Buat kalian pecinta novel pasti kenal sama Dee Lestari, salah satu novelis perempuan yang karya-karyanya nggak perlu diragukan. Gaya penulisan Dee yang unik dan ngena banget nggak jarang bikin novelholic baper maksimal. Dee peka dengan perasaan pembacanya. Dia paham kapan harus memberikan penekanan kalimat, juga paham kapan harus berhenti. Nah, di Filosofi Kopi-nya yang berisi kumpulan cerita dan prosa kamu bakal nemuin pelajaran hidup lewat kalimat yang ngena banget kaya gini nih!

 

1. Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya.

nothing is perfect

nothing is perfect via http://www.online-instagram.com

Tak ada yang sempurna dalam hidup. Kamu tidak akan mencapai kesempurnaan, karena sejauh apapun kamu mencari justru kesempurnaan adalah saat kamu menerima ketidaksempurnaan. Mungkin bagimu hidup terasa sempurna ketika kamu berhasil meraih apapun yang kamu inginkan. Tapi nyatanya, saat kamu berhasil meraihnya pun, hidupmu masih belum sempurna. Jalanilah hidup apa adanya. Karena hidup memang indah begini adanya.

2. Bila kau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan.

Mungkin kadang kita terlalu serakah. Atau mungkin terlalu bimbang harus memilih padahal tak ada yang ingin dilepaskan. Melepaskan salah satu memang menyakitkan padahal kau ingin dua. Tapi memegang erat dua-duanya jauh lebih menyakitkan. Tegaslah. Kalau mau satu jangan ambil dua!

3. Membuka diri tidak sama dengan menyerahkannya.

membuka diri untuk oranglain

membuka diri untuk oranglain via http://handmut.blogspot.co.id

"Tahukah engkau bahwa cinta yang tersesat adalah pembuta dunia? Sinarnya menyilaukan hingga kau terperangkap, dan hatimu menjadi sasaran sekalinya engkau tersekap. Banyak garis batas memuai begitu engkau terbuai, dan dalam puja kau sedia serahkan segalanya. Kunci kecil itu kau anggap pemberian paling berharga."

Girls, kamu boleh membuka diri tapi jangan serahkan semuanya. Simpan harta paling berhargamu untuk orang yang tepat. Dan orang yang tepat tidak akan memaksakan dirimu menyerahkan diri diwaktu yang tidak tepat.

4. Jembatan yang rendah hati, bukan kesombongan diri.

Kadang kita merasa lebih tahu banyak hal ketimbang anak kecil. Padahal  bertambahnya usia bukan berarti kita tahu segalanya. Kita mungkin tahu rasanya kebebasan bisa bepergian keluar kota sendirian tanpa seorangpun melarang. Tapi kita tidak pernah tahu (lagi) rasa bahagia anak kecil yang bisa main petak umpet di ruang tamu. Setiap fase usia memiliki kapasitasnya sendiri untuk melihat sesuatu. Sikapi dengan bijak, bukan dengan kesombongan.

5. Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.

Nah, kalo kalimat yang ini ada di bagian favorit saya yang judulnya "Spasi". 

"Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti bila tak ada spasi?

Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali. Jiwa tidaklah dibelah, tetapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi, jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring."

 

Gimana? Ngena banget kan?