Kisah Kemerdekaan Bangsa Indonesia selalu diceritakan dengan patriotik untuk menumbuhkan rasa cinta pada tanah air. Seperti kisah arek-arek Suroboyo di pertempuran 10 November, Bandung Lautan Api, sampai pertempuran merebut Kota Jogja yang sangat legendaris. Namun, cerita-cerita heroik itu baru terjadi setelah Proklamasi Kemerdekaan. Ada beberapa momen di sekitar Proklamasi yang tidak banyak diketahui. Karena memang terlalu detail, namun tetap ada unsur heroiknya meski tak sepatriotik cerita di atas.

Indonesia sebenarnya tidak terlibat langsung dalam Perang Dunia 2, yang terlibat adalah Sekutu yang terus mendesak Jepang di kawasan Pasifik. Setelah Jepang menyerah, terjadi kekosongan kekuasaan di wilayah jajahannya. Bangsa Indonesia pun segera memanfaatkan momentum itu untuk segera memproklamasikan Kemerdekaan. Penulis sudah merangkum beberapa cerita menarik seputar Proklamasi Kemerdekaan yang tidak banyak diketahui publik. Cerita menarik apa sajakah itu?

1. Pertemuan dengan Panglima tertinggi Jepang dan janji Kemerdekaan

Pahlawan Indonesia via http://www.bimbeldt.com

Hampir seluruh kepulauan Pasifik telah direbut sekutu, dan posisi Jepang terus terdesak. Pesawat-pesawat sekutu makin leluasa membombardir mainland Jepang. Kekalahan Dai Nippon tinggal menunggu waktu saja. Di saat itulah terbesit keinginan negeri Sakura ini untuk memerdekakan negara-negara jajahannya.

Pada 8 Agustus 1945, Soekarno-Hatta berangkat menemui Panglima tertinggi Angkatan perang Jepang di Asia Tenggara, Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam. Mereka membahas janji dan persiapan kemerdekaan untuk bangsa Indonesia yang telah sukses menggelar sidang BPUPKI sebagai langkah awal persiapan kemerdekaan.Tentu saja wajah Soekarno dan Hatta berseri-seri karena bangsanya akan merdeka. 

Namun, raut wajah mereka berubah saat hendak pulang karena pesawat yang mereka tumpangi bukan lagi pesawat penumpang tapi pesawat tempur yang banyak lubang hantaman peluru di sana sini. Terlebih tidak ada toilet di dalamnya. Alhasil Bung Karno yang kebelet buang air mencoba kencing di lubang-lubang pesawat. Tapi karena tekanan udara yang sangat kuat membuat air kencing itu malah berbalik mengguyur seisi ruangan pesawat. Lebih ironis lagi karena ini pesawat fighter yang sah ditembak musuh, mereka kini dalam bayang-bayang Sekutu yang sewaktu-waktu dapat menyergap atau menembak jatuh mereka. Apalagi sebagian wilayah Asia Pasifik sudah dikuasai Sekutu. Tentu ini penerbangan yang sangat berbahaya. Jika Soekarno-Hatta tak pulang berarti mereka tertembak musuh. Syukurlah mereka bisa pulang ke rumah dengan selamat dan menjadi aktor utama dalam sejarah berdirinya Republik Indonesia. Sungguh penuh ujian dan perjuangan.

2. Tan Malaka, Proklamator?

Advertisement

Kita semua sudah tahu bahwa Ir.Soekarno dan Drs.Moh.Hatta adalah Proklamator Kemedekaan Bangsa Indonesia. Namun, pernahkah kita berpikir siapa yang pantas memproklamasikan Kemerdekaan jika bukan Soekarno-Hatta? Nama Tan Malaka mungkin kurang familier bagi sebagian generasi muda. Tapi Beliaulah yang pertama kali memperkenalkan konsep Negara Republik Indonesia dalam bukunya "Naar de Republiek" jauh sebelum Soekarno-Hatta.

Tan Malaka seorang yang jenius. Ia aktivis, penulis buku-buku yang dipelajari sebagai dasar perlawanan terhadap penjajah. Dampaknya, ia harus sering berganti-ganti identitas, berpindah-pindah negara karena menjadi buronan intelijen, baik Belanda maupun Jepang. Garis perjuangannya berbeda dengan Soekarno yang lebih transparan di permukaan dengan orasi dan pidatonya yang berapi-api. Sehingga pemimpin yang identik dengan peci hitam inilah yang dicari pemuda untuk segera memproklamasikan Kemerdekaan setelah terjadi kekosongan kekuasaan karena Jepang kalah perang. 

Tapi Soekarno tidak segera melakukannya karena ia masih menunggu janji Kemerdekaan dari Jepang. Selain itu ia tidak mau memproklamasikannya tanpa PPKI. Karena Soekarno terlalu kompromis, Sjahrir sebenarnya sudah mencari Tan Malaka tapi tidak ketemu. Kalau Tan Malaka yang membacakan teks Proklamasi, maka setidaknya itu akan menghindari tuduhan sebagai kolaborator Jepang dan murni bukan hadiah dari Jepang. 

Namun, di waktu yang sangat mendesak seperti itu. Pilihan Soekarno dan Hatta dianggap yang paling tepat karena mereka populer dan dapat di percaya pemuda serta rakyat, sedangkan Tan Malaka lebih banyak melakukan perjuangan dari bawah tanah. Sehingga namanya kurang terangkat, namun jasanya tetap luar biasa bagi bangsa. Tan Malaka sendiri akhirnya berakhir tragis dengan dibunuh tentara bangsanya sendiri di tahun 1949.

3. Proklamasi Kemerdekaan tidak berlangsung di tempat terbuka

Rapat raksasa Ikada via https://www.konfrontasi.com

Merdeka lepas dari segala penjajahan itu ibaratnya memenangkan piala Dunia. Harus dirayakan di jalan-jalan kota dengan penuh suka cita atau sambil konvoi dan pesta kembang api. Tapi suasana Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 belum mengizinkannya. Meskipun Jepang telah menyerah kalah, mereka masih pegang senjata dan sewaktu-waktu bisa membubarkan acara dengan kekerasan. Karena itu Proklamasi tidak dilangsungkan di tempat umum seperti rencana semula yaitu di Lapangan Ikada, melainkan di kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur no.56 Jakarta.

Adalah Perwira Tinggi Angkatan Laut Jepang, Laksamana Tadashi Maeda yang menghargai semangat dan cita-cita mulia Bangsa Indonesia untuk segera merdeka. Maka dari itu ia menyediakan tempat tinggalnya untuk merumuskan naskah Proklamasi serta menjamin keselamatan Soekarno-Hatta. Walaupun konsekuensinya ia bisa mendapat hukuman berat dari institusinya, tapi Maeda meyakini bahwa Kemerdekaan Indonesia harus segera dicapai dan harus murni tanpa campur tangan Jepang. Sungguh mulia tekad Maeda walau hukuman itu akhirnya menghampirinya. Ia dijebloskan ke penjara oleh Sekutu karena dianggap membantu mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia. Sepulang ke Jepang, hukuman dari Mahkamah Militer Jepang juga telah menantinya. Tadashi Maeda di hari tuanya memutuskan keluar dari militer dan memilih menjadi rakyat biasa.

Kembali ke suasana detik-detik Proklamasi yg berlangsung secara sederhana, meski ratusan tahun masa penantiannya. Barulah pada 19 September 1945, ratusan ribu massa membanjiri Lapangan Ikada untuk meminta kejelasan Kemerdekaan kepada para pemimpin nasional serta membulatkan tekad untuk mempertahankan Kemerdekaan tersebut. Presiden Soekarno lalu meyakinkan rakyatnya bahwa segenap pemimpin akan tetap mempertahankan Kemerdekaan bagaimanapun carannya. Rakyat lalu bubar dengan suasana damai, merdeka, dan gegap gempita.

4. Foto-Foto Proklamasi yang bersejarah

Foto paling bersejarah via http://wikipedia.com

Karena keadaan yang belum memungkinan. Proklamasi Kemerdekaan berlangsung secara sederhana, bahkan tidak ada wartawan yang meliput momen bersejarah tersebut. Adalah Franz Mendur dan Alex Mendur, dua orang kakak beradik yang sadar cuma mereka fotografer di acara Proklamasi tersebut. Ada 3 momen penting yang mereka foto, yaitu saat pembacaan teks Proklamasi, pengibaran bendera merah putih, dan suasana para pemuda yang menghadiri acara Proklamasi Kemerdekaan tersebut. Tidak seperti sekarang setelah habis foto bisa langsung diunggah ke media sosial atau dibikin Insta story. Pada waktu itu foto perlu dicetak terlebih dulu. Dan perjuangan Mendur bersaudara tidaklah mudah, mereka harus kejar-kejaran dengan tentara Jepang.

Setelah tertangkap, Tentara Jepang langsung memusnahkan foto-foto bersejarah yang momennya tentu tak bisa diulang kembali. Beruntung, Franz Mendur masih memiliki klise foto yang ia kubur di bawah pohon untuk mengecoh Jepang. Meskipun klisenya selamat, ia masih harus berjuang mencuci dan mencetaknya. Kalau sampai ketahuan Jepang ia bakal dihukum mati. Syukurlah foto-foto tersebut bisa dicetak. Dan sampai sekarang terus diperbanyak dan muncul di buku-buku pelajaran sekolah.

5. Penyebaran berita Proklamasi

Di era modern seperti sekarang, suatu berita bisa langsung menyebar dengan cepat atau viral melalui internet. Tapi di tahun 1940-an belum ada yang punya TV apalagi mediasosial. Jadi, bagaimana cara agar berita Proklamasi bisa menyebar dengan cepat? Adalah Yusuf Ronodipuro, seorang penyiar radio yang di kenal pula sebagai Bapak RRI. Saat itu Yusuf masih berada di gedung kerjanya karena tidak diizinkan keluar oleh Kempeitai atau Polisi Jepang. Sedangkan di luar, entah bagaimana carannya seorang utusan Adam Malik bernama Syahrudin bisa menembus penjagaan Kempeitai dan memerintahkan Yusuf untuk membacakan berita Kemerdekaan Indonesia.Tapi masalahnya, studio siaran tidak terhubung lagi dengan pemancarnya. 

Di saat mereka sedang kebingungan, ada seorang teknisi yang dapat mengakalinya sehingga pemancar bisa terhubung kembali. Nah, masalah belum selesai di sini, justru inilah masalah terbesarnya. Jika sampai Militer Jepang tahu, mereka pasti akan menghukum mati Yusuf di tempat. Setelah cukup lama berdiskusi, seorang kawan Yusuf, Bachtiar Lubis memiliki ide untuk memakai saja ruang siaran luar negeri yang ditutup Jepang pada 15 Agustus 1945. Kebetulan ruang itu tidak dijaga. Setelah diutak-atik sedemikian rupa, beritanya ternyata sukses tersiar ke dalam negeri. Tapi celakanya seorang Perwira tinggi Kempeitai tahu dan hampir saja Yusuf dan Bachtiar ditebas dengan katana. Untungnya seorang Kolonel Jepang datang menyelamatkan mereka dengan alasan ia memiliki kesamaan selera seni dengan Yusuf. Meski terdengar agak konyol, yang penting Yusuf selamat dan berkat perjuangannya dan rekan-rekannya, berita Proklamasi menyebar ke seluruh penjuru negeri, lalu disiarkan ulang oleh radio-radio luar negeri. Sehingga dunia tahu bahwa Bangsa Indonesia sudah merdeka dan berhak diakui kedaulatannya.

 

Cerita di balik Proklamasi yang jarang kita dengar, namun jadi sejarah yang patut dikenang. Semoga kita sebagai warga negara Indonesia mampu mempelajari sejarah bangsanya sendiri, ya.