Ini bukan tentang kisah cinta yang berakhir bahagia. Untuk yang kesekian kalinya, aku gagal membina sebuah hubungan. Hubungan yang sudah hampir bermuara di tempat yang seharusnya. Tapi Tuhan berkata lain. Perjalanan panjang ini akhirnya berakhir, meski tak seperti yang dinginkan. Cinta adalah cinta. Sampai hari ini masih belum ada definisi pasti untuk kata itu.

Dua tahun bukan waktu yang sebentar untuk bersama. Kita saling berusaha memperbaiki diri, bertahan, dan berjuang dengan segala macam usaha. Kita gagal bukan karena jarak ribuan kilometer yang ada di depan kita, melainkan karena ada satu hal yang tidak bisa dipaksakan. Jadi, tenanglah kalian yang merupakan bagian dari LDR! Jarak bukanlah masalah utama. Semoga menginspirasi.

1. Ada kebahagiaan yang tak bisa diukur dengan uang. Bersyukurlah agar kita selalu merasa cukup.

Things can’t buy in stores via https://c1.staticflickr.com

Sayang, ingatkah kamu dulu ketika aku menegurmu karena meributkan harga tiket pesawat yang mahal? Ketika rindu pada ibu, ayah, dan keluargamu tak mampu kamu bendung lagi. Lalu kamu memutuskan untuk pulang di Lebaran tahun lalu. Ingat?

Kamu: “Kalo aku pulang tanggal segitu, terus harus transit dulu, nanti cuma punya waktu di rumah sebentar. Bisa sih engga transit, tapi tiketnya lebih mahal.”

Aku: “Itu event lebaran. Jadi wajar kalau lebih mahal. Segala sesuatu yang kita pilih pasti ada resikonya.

Kamu: “Ya kalo ada cara lain, kenapa gak dicoba? Jangan pasrah tanpa usaha lain!”

Aku: “………………………..”

Hari itu, yang ada di kepalaku adalah kamu mulai berhitung untuk bahagiamu. Maaf sayang, karena malam itu aku hanya diam. Harusnya aku menegurmu jauh lebih keras agar tak terulang lagi. Dan malam kemarin kamu mengulanginya. Kamu ributkan lagi tiket pesawat yang mahal untuk sebuah pertemuan yang seharusnya berarti untuk KITA.

Advertisement

Aku tahu pekerjaanmu sangat menyita waktu yang kamu punya untuk orang-orang yang kamu sayangi. Aku tahu bahwa mencari uang itu tak mudah. Menyiapkan waktu untuk KITA sangatlah sulit. Aku tahu. Sekali lagi aku katakan, bahwa ada macam bahagia yang tak bisa diukur dengan uang. Harusnya kita lebih bersyukur meski pertemuan itu hanya empat jam.

Tapi jika itu lebih berkualitas, akan jauh lebih nikmat ketimbang keinginanmu untuk melewatkan malam minggu bersama. Manusiawi kok kalau manusia selalu merasa kurang dan tidak cukup. Aku tidak menyalahkanmu.

2. Jangan lagi menyalahkan keadaan. Ini tentang kita yang tak mampu mengendalikan keadaan.

fight in relationship via http://datelicious.com.au

Maaf sayang! Ternyata aku belum mampu menerima kekuranganmu. Kamu bilang bahwa keras kepalamu, egoismu, emosimu bukanlah karakter melainkan karena kebiasaan di lingkungan yang keras. Padahal aku yakin bahwa karaktermu memang seperti itu. Begitu banyak penjelasan yang kamu berikan untukku. Dari mulai terdidik keras, tekanan dari atasan, hingga ratusan karyawan yang susah dikendalikan. Lalu kamu sebut itu bukanlah karakter dan itu tak cukup melegakan hatiku. Dan sekali lagi, kamu menyalahkan keadaan.

Memang benar. Dewasa itu tak memandang usia. Kamu yang kutuakan, nyatanya belum mampu mengendalikan diri. Tiap manusia pasti egois, keras kepala, dan penuh dengan emosi. Yang membedakan dengan manusia lainnya adalah kadarnya. Ada yang sangat banyak egoisnya, ada yang sedikit egois, dan keras kepalanya. Itu semua tergantung dari bagaimana cara kita mengontrol dan mengendalikan diri.

Hari itu, kamu begitu keras. Bahkan aku sampai tidak bisa membedakan antara keinginan dengan ego, atas pertemuan kemarin. Maaf untuk pertemuan yang tidak menyenangkan kemarin. Aku tidak menyalahkanmu atas ego dan kerasmu.

3. Apa yang sudah kamu lakukan untukku?” Setelah bertahun-tahun dengan segala macam usaha, untuk memilihku pun kamu tak bisa?

Sayang, sungguh malam itu aku terluka sekali. Maaf jika usahaku tak sekeras usahamu. Aku hanya bisa menunggumu tanpa tahu pasti kapan datangnya. Selama dua tahun ini, aku hanya berdiam diri dan sibuk dengan kegiatan, teman, dan pekerjaan agar aku lupa bahwa aku sedang menunggu. Maaf. Bahkan usaha sekecil untuk memilihmu di hari itu daripada bos dan pekerjaanku pun, aku tak mampu.

Maaf jika aku lebih mementingkan pekerjaanku dari pada pertemuan kita. Padahal aku sangatlah tahu betapa inginnya kamu untuk melepas rindu dan kamu pun tahu sekali jika hari itu aku masih sibuk dengan pekerjaanku. Padahal kita masih memiliki hari minggu yang panjang untuk dilewati. Masih ada sepuluh hari ke depan yang bisa kita habiskan bersama. Sungguh aku tak benar paham tentang inginmu pada hari itu.

Aku sudah berusaha tidak merengek dan memintamu pulang sesegera mungkin. Aku sudah berusaha bertahan dengan jarak. Aku sudah berusaha belajar memasak. Aku juga sudah berusaha menjaga hati dan lisanku. Aku berusaha menjadi wanita yang bisa kamu andalkan. Mungkin itu saja belum cukup. Sengaja tak pernah bicara padamu, aku ingin membuat kejutan kecil untukmu. Ketika kamu pulang, ternyata aku sudah siap dan layak untukmu.

Sudahlah! Aku tidak mau berhitung seberapa besar usahamu atau usahaku. Karena rasanya jadi tidak tulus. Tapi sekecil apapun usaha yang kita lakukan, jika itu dari hati, maka akan sampai ke hati. Bukankah begitu? Sayang, aku tidak menyalahkan kamu atas usaha kecilku yang tak terlihat itu.

4. Pertemuan untuk perpisahan. Kehilangan itu nyata, iya kan?

Setelah pertemuan di hari minggu, maaf aku menghindar dari kamu. Aku mencoba untuk meredam sedih, amarah, dan kecewa ini. Sosok laki-laki pelindung yang selalu sabar menghadapiku, tak kusangka berubah menjadi laki-laki penuh emosi, amarah, ego, dan semakin keras. Dua tahun tak bertemu, ternyata banyak yang berubah.

Ketika mata bertemu mata, tak sedikitpun kamu berikan senyum. Kamu hanya memasang mimik kecewa di pertemuan kita kemarin. Aku kira kamu sudah mulai membaik. Aku kira kamu sudah mulai lupa. Aku kira kamu bahagia atas pertemuan kita yang sudah lama dinanti. Ternyata, aku salah! Maaf sayang atas kecewa yang telah kuperbuat.

Segala sesuatu bisa saja terjadi, bukan? Aku bertanya-tanya, apakah aku sudah berusaha untuk mengerti tapi kamu belum lihat itu? Atau apa kamu sudah berubah, tapi aku yang belum bisa melihat itu? Keputusan yang sulit, saat aku harus memilih berhenti bertahan dengan kamu. Kamu tahu? Ada rasa sakit saat tahu kita sedang melukai orang yang kita sayang? Kamu tahu itu kan?

Sekarang aku berhenti berlari. Aku tidak mau lagi membuatmu terluka. Kehilangan itu nyata. Selalu seperti itu. Entah kehilangan karena cinta yang lain atau karena Tuhan telah memanggilmu. Berakhir di pelaminan atau di perpisahan. Perpisahan karena berbeda visi atau karena kematian. Bukankah rules-nya memang seperti itu?

Kamu dibuatnya jatuh hati, berjanji setia sehidup semati. Kemudian dilukai untuk bahagia yang tak pasti. Tapi aku percaya di luar sana, ada banyak pasangan yang benar-benar bahagia karena cinta yang pasti. Karena Tuhan menciptakan makhluknya secara berpasangan. Jadi, tak perlulah takut!

5. Maaf. Tolong beri aku kesempatan lagi!

Satu kata yang bisa diucapkan setelah pertengkaran kemarin adalah MAAF. Aku memaafkanmu. Aku belajar menjadi manusia pemaaf. Tapi jika kamu meminta kesempatan lagi, aku tidak bisa. Aku tidak yakin bisa bertahan tanpa kamu. Tapi aku jauh lebih tidak yakin jika harus bertahan dengan kamu yang seperti ini. Aku terluka atas kerasmu. Bahkan untuk bertemu pun, aku tak mampu.

Bukan kamu atau keadaan yang salah. Aku yang belum cukup mengerti dan belum bisa menerima kekuranganmu. Bukan hanya kita yang kecewa akan perpisahan ini. Mereka pun kecewa. Ibu dan ayahmu begitu. Pun dengan mama dan ayahku. Mereka sama kecewanya. Kamu laki-laki yang diandalkan oleh mereka untuk menjaga dan membahagiakanku kelak. Tapi ternyata Tuhan berkata lain. Kita memang tak tahu ujungnya akan seperti apa, tapi percayalah rencana Tuhan selalu lebih indah.

Aku belajar dari perpisahan ini. Ada hal yang tidak bisa kita paksakan. Dan mungkin ini cara Tuhan untuk meyakinkan aku sebelum aku berkata “Iya, aku memilihmu sebagai pendamping hidupku.” Cara Tuhan memang tidak bisa ditebak. Aku melepaskan kamu, kamu sudah boleh memilih bahagia yang lain. “Ada yang harus dilepaskan agar tahu rasanya lega. Ada yang harus hilang agar tahu rasanya sesal.” Kalimat itu terasa benar adanya.

Terimakasih untuk waktu yang pernah ada. Untuk sabar atas penantian, untuk bahagia yang pernah tercipta. Terimakasih.

Jadi, ada macam bahagia yang tak bisa diukur dengan uang. Ada hal yang tidak bisa dipaksakan. Meski aku mampu bertahan, tapi hatiku berkata lelah. Dan apa yang dari hati akan sampai ke hati. Sekecil apapun usaha pasangan kalian, jika itu dari hati, maka kamu akan melihat dan merasakannya. Tiap manusia itu pasti keras dan memiliki ego. Yang berbeda hanya kadarnya.

Kita harus bisa mengendalikan itu. Jangan mau kalah dengan keadaan. Jika usia pasanganmu jauh lebih muda, cobalah sesekali untuk mendengar. Karena dewasa ternyata tak bisa dilihat dari usia. Absolutely, rencana Tuhan selalu jauh lebih indah. Jangan takut jika sampai hari ini masih sendiri! Tuhan telah menciptakan kita secara berpasangan.