Aku mulai percaya dengan pernyataan orang yang seperti itu. KKN memang menyenangkan, meski harus bergelut dengan banyak rintangan yang tak terduga. Dengan sedikit pembekalan dari kampus, menuntut setiap mahasiswa agar bisa mandiri dan menerapkan ilmu nya dalam kehidupan bermasyarakat. Karena hidup dengan buku dan pena terkadang tak memberi jaminan bahwa kita telah benar-benar hidup.

Apalagi harus terus sembunyi di balik meja dan mendengarkan ceramah dosen hingga tugas yang menumpuk. Lebih tepatnya itu membuat kita jemu. Namun, ketika KKN ada hal baru yang kami rasakan. 

 

1. 12 May 2015 kita berkumpul lalu jadi keluarga baru.

Tanggal 12 May 2015 yang lalu, kita berkumpul jadi satu di desa Kalisongo, Kabupaten Malang. Di sana, kita menemukan teman dari berbagai jurusan di satu kampus yang telah kita huni selama tiga tahun. 21 orang, termasuk aku di dalamnya. Jumlah lelaki pun hanya tujuh orang. Aku hanya membayangkan bahwa kelompok ini akan mampu memberikan kerjasama yang baik dan mencapai hasil akhir yaitu lulus KKN dengan nilai terbaik.

Bagiku, masa perkenalan kita singkat setelah beberapa jam menyinggahi tempat menginap di desa (baca: posko). Kita telah mampu untuk mengenal satu sama lain. Sejak saat itu, sudah terukir canda tawa kita bersama. Aku yakin saat itu semua pasti nyaman akan hadirnya aku dan seluruh teman di situ. Kita memang diharuskan untuk membaur dan menjadi seperti keluarga baru. 

2. Program kerja yang menyibukkan hingga guyonan yang menghibur.

sesi apa ya ini?

sesi apa ya ini? via http://punyasendiri.com

Ingatkah kallian saat saat itu? Saat di mana kita disibukkan oleh program kerja (proker) yang memaksa kita untuk memutar otak agar terlaksana dengan baik. Mungkin kalian lebih ingat dengan guyonan-guyonan sederhana yang menghibur dari teman-teman kita yang begitu paham saat di mana harus meletakkan canda. Aku begitu merindukan saat seperti itu. 

Proposal dadakan yang memaksa mata untuk melihat lebih lama dari biasanya hingga perkara dana yang harus disiapkan untuk bekal hidup selama di sana. Agak terasa gatal di telinga ketika mendengar harus iuran. Tapi begitulah kewajiban kita untuk menuntaskan tugas yang kita bawa dari kampus dan untuk memberikan yang terbaik bagi diri kita sendiri. 

3. Ingatkah cinta yang patah saat KKN hingga cinta lokasi yang hampir terjadi?

Bagi mereka yang pernah merasakan KKN, cinta lokasi adalah hal yang biasa. Namun bagi kita, itu masih perkiraan semata. Ingatkah kalian ada beberapa teman yang setiap hari menyibukkan diri dengan smarthone-nya agar tak terlihat jomblo? Atau menyibukkan diri dengan smartphone padahal jomblo? Ada juga teman kita yang cintanya kandas di tengah KKN hingga menemukan gebetan baru di lain posko? 

Ingatkah kalian teman yang selalu menebar pesona sana, sini dan masih tak berbuah apapun? Atau teman yang tak sendiri lagi, tapi tetap menggoda banyak wanita? Aku sungguh tertawa kecil karena semuanya begitu menggoreskan senyum bagi kita dan mengukir kenangan untuk semua. 

4. Berselisih itu biasa. Namun kita semua tetap baik-baik saja dan tetap jadi keluarga 45 hari.

Perselisihan juga muncul karena kita berbeda pendapat dan bebeda paham. Bagi kita semuanya biasa. Hal itu tak memberikan perbedaan apapun pada kekompakan kita. Bahkan kita saling mengenal karakter satu sama lain. Ada yang terbiasa dengan panggilan "Singo", ada yang marah, dan membanting pintu kamar. Ada yang sering di-bully dengan ejekan, ada yang tertawa lepas, dan bahkan ada yang "pecicilan".

Namun aku paham, semuanya pasti hanya sementara. Ini karena kalian tak akan bisa berlama-lama marah. Karena kehangatan keluarga kita ini, begitu sangat membuat banyak orang iri. Percayalah ini keluarga kedua yang begitu menyenangkan hati. 

5. 18 Juni 2015 lalu kita berpisah.

Kebersamaan kita harus berakhir karena masa pengabdian kita telah habis di Desa Kalisongo. Namun kepergian kalian satu per satu meninggalkan posko ini, begitu memberikan sedikit guratan di hatiku hingga memicu sisi sedihku muncul. Kalian pergi dan pamitan pulang dengan meninggalkan bekas air mata. Lalu sekarang, saat posko ini sepi, aku mulai merasakan rindu yang hebat. 

Dinding bisu posko seperti memberi isyarat bahwa kalian harus kembali. Namun semua tak lagi sama. Kita harus berpindah pada aktivitas baru, namun dengan rasa kekeluargaan yang sama. Jabat tangan yang begitu erat seolah tak ingin lepas, memberikan aku jaminan bahwa keluarga ini tak akan sampai di sini saja. Kalian memberikan banyak kesan.

Terima Kasih Keluarga KKN Desa Kalisongo, Kec. Dau, Kab. Malang. Sebagai pendatang di tanah Jawa, aku merasa punya keluarga.