Sebagian orang bahwa uang yang banyak dapat dicari di Ibukota. Merantau…

Ya itu pilihannya. Alasan desakan ekonomi atau keinginan untuk mencari pengalaman adalah menjadi yang utama. Banyak pengorbanan yang harus dilakukan untuk merantau. Salah satunya adalah berpisah dari orang-orang yang dicintainya.

 

1. Mencari uang tidak harus bekerja di Ibukota. Kau dan aku berpikir dahulu di mana kita akan bertempat tinggal untuk membangun keluarga.

membangun keluarga adalah impian kita berdua

membangun keluarga adalah impian kita berdua via http://learninglives.org

Boleh saja ketika salah satu dari kau dan aku bekerja di luar kota. Yang terpenting satu lainnya juga memikirkan tempat tinggal setelah menikah nanti. Apakah akan tinggal di Ibukota atau di kota Jogja? Aku tak resah dengan seberapa besar penghasilan yang kudapatkan di sini dari aku bekerja sebagai pendidik Sekolah Dasar.

Setidaknya, ketika kamu sudah pulang dari Ibukota nanti, aku tak memulai dari nol untuk mencari penghasilan. Berjuanglah dulu di Ibukota, di sini aku ingin mulai ide kita untuk membuka usaha sampingan untuk tabungan di masa depan.

“Dik, adanya Mas di Jakarta, Mas tetap ingin pulang ke Jogja.”

2. Merantau itu pilihan, bukan karena ada seseorang di sana.

merantau itu pilihan

merantau itu pilihan via http://google.co.id

Kekasih, aku tak ingin menjadi anak manja yang terpenjara dalam hiruk pikuk Ibukota sungguh merepotkanmu. Kamu benar, alasanku merantau karena ada kamu di sana bukan ide yang bagus. Aku yakin, kamu pasti akan berpikir 2x lipat lebih ekstra dari biasanya. Terlebih di bulan pertamaku bekerja yang notabene belum mendapatkan gaji.

Ya walaupun aku tetap diberi uang saku oleh orang tuaku, kamu pasti akan tetap memikirkan hal ini. Aih.., H-1 minggu tes kerja di Ibukota saja sudah membuat berat badanmu menurun, apalagi jika aku memaksakan kehendak untuk merantau? Maaf sayang, aku baru terpikirkan.

“Dik, aku tak pernah melarangmu untuk merantau. Tapi tolong, pikirkan lagi soal kondisi kesehatanmu. Kalau misalkan kita dekat, Mas nggak bisa memperhatikanmu 24 jam. Mas di Jakarta Selatan, kamu di Jakarta Timur. Tetap jauh diiik.”

3. Selalu terngiang kalimatmu “karena setiap perjalanan adalah pulang”.

ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi - kla

ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi - kla via http://google.co.id

Ya, aku tahu kamu akan pulang. Perjuanganmu untuk menyelesaikan studi S1-mu yang sempat tertunda membuatku selalu sabar setiap harinya. Hal itu seolah sudah menjadi alarm untukku ketika aku merasa putus asa kita berhubungan jarak jauh.

Putus asa ketika kita sama-sama saling sangat merindukan. Apalagi ditambah pengorbananmu setiap hari dibarengi dengan bekerja, masih selalu menyempatkan waktu setiap hari untuk menelponku sekedar untuk mengobrol tentang aktivitas kita masing-masing hari itu.

“Bagaimana dik, muridmu Ge***? Kalau muridmu yang namanya Ti**?” Aku pun sontak bercerita dengan bahagia tanpa jeda sampai-sampai minta maaf kalau aku cerewet. Buatku, kamu sungguh luar biasa.

“Sabar yo dik… Mas tak golek duit sik akeh nggo bali Jogja. Turahane nggo rabi. Hehee.. ” (Sabar ya dik… Mas cari uang yang banyak untuk pulang Jogja. Sisanya untuk nikah. Hehee..)

4. Atas nama jarak, kami mampu melawanmu!

seandainya jarak tiada berarti ... - Raisa (LDR)

seandainya jarak tiada berarti ... - Raisa (LDR) via http://instagram.com

Kami berada di tempat yang berbeda. Jika dibuat dalam satu layar kaca ketika pagi hari, setengah layar menggambarkan kamu yang sedang tertidur pulas karena lelahnya tuntutan pekerjaanmu untuk berkutat di depan layar komputer menyusun laporan keuangan di kantormu. Layar setengahnya lagi, aku yang sedang berdiri di depan kelas bersama murid-murid kesayanganku di Sekolah Dasar.

Ketika siang hari, kamu sedang makan siang di warung makan dekat kost langgananmu sedangkan aku bergegas memulangkan murid-muridku lalu pulang ke rumah untuk makan siang masakan ibuku. Tak terasa hari berganti sore hari, jika aku tak ada kesibukan aku tersenyum melihat layar telepon genggamku ada panggilan darimu.

Jarak, lihatlah! Kami mampu melawanmu. Sekuat apapun kau menghujam rindu pada kami, kami bisa menaklukkanmu. Tak pelak, selalu terdengar khasnya suara tawamu yang membuatku semakin rindu. Orang rumahku sampai terheran ketika aku selalu ngobrol denganmu via telepon setiap hari.

Hmmm… tetapi momen yang paling tidak sukai kau dan aku adalah ketika hendak menutup telepon. Waktu, kami ini masih sangat rindu. Kenapa engkau terus menghajar kami? Lagi-lagi aku akan sabar melalu hari demi hari seperti ini karena aku ingat 2 semester lagi kamu lulus dan kembali ke kotamu.

Kota Jogjaaaa… Aku selalu tak bosan mendengar kalimat penutupmu ketika telepon. Bukan kata-kata puitis nan romantis yang kau lontarkan tetapi kata-kata yang membuatku selalu ingat bahwa kita akan baik-baik saja, bahwa kita akan mampu melewati ini berdua.

“Dik, tanpa mengurangi rasa hormat, Mas tutup dulu ya telponnya. Mas mau siap-siap kuliah terus kerja. Kamu makan malam dulu terus siapkan bahan mengajarmu besok. Besok kita ngobrol lagi yaaa.. Dik, Mas sayaaaaang banget sama kamu. I love you, sak pol’e dik. (Aku cinta banget sama kamu dik)”

5. Aku bukan anak perantauan sepertimu.

kamu mendukung pekerjaanku, aku pun begitu

kamu mendukung pekerjaanku, aku pun begitu via http://facebook.com

Aku tegaskan, aku adalah anak rumahan yang perlu setiap hari bertemu dengan orang tuaku, kakakku dan adikku serta nyamannya suasana desaku. Sungguh berbeda denganmu. Kamu adalah laki-laki yang kuat, yang bisa jauh dari orang tuamu, nyamannya kota ini.

Kamu bisa melawan belantara kota Jakarta. Sedangkan aku? Mendengarkan klakson kendaraan yang berbunyi bersahut-sahutan di pagi hari saja rasanya sudah mau pecah saja kepalaku. Aku pun berpikir jauh lebih matang. Daripada aku berjarak jauh dengan banyak hal seperti keluargaku, hobiku, komunitasku), lebih baik aku berjarak jauh dengan satu hal yaitu kamu.

Maafkan aku, aku begini. Tetapi inilah yang terbaik. Aku ikut lega ketika kamu pun juga lega bahwa aku diterima kerja di kampung halaman. Itu artinya, kamu mendukungku sepenuhnya. Aku pun juga harus begitu, mendukungmu untuk menyelesaikan studimu.

“Dik, Mas lega kamu madep, karep, mantep dengan apa yang kamu pilih. Mas justru sedih jika kamu harus ke Jakarta karena keragu-raguan. Lakukan itu untuk kamu sendiri ya dik. Jangan karena Mas. Kalau seperti ini, Mas akan lebih lega lagi karena masih ada orang tuamu yang menjagamu. Mas mendukungmu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa di Perbukitan Menoreh.”

Sayang, jarak memanglah begini yang selalu menghujam kita dengan rindu. Semakin hari semakin rindu. Tetapi ketahuilah bahwa setiap pertemuan kita, aku merasa seperti jatuh cinta kembali. Jarak memanglah sungguh hebat.

Jarak membuatku jantungku berdegup lebih kencang dari keadaan normal ketika hendak menjemputmu di stasiun, senyum bahagia yang baru selalu menghiasi wajahku ketika melihatmu di pintu keluar dari kejauhan, dan tangis haru bahagia ketika detik-detik mampu memelukmu.

 

Untukmu, yang sedang berjuang di kota perantauan.

Darimu, gadismu yang menyandang status mantan calon anak perantauan.

Aku mencintaimu lebih dari yang aku ucapkan.