ke hari agar senantiasa istiqomah dalam berhijrah”.

Wanita yang baik maka akan bersanding dengan laki-laki yang baik pula.

6. Jodoh adalah cerminan diri

Cerminan Diri via http://tumblr.com

Sebab jodoh bisa saya ibaratkan layaknya sebuah cermin rias. Seberapa cantik atau tampan itu merupakan hal yang tidak mutlak bahkan berbeda nilai dengan pandangan mata, namun ke-sholehan dan ke-shalehan itu merupakan hal yang mutlak, karena kehadirannya bukan hanya tercermin namun ada dalam jiwa dan ketakwaan. Makna cinta yang sejatinya telah menyadarkan diri saya bahwasannya cinta adalah suatu kesabaran, bukan syahwat semata, terburu-buru dalam melakukan suatu perkara, namun sebelum kita mencintai seseorang, cintai lah terlebih dahulu yang menciptakan seorang yang kamu cintai.

Saya belajar dari kisah Ali dan Fatimah, di mana ketika Fatimah mengejar Ali, maka dijauhkanlah Ali oleh-Nya, namun ketika Fatimah mendekatkan diri kepada-Nya, Ia dekatkan Ali kepadanya. Salah satu bukti cinta yang paling tinggi bukan hadir dari sebuah pemberian “kesucian” seorang perempuan kepada lawan jenisnya, melainkan dibuktikan hanya dengan diadakannya suatu pernikahan yang dilakukan dengan tujuan untuk mencapai rida-Nya. Semoga saya, kamu, dan mereka bisa senantiasa istiqomah di dalam jalan-Nya, tetaplah bersabar hingga hari itu datang ya saudaraku, aamiin allahuma aamiin.