Mendung menggelayuti hati, tetes hujan membasahi pipi. Di malam yang dingin aku begitu merindukanmu.

Namun aku harus menjauh dari kamu, bukan karena membenci tapi karena menyadari bahwa kita gak bisa bersama lagi.

 

1. Menyadari bahwa kamu telah jatuh cinta pada dia, sama halnya dengan penerimaan akan hal-hal menyakitkan.

aku cinta sama kamu?

aku cinta sama kamu? via http://unsplash.com

Aku juga gak tahu gimana aku bisa jatuh cinta sama kamu, gimana bisa aku ngalamin hal yang menyakitkan seperti ini. Aku gak pernah mau, tapi aku juga gak bisa nyalahin kamu, karena ini seutuhnya salahku. Apa bisa aku bersama kamu kalau aku ngaku bahwa aku udah terlanjur jatuh cinta sama kamu? Apa aku bisa mengungkapkan isi hatiku ke kamu tanpa nangis dan memohon agar kamu tidak berubah hanya karena pengakuanku?

Aku benci ada disituasi ini, dan setelah sekian kali aku mencoba untuk membenci kamu, sebanyak itu pulalah aku sendiri yang tersakiti. Karena cinta ini udah terlanjur berkecambah dihatiku. Kamu gak akan pernah tahu sedalam apa rasa yang aku punya dan kamu juga gak akan pernah tahu apa aja hal yang udah aku lakukan untuk menahan diriku dari kebodohan ketika aku sedang sama kamu, ya karena aku cinta sama kamu.

Tapi aku cuma bisa senyum pas ada kamu, karena bersama kamu adalah kebahagiaan, dan aku gak mau kehilangan semua itu hanya karena gak tahan untuk bilang “aku cinta sama kamu” Aku gak bisa dengan mudah mengatakan apa yang aku rasakan. Jadi sekarang aku rela melihatmu dari kejauhan. Mengetahui kisah hidupmu, hanya sekedar tahu.

Satu hari, satu bulan bahkan satu tahunpun aku rela melakukannya. Karena aku tahu kamu akan tetap disana. Sementara aku hanya akan tetap menjadi teman baik yang nyaman ketika berbicara denganmu, ada ketika dibutuhkan, dan aku gak akan menjadi serakah untuk minta lebih dari semua yang sudah cukup saat ini.

2. Mencintai sebagai teman baik, meskipun harus sesakit duri dalam daging, namun itu sudah cukup bagiku

Mencintai sebagai teman baikmu

Mencintai sebagai teman baikmu via http://unsplash.com

Aku cuma mau jadi teman baikmu. Dan membiarkan kamu hidup didalam hatiku, menjadi duri dalam dagingku, menjadi yang kucinta tanpa pamrih dibalas rasa yang sama. Jika suatu hari kamu memberi cintamu pada siapapun disana, bagiku tidak mengapa.

Aku memang cinta padamu hanya saja rindu ini berat jika kubiarkan berbulan-bulan kedepan menetap. Maka kuputuskan untuk berhenti berharap. Kita tidak ditakdirkan untuk bersama, aku teman baikmu, dan kamupun menganggapku begitu, hanya itu faktanya. Aku mengawali dengan pertemanan yang sehat, kebiasaaan dan kenyamanan yang membuat semua ini berakhir semrawut.

Semestinya aku membatasi diri sejak dini, hingga tak perlu kisah seperti ini terjadi. Aku ingin mencintaimu sebagai teman baik. Maka tak perlu menghindar,  toh tidak akan ada yang mengejar. Tak perlu pula bersembunyi, toh tidak akan ada yang mencari. Kamu berhak bahagia, sama halnya dengan aku.

Aku hanya tidak bisa berhenti untuk cinta sama kamu, tapi aku juga tidak bisa membenci kamu. Karena aku toh gak bisa untuk gak peduli sama hidupmu disana. Ah betapa hipokritnya aku yang selalu negasin ke diri sendiri untuk nggak ngehubungin kamu, nun setitik kehadiranmu ada, itu menggodaku untuk antusias ingin lebih, ingin seperti kita yang dulu.

Padahal aku kan udah gak boleh! Waktu tidak mungkin terulang, dan atas hari-hari dalam kenangan bersama dia ya dinikmati saja, cerita sudah terlanjur terucapkan dan itu semua tidak bisa dihapus begitu saja.

Apakah kamu tahu bahwa aku lelah, aku menghabiskan begitu banyak hari di kota ini dalam penyesalan dan airmata. Aku menyesal telah hidup dalam perasaan cinta kepadamu. Aku lelah. Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak bisa hidup tanpamu di kota ini, bagiku setiap sudut kota ini hanya akan mengingatkanku pada kamu. Waktu berlalu dengan begitu lama jika diisi tanpa kehadiranmu.

Aku mencintaimu, dan terimakasih banyak telah menemani hari-hariku selama ini. Meskipun kita tidak bisa bersama, tapi aku akan tetap mengenangmu dalam setiap perjalanan pulang, dalam bisik kerinduan akan kerlip lampu jalan. Cinta memang semestinya mendamaikan bukan? Berdamai dengan kenyataan bahwa kita tidak bisa bersama.

Dengan menyimpan cinta kepadamu

Aku akan tetap menjalani hidupku

3. Kalau memang cinta kenapa harus membebaskan dia yang dicintai, bagaimana penjelasannya?

telah habis kata untukmu...

telah habis kata untukmu... via http://unsplash.com

Hanya ada dua solusi bagi orang yang sedang jatuh cinta dalam perspektif agama, pertama akan melakukan pengakuan, yang bila pengakuannya dibalas pengakuan yang setara, maka pertanggungjawaban dilakukan dengan sepakat melakukan pernikahan.

Atau bagi yang tidak siap (dengan standar kesiapan yang ‘tentu’ berbeda-beda atas setiap kita) maka haruslah mencintai dalam diam, sembari berpuasa, yang notabene adalah upaya untuk menahan hasrat diri (dalam hal ini; secara bebas’ didefiniskan terserah dikitanya; hasrat yang entah apapun itu bentuknya).

Keduanya sama-sama menuntut kesiapan, yang memang harus dilakukan oleh orang-orang yang percaya; bahwa selain kedua pilihan tadi; maka tidak ada pilihan lain

Sementara selaku anak muda solusinya hanya ada dua, yakni mengungkapkan atau diam saja. Tentu saja dibelakangi embel-embel penerimaan atas apapun resiko yang ditanggung oleh pilihan masing-masing. Jatuh cinta adalah perkara remeh temeh, yang ketika dibandingkan dengan nilai-nilai kebenaran dalam hidup, maka akan setara dengan nol. Namun bagi para pelakunya, alangkah banyak derai air mata juga kegelisahan yang habis dengan percuma.

Bagi sebagian yang lain, cinta serupa kanker yang kian menyebar bila tidak segera ditangani oleh dokter spesialis dan dioperasi dirumah sakit terbaik. Sesegera mungkin! Tanpa kompromi. Karena jatuh cinta bukan pengalaman biasa, yang ketika kamu cinta sama dia, maka tidak hanya akan berhenti difase “menyadari” bahwa kamu sudah “terlanjur mencintai” dia, melainkan dampak lain “akibat” mencintai dia.

4. Dalam hidupmu yang bahkan belum setengah abad ini kamu memang akan selalu diminta tegas untuk memilih satu dari beberapa pilihan

harus memilihkah?

harus memilihkah? via http://unsplash.com

Opsi pertama, kamu jatuh cinta dan kamu mengungkapkan pada si dia. Resiko pengakuan cinta hanya ada dua: Pertama, dia juga cinta sama kamu. Dan yang kedua, pernyataan cintamu dibalas dengan ungkapan “Terimakasih ya sudah cinta sama aku”.

Hey, ini bukan berarti ditolak ya! Melainkah cinta yang bertepuk sebelah tangan! Perlu diingat bahwa “jatuh cinta” (sebagaimana pembukaan UUD 45) adalah hak setiap kita, dan karenanya “bukan pernyataan cintanya yang ditolak”. Fakta ini perlu untuk diluruskan, agar tidak ada lagi kekeliruan dalam membedakan “cinta ditolak - dukun bertindak”.

Anggaplah, kamu telah menyatakan cinta padanya? Astaga, lantas apa? Bagaimana setelahnya? Jika dia juga mencintaimu, tentu akan girang betul kamu karena cinta yang berbalas tersebut. Dan sungguh jikapun tidak, ya bukankah sebenarnya kamu sudah merasa lega karena berhasil mengungkapkan apa yang begitu menyesakkan dada?

Maka yang menjadi persoalan yang perlu intens kubahas, adalah cinta yang didiamkan, sembari ditegaskan dalam hati kecil: “Cukup begini saja, aku menyadari bahwa aku cinta sama dia, lantas ya sudah, tidak ada yang perlu dibenahi lagi dalam situasi ini.” Dalam hal ini, pernyataan logisnya adalah: kamu jatuh cinta sama dia. Oke, kamu sudah sadari situasi bahwa kamu benar telah mencintai dia! Tapi kemudian, kamu tidak ingin membebani dia dengan pernyataan cintamu kan? Kamu cinta sama dia, terserah dia mau cinta juga atau tidak.

Namun ingatlah, dengan adanya pengakuan cinta darimu, timbulah rasa-rasa tertentu dihati dia, dibumbui dengan narsisme akut yang dia akui ada pada dirinya tersebut. Lantas apa? Anggaplah kamu lega setelah mengakui. Lantas apa? Mau bagaimana? Bahwa mencintai berarti melepaskan dia. Kenapa? Ya, karena cinta toh tak musti diungkapkan padanya! Mencintai orang lain adalah bentuk dari pengakuan kita pada diri sendiri, yang berarti kita telah mencintai diri sendiri, yang telah berhasil jatuh cinta pada seseorang tersebut.

Dan efek baik dari mencintai orang itu, sama halnya dengan mencintai kehidupan dia, sekaligus penerimaan kurang-lebih selengkap-lengkapnya pada diri dia. Dan pemahaman lebih lanjut tentang betapa berarti kehidupan dia untuk kita hargai dan kita jaga. Alasannya? Ya cinta!

Dari sini kamu harus belajar, bahwa melepaskan orang yang dicintai sama halnya dengan membebaskan dirinya dari pengakuan orang yang telah mencintai, sehingga dia akan bebas sebebas-bebasnya, sembari berusaha meraih yang dia tengah upayakan demi keberlangsungan hidupnya.

5. Cinta yang diam saja adalah cinta yang membebaskan yang dicinta dan termasuk yang mencintai

membebaskan untuk menyatukan

membebaskan untuk menyatukan via http://unsplash.com

Masa mudamu ini harus dipenuhi dengan kedamaian dan penerimaan. Yang artinya kamu harus bisa menerima menerima kenyataan bahwa dia punya hak untuk hidup dalam kedamaian, untuk kemudian membebaskan dia hendak meraih apapun yang dia memang semestinya raih dimasa mudanya tersebut. Ya tentu saja hal ini perlu untuk kamu lakukan, tujuan mulianya secara gamblang: Agar dia tidak terganggu fokusnya pada kehadiranmu, yang agar kamu tak perlu pula menghabiskan waktunya yang begitu berharga itu!

Ingatlah, ketika kamu hadir dihidupnya, maka kehadiranmu itu jelas akan mengganggu arah fokusnya. Seriously! Kamu akan sibuk dengan memperhatikan kehidupannya, sama halnya dengan dia yang (jika dia ya cinta padamu) akan melakukan aktivitas yang kurang lebih sama. Maka berentetanlah kesialan yang akan menimpa kebersamaan kalian berdua. Sibuk masing-masing dalam perkara rindu, cinta, saling perhatian bahkan hasrat bertemu! Nasib sial selalu menimpa pasangan yang tengah dimabuk asmara! Sibuk pada kehidupan satu sama lain. Kehidupan diri lantas dikesampingkan. Bodoh betul bukan?

Padahal mencintai tidak harus demikian. Cukup diam saja. Diam saja, ya karena tentu saja kamu ingin membiarkan dia meraih mimpinya, menikmati masa mudanya, dan sekaligus mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Kalau kamu benar cinta padanya, maka jangan pernah membebani dia dengan pernyataan cintamu ya! Kan kamu cinta sama dia, jadi kamu pasti rela berkorban dong, dengan melakukan yang terbaik untuk kehidupan dia!

Mencintai  adalah melepaskan dia.

Seperti awan yang melepaskan diri menjadi hujan.

Menetes, satu demi satu, kepada tanah.

Hujan yang setelah turun,

Menyebar kesegala penjuru.

Kerumah-rumah, ke hutan, sungai, danau, laut.

Menumbuhkan tanaman, menyegarkan udara perkotaan.

meski demikian, tujuan akhirnya akan selalu satu.

Air kemudian menguap, menjadi awan.

Menyatu dengan langit,

Untuk kelak, kembali ke tanah.

Berulang, bersinergi, di fase yang demikian.

Sama halnya dengan mencintai kamu, yang berarti melepaskanmu, membebaskanmu.