Seberapa besarkah kekuatan yang dibutuhkan oleh manusia agar sanggup menjalani hidupnya dengan baik? Kita tidak pernah tahu, namun yang jelas adalah potensi yang sudah kita miliki plus pertolongan dan bantuan Allah, kita dijamin akan sanggup menjalani hidup dengan beban sebesar apa pun.

Allah sudah menjamin hal ini, meski kekuatan manusia memang terbatas, tetapi semua beban yang kita hadapi masih berada di bawah kemampuan manusia itu.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. Al Baqarah: 286)

 

1. Saat Kekuatan Dirasa Kurang

Mungkin kita pernah merasakan bahwa kekuatan yang kita miliki itu kurang. Serasa beban terlalu berat seolah kekuatan kita tidak cukup untuk menjalaninya. Jika kita yakin dengan firman Allah di atas, jelas kekurangan yang kita rasakan hanyalah prasangka saja.

Saat kita merasa lemah, maka ingatlah ayat di atas. Yakinlah, bangunlah keyakinan pada diri kita bahwa potensi yang Allah berikan kepada kita sesungguhnya cukup untuk menghadapi beban yang kita pikul. Plus, kita masih bisa meminta bantuan dan pertolongan Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

2. Keyakinan Akan Kekuatan yang Semu

Kehidupan

Kehidupan via http://js.ugm.ac.id

Mungkin, banyak orang yang mengatakan bahwa dia tahu dan beriman dengan ayat di atas. Dia mengatakan bahwa dia pasti sanggup menghadapi semua beban sebesar apa pun. Dia mengatakan bahwa potensi manusia itu adalah dahsyat. Dia mengatakan bahwa dia yakin dengan pertolongan Allah.

Namun betulkah? Ini yang patut kita renungkan. Betulkah kita sudah yakin atau hanya dalam mulut semata?

Mari kita periksa, apakah diri kita sudah mencerminkan pribadi yang memiliki keyakinan yang mantap akan kekuatan yang dimilikinya?

3. Masihkah Kita Mengeluh Atas Kesulitan dan Beratnya Hidup?

Jika kita memang yakin dengan kekuatan yang kita miliki, kenapa harus mengeluh? Sebuah keluhan adalah pengakuan akan beratnya beban yang dihadapi. Keluhan adalah sebuah pengakuan bahwa kita merasa lemah tidak berdaya.

Jika kita merasa kuat, kenapa harus mengeluh? Jalani saja, terjang semua halangan dan rintangan. Semua itu akan diwujudkan dengan tindakan, bukan dengan kata-kata keluhan.

4. Tidak Memiliki Cita-cita yang Tinggi

Orang yang merasa lemah, dia tidak akan berani memiliki cita-cita yang tinggi. Hidupnya hanya untuk sekedar bisa berjalan saja, sebab apa yang ada dalam pikiran bawah sadarnya hanya sekedar bertahan.

Bertahan saja susah, kenapa harus memikirkan yang besar? Sudahlah tidak usah muluk-muluk, bisa makan saja sudah cukup. Dan sebagainya. Semua itu adalah gambaran bahwa kita merasa lemah.

5. Melepaskan Diri dari Beban yang Berat

Kehidupan

Kehidupan via http://gamesiana.com

Seperti tugas dakwah dan jihad. kita akan membayangkan bagaimana beratnya tugas dakwah dan jihad. Maka kita melepaskan diri dengan berbagai dalih bahwa kita tidak sanggup, kita sibuk, dan sebagainya.

Kalau pun kita berdakwah, kita hanya memilih yang ringan saja, yang tidak keluar dari zona nyaman kita. Ini adalah bagian saya, katanya. Saya hanya bisa melakukan hal ini. Sementara, kita menganggap tugas-tugas berat itu adalah tugas orang lain, bukan tugas kita.

Saat kita yakin bahwa dakwah dan jihad adalah sebuah kewajiban, kanapa harus memilih yang ringan-ringan saja? kita akan mengatakan, yang sesuai dengan kesanggupannya. Terbukti bahwa kita mengakui dirinya lemah. Kesanggupannya hanya sampai di sana.

6. Tergantung atau Menggantungkan Diri pada Kondisi.

Kita takut akan perubahan yang mungkin terjadi. Bagaimana jika perubahan akan merusak bisnisnya? Bagaimana jika perubahan akan mengancam karirnya? Itu mungkin saja, perubahan akan selalu terjadi.

Bisa jadi, bisnis kita akan bangkrut akibat perubahan. Bisa jadi karir kita tamat karena perubahan teknologi. Benar? Tidak. Bukan, bukan perubahan yang mengakibatkan bisnis hancur dan karir yang terancam, tetapi karena diri kitalah yang tidak menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.

Saat kita takut, artinya kita mengakui kelemahan diri.

7. Tergantung pada Pekerjaan Saat Ini

Termasuk, saat kita merasa takut kehilangan pekerjaan saat ini. Kalau kita berhenti, bagaimana dengan makan anak istri saya? Padahal, siapa yang bisa menjamin kita akan terus memiliki pekerjaan?

Jika kita seseorang yang yakin dengan kekuatan yang dimilikiNya, maka kita yakin akan sanggup mengatasi masalah ekonomi seandainya kita kehilangan pekerjaan. Takut akan kehilangan pekerjaan, adalah sebuah pengakuan bahwa diri lemah dan kurang meyakini potensi diri dan pertolongan Allah.