Dengan izin Tuhan, aku pertama kalinya merasakan indahnya suatu hubungan. Hubungan antara aku dan kamu yang dulu terasa begitu syahdu. Mengalirkan sebuah kenyamanan, membentangkan begitu banyak harapan untuk bisa tetap bersama di masa depan.

Namun dengan izin Tuhan pula, aliran kenyamanan itu menyurut pelan-pelan. Bagaikan air laut yang surut karena gravitasi bulan.Demikian pula dengan bentangan harapan indah yang turut mengecil. Mengecil dan mengecil hingga akhirnya sirna bak termakan waktu.

Segalanya berubah tanpa ku tahu apa penyebabnya. Berubah tanpa ku tahu bagaimana cara mengembalikannya. Namun aku tahu, aku harus bisa melepas belenggu kenangan ini secepat mungkin.

1. Bukannya aku tak menghargai setiap masa yang terlewati bersama, tetapi inilah caraku menghargai dan menghormati hidupmu

berjalan terus sesuai dengan alur hidupmu via http://sibkray.ru

Berjalannya waktu membuatku memutar otak bagaimana cara tetap menjalani hidup meski kau tak ada disisi. Maafkan jika aku tak bisa menghangatkan hubungan yang dulu pernah terjalin, karena inilah caraku untuk menghargai hidupmu dan juga hidupmu.

2. Aku berusaha untuk tidak mengingat dan menggugat semua masa indah itu

Mengingat dan menggugat tak kan membawa manfaat, sungguh via http://img.hipwee.com

Meskipun hati ini tak kuat, aku akan terus berupaya untuk tidak mengingat dan menggugat semua masa indah itu. Percuma saja jika diingat dan digugat, toh pada akhirnya kerenggangan ini tak berubah.

3. Memaksakan perasaan, memaksakan kebersamaan, memaksakan keadaan, hanya akan memperparah kerenggangan

Advertisement

Yang dulu, biarlah berlalu via http://data1.whicdn.com

Yang dipaksakan tak kan berjalan baik, begitu juga dengan semua rasa antara aku dan kamu. Aku percaya hidupmu pun baik-baik saja meski aku tak lagi disampingmu.

4. Sayatan dihati, kepedihan dimata, dan kacaunya pikiranku cukup sampai disini. Aku yakin bisa bahagia, dengan hidupku saat ini

Kejarlah kebahagiaanmu via http://static.wixstatic.com

Kau yang dulu pernah menimbulkan gejolak bahagia, kau yang dulu pernah membakar lara. Aku berjanji akan merelakanmu dengan seikhlas-ikhlasnya. Semua sayatan dihati, pedihnya mata, dan kacaunya pikiran yang pernah kau sebabkan, akan menjadi pembelajaran sempurna untuk hidupku kelak.

5. Mari kita lanjutkan hidup ini dengan sebaik-baiknya, meski Tuhan tak mengizinkan kita untuk bersama

Thank You So Much via http://www.bing.com

Dan aku yang telah sekian lama ini rapuh, sekarang sudah bisa menegakkan kepala kembali. Aku bersyukur Tuhan pernah mengizinkan kita untuk menikamti waktu bersama, mengukir kenangan-kenangan indah. Setidaknya aku menjadi gadis beruntung yang bisa menetap di hatimu walau hanya sepersekian waktu. Terimakasih telah datang dan membawa berjuta bunga, dan terimakasih telah pergi dengan menimbun luka. Semua itu tak kan lupa sebagai pembelajaranku menjadi manusia bijak di hubunganku yang selanjutnya, nanti.