Siapa bilang pasar tradisional tidak punya daya tarik? Salah satu daya tarik yang menurut saya layak untuk menjadikan pasar tradisional wajib dikunjungi adalah kuliner. Karena perlu diketahui, bahwa beberapa kuliner enak dan maknyus di kota Yogyakarta ini berada di dalam pasar tradisional. Mulai dari makanan khas hingga masakan yang luar biasa lezat ada di dalam pasar.

Nah, beberapa hari ini saya menyempatkan waktu untuk mengunjungi beberapa pasar yang memiliki kuliner yang menurut saya layak untuk dikunjungi. Mulai dari segi kebersihan, unik hingga yang sudah menjadi ciri khas. Di mana sajakah itu? Berikut ini adalah beberapa di antaranya.

1. Kue Lupis dan Jajanan Tradisional – Pasar Talok

Pasar Talok yang berlokasi di kecamatan Gondokusuman ini tergolong pasar yang memiliki luas area kecil. Namun jangan salah, pasar Talok adalah salah satu pasar favorit masyarakat karena kebersihan pasarnya. Luas yang tidak terlalu besar membuat pengelolaan kebersihan pasar terjamin. Nah, didalam pasar Talok ini terdapat penjual jajanan tradisional yang menjajakan dagangannya rutin. Yang menjadi fokus pencarian saya adalah kue lupis.

Kue lupis adalah panganan yang terbuat dari beras ketan. Penyajiannya menggunakan toping gula merah dan kelapa parut. Terkadang sebagian orang menemani camilan kue lupis dengan ketan hitam. Jika lagi nyidam kue lupis ini, saya mampir ke pasar Talok karena dekat dengan kantor saya. Bu Soro, sang penjual kue lupis selalu sigap melayani pesanan pembeli.

Tidak perlu mengeluarkan biaya yang mahal untuk menikmati jajanan tradisional ini. Untuk kue lupis saja saya hanya meminta dibungkus seharga Rp 3.000 saja. Dan Rp 2.000 untuk ketan hitam. Cukup murah untuk sarapan bukan. Lokasi pasar Talok memang sedikit mblusuk, namun area pasar yang tidak terlalu luas tentunya memudahkan kita untuk menemukan kue lupis Bu Soro ini.

2. Sensansi Soto Gobyos Bu Hadi – Pasar Patuk

Advertisement

Mau mencoba sensasi sarapan yang anti-mainstream? Di pasar Patuk yang terkenal dengan sentra oleh-oleh bakpia ini terdapat warung tenda yang menjual soto unik. Soto Gobyos Bu Hadi/Bu Teler adalah nama warungnya, berlokasi di barat pasar Patuk tepatnya di sebelah pojok utara. Kenapa dinamakan Soto Gobyos? Karena makan soto ini keringat akan bercucuran oleh sensasi pedasnya. Dalam bahasa jawa gobyos berarti berkeringat lebih.

Yang membuat kita gobyos karena memakan soto ini adalah uleg'an cabe yang terdapat di mangkuk soto. Jadi, sebelum Bu Hadi meracik soto gobyos, pembeli akan ditanya pedas atau tidak. Jika menjawab iya, maka kita akan ditanya lagi soal berapa cabe yang akan diuleg di mangkuk. Sekilas, mirip bakso lombok uleg khas Temanggung. Cabe yang langsung diuleg di mangkuk membuat rasa pedas langsung terasa saat soto diaduk.

Pertama kali mencoba walau hanya dua cabe membuat keringat saya cukup bercucuran. Beberapa orang yang kebetulan bebarengan mencoba soto ini meminta minimal tiga cabe untuk sotonya. Saya dua saja cukup berkeringat, apalagi lebih, langsung tergobyos-gobyos pastinya. Kata Bu Hadi beliau baru sekitar dua tahun berjualan soto yang unik ini. Sebelumnya beliau berjualan Es Teler yang kemudian diwariskan kepada anaknya. Oh, saya baru sadar mungkin itu alasan kenapa spanduk soto Bu Hadi juga bernama Soto Gobyos Bu Teler.

3. Jenang Gempol Legendaris – Pasar Lempuyangan

Jenang Gempol via http://www.ardiankusuma.com

Katanya, jenang gempol pasar Lempuyangan ini cukup legendaris. Saya beruntung karena saat saya mencari penjual jenang tersebut sedang buka. Beberapa minggu yang lalu kata sebagian orang penjual jenang tutup karena suatu alasan. Jenang didalam pasar Lempuyangan ini baru buka paling awal pukul 09.00 pagi. Jadi kondisi pasar sedikit berkurang keramaiaannya. Namun untuk pembeli jenang ini malah yang semakin ramai.

Jenang pasar Lempuyangan banyak dicari. Yang favorit memang adalah jenang gempolnya. Saya kesini untuk merasakan jenang gempol dan jenang mutiara. Jenang gempolnya gurih, dengan kuah santan yang segar. Selama saya makan jenang gempol, jenang gempol pasar Lempuyanganlah yang menurut saya paling maknyus. Untuk jenang mutiara walau teksturnya menggoda dan aroma yang harum, rasa menurut saya kurang.

Mbak Nova menjadi penjual jenang gempol yang sekarang ini. Pukul 10.00 pagi saya kesini, porsi jenang yang berada di wadah sudah hampir habis. Berarti jenang ini begitu laris terutama jenang gempolnya. Cukup membayar Rp 4.000 saya dapat menikmati seporsi jenang dengan rasa begitu mewah.

4. Berburu Kipo dan Jajajan Pasar di Pasar Kotagede

Jajanan pasar dan pasar kotagede adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Sewaktu kecil, jika ibu saya mencari snack untuk arisan atau kumpulan RT selalu menuju pasar Kotegede. Dari pagi hingga sore pasar kotagede komplit stok jajanan pasarnya. Kalau pagi, masuk pasar maka berjejer jajanan pasar akan kita temui. Sorenya, di barat pasar sebagian warung baru buka, komplit juga dengan jajanan pasarnya.

Yang menjadi khas dari jajanan pasar kotagede adalah kue kipo. Kipo ini terbuat adonan tepung beras ketan yang didalamnya diisi parutan kelapa dan gula jawa. Kipo dimasak dengan cara dipanggang di atas wajan yang terbuat dari tanah liat. Rasa dan aroma kipo sangat khas, karena ada perasan daun suji, kelapa, gula dan daun pisang.

Harga kipo sangat terjangkau. Saya membeli kipo disalah satu penjual yang bernama Pak Sri dengan harga Rp 1.700/bungkus. Bayar Rp 10.000 saya mendapat 6 kipo lezat dari Pak Sri ini. Lokasi jualan Pak Sri tepat setelah pintu masuk utama. Namun jangan ragu untuk menjelajah dan mencoba penjual lain karena begitu banyaknya penjual kipo dan jajanan pasar di pasar kotagede ini.

5. Menyantap Sego Empal dan Iso Bu Warno di Tengah Pasar Beringharjo

Demi kuliner yang satu ini saya rela blusukan sampai jantung pasar Beringharjo. Pasar Beringharjo yang luas saya jelajahi demi sepiring sego empal yang konon terkenal lezat ini. Sego empal Bu Warno memang berada di dalam pasar. Sangat cocok untuk tempat singgah wisatawan yang berkunjung di pasar Beringharjo, sambil menikmati suasana ramah warga Yogyakarta.

Empal adalah kuliner dari daging sapi yang dibumbui dan kemudian di goreng, begitu juga dengan iso yang juga berasal dari usus sapi. Beberapa hari lalu saya mengunjungi warung Bu Warno untuk merasakan empal dan isonya. Benar apa yang tersiar oleh kabar. Daging empal racikan Bu Warno memang maknyus. Isonya pun tak kalah lezat. Iso begitu kenyal dimulut yang membuat nasi panas dan sambal langsung begitu cepat ludes.

Sego empal Bu Warno dihargai Rp 17.000 dan iso dihargai Rp 11.000, sepadan dengan rasa yang didapat. Jika ingin membeli kiloan untuk buah tangan, warung Bu Warno siap melayani. Selain iso Bu Warno juga menyediakan babat dan koyor, serta sayur pendamping dengan pilihan sayur asem atau sayur lodeh. Makan di warung Bu Warno cocok di saat jam makan siang saat semua lauknya masih komplit.

Nah, beberapa pasar diatas hanya sebagian dari pasar tradisional di kota Yogyakarta yang memiliki kuliner memikat. Jadi jangan ragu untuk blusukan di pasar tradisional kota Yogyakarta. Ayo kita ramaikan pasar tradisional sehingga pasar tradisional semakin baik. Ayo, Blonjo Menyang Pasar!