Mungkin sekarang bisa di bilang mendaki gunung menjadi trending semenjak film 5cm, taukah kamu?
Mendaki Gunung bukan ajang untuk Selfie dan share di sosial media hanya agar di bilang “Kekinian” tetapi di balik itu semua mendaki gunung adalah momok yang paling menakutan jika kamu baru mengenal mendaki “Pemula”  sebab nyawa taruhannya jika kamu belum tau seluk beluk hutan rimba terkadang cuaca dan alam tidak bisa di prediksi.

Sebagai contohnya ; Dingin, Mungkin kamu beranggapan “Ah, udara dingin aku udah biasa, Aku sering tidur Pakai AC yang dingin banget tanpa pakai baju mungkin sama seperti nanti di gunung”, Eitss jangan berfikiran seperti itu udara di gunung dan hutan rimba itu berbeda udara di gunung bisa mencapai hawa “Minus” lebih parahnya bisa mencapai “-10 sampai -20” walaupun kamu sudah memakai baju hangat yang setebal selimut udara dingin masih bisa menusuk ke badan maupun tulang”.

Ada sebuah anggapan bahwa mendaki gunung itu adalah sebuah tindakan yang keren dan gagah. Ada rasa bangga ketika sudah menginjakan kaki di puncaknya. Namun, sadarkah kita bahwa kita yang mengaku pecinta, ataupun penikmat alam, bisa jadi adalah seorang perusak alam ? Berikut adalah kesalahan terbesar yang mengaku pecinta alam namun belum memahami alam sepenuhnya :

 

 

1. Selfie di tempat ekstrim biar keliatan gagah dan kekinian. Sampah kertas dampak dari selfie!

Sampah kertas ucapan sehabis selife

Sampah kertas ucapan sehabis selife via http://i1.wp.com

Selfie adalah salah satu momok terbesar dalam Pencinta alam gadungan dan My trip gadungan, Selfie bisa di bilang positif dan negative. akhir-akhir ini sering beredar di social media foto-foto seseorang sedang berpose di atas gunung dengan selembar kertas berisi ucapan yang ditujukan kepada seseorang.

Ucapan itu bisa ditujukan kepada pacar atau mungkin masih gebetan, orang tua atau sekedar ucapan kepada rekan atau teman. Ucapannya pun beraneka ragam. Ada yang mengungkapkan rasa cinta atau sayang semisal kata "I Love You", "Aku Sayang Kamu", "Kapan Nanjak Bareng", dan masih banyak kata atau kalimat lain yang isinya mengungkapkan perasaan. 

Meski tak terbatas dengan ungkapan perasaan, ada juga beberapa pendaki yang menulis kalimat untuk orang tuanya semisal, “Cepat Sembuh Pak” dan masih banyak kata-kata yang sering kita lihat di socmed, baik itu serius atau sekedar lucu-lucuan.

Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa tindakan itu akan terlihat ‘norak’ jika kertas yang digunakan untuk berfoto itu ditinggalkan begitu saja sebagai sampah di atas gunung. Padahal kenapa kertas itu harus ditinggalkan dan dibuang? Akan menjadi lebih indah jika kertas itu dibawa turun dan tidak dibuang namun disimpan.

Andai suatu saat sang gebetan menjadi kekasih apalagi hingga menjadi pasangan hidup, akan terlihat sangat indah jika kertas itu dibingkai, lengkap dengan foto dan dijadikan kenang-kenangan. So sweet, bukan?

Pendaki berpengalaman tidak terintimidasi oleh gunung, namun terinspirasi. Bukan selfie dan Puncak tujuan utama melainkan mendekatkan diri dengan alam lalu pulang dengan selamat.

 

Dampak Positive selfie adalah mengingat dan mengenang apa yang kamu lakukan, ketika kamu dewasa nanti. Selfie bisa sebagai bukti bahwa perjalanan hidup kamu ketika kamu masih muda dan menceritakan kepada anak cucumu nantinya

Dampak Negative bisa saya bilang “Berkurangnya Konsentrasi” karena kamu melupakan sesuatu bahwa kamu harus berhati-hati ketika kamu berada di tempat extrem sekalipun, saking kamu keasikan selfie agar bisa mendapat hasil foto yang bagus kamu melupakanya,

Kamu pernah mendengar berita tentang seorang pendaki yang tewas di gunung merapi karena selfie? Seperti itu contoh dampak negative selfie bahkan sampah kertas ucapan salam. Apakah itu bisa di bilang pecinta alam? Saya Pikir Tidak!

Setelah menjelaskan dampak postive dan dampak negative Selfie, Taukah kamu? Pendaki Gunung jaman dahulu, mereka tidak memperdulikan foto melainkan sebuah tulisan dalam sebuah buku yang menggambarkan kisah perjalanannya ketika ia mendaki gunung dan sebuah pangalaman hidup yang bisa ia kenang ketika ia dewasa dan menceritakannya kepada anak cucunya kelak.

2. Melakukan pendakian massal "Open Trip"

Pendaki Masal Open Trip

Pendaki Masal Open Trip via https://chatrinaariani.files.wordpress.com

Mendaki gunung dengan bersama teman-teman memang sangat menyenangkan bisa tertawa lepas, bercanda di alam alam bebas maupun bergurau. Buat kamu yang pemula ingin jalan atau naik gunung open trip bisa membuat dampak positive juga kamu bisa berkenalan dengan orang-orang baru bahkan bisa juga menghemat ongkos perjalanan.

Tetapi lihat dulu kapasitas open trip berapa orang yang ikut dan kapasitas pendakinnya. Menurut saya hal ini berdampak negative bahkan tidak suka karena ada beberapa sebab yaitu ;

1. Jika panitia mengadakan open trip mendaki gunung dengan peserta pendaki sebanyak 40 orang, Jika kapasitas pendaki pergunung hanya di memperbolehkan per hari 500 orang maka sudah terpotong kouta pendaki sebesar 460 Orang itu baru satu open trip belum open trip dari berbagai daerah lain, lalu pendaki gunung yang mendaki gunung hanya sendiri bahkan beranggota 4-5 orang, lalu kemanakah kita yang invididu?

jika kouta pendaki habis yang disebabkan open trip dari berbagai daerah, mau tidak mau pendaki invidu seperti saya harus rebutan bahkan harus booking terlebih dahulu. Untuk panitia open trip bijaklah dalam melakukan open trip bukan hanya kamu yang ingin menikmati alam ada beberapa pendaki individu yang ingin menikmatinya juga.

2. Keselamatan, Ini yang jadi problem untuk pendaki pemula. Perlu kamu ketahui jika kamu pendaki pemula, Ketua Regu/Panita mereka tidak tau bahwa kamu pendaki pemula mereka hanya tau jumlah total peserta saja yang tau dan hanya memberitahu sedikit saja informasi bagaimana cara mendaki yang benar.

Jika kamu mengalami insiden dalam pendakian, mereka mungkin akan segera membatu kamu tetapi jika dalam anggota ada yang mengalami beberapa insiden, apakah ia bisa membantu? Mau tidak mau kamu kamu harus mengobati sendiri itupun hanya tau sedikit informasi jika mengalami inside. Itu yang simple,

Jika fatal kesasar atau masuk jurang apakah mereka tau? saya pikir tidak, Karena mereka hanya melihat anggota saja dengan jumlah yang banyak.

3. Ketenangan, Apa yang kamu cari ketika mendaki gunung atau refresing? yang di cari adalah ketenangan bukan? jika kamu melakukan open trip dengan jumlah anggota yang banyak apakah di dapat rasa ketengan itu? tidak! yang kamu dapatkan hanyalah keramaian seperti kota bukan ketenangan jiwa di alam bebas.

Itulah beberapa sebab pendaki masal open trip yang berdampak negative, masih banyak seperti sampah, kegaduhan dll. Jadi bijaklah dalam memilih open trip, lihat duhulu keamanannya dan jumlah anggotanya.

Kamu akan merasakan ketenangan jiwa di alam bebas, jika kamu mampu meresapinya sendiri

3. Sampah

Sampah di gunung yang diakibat pendaki gadungan

Sampah di gunung yang diakibat pendaki gadungan via http://news.okezone.com

Saya pernah naik gunung dengan seorang rekan yang kelihatannya sudah ‘senior’ dalam hal mendaki. Namun, ditengah perjalanan istirahat, saat ia memakan sebuah makanan ringan, dengan ringannya pula ia membuang sampah itu sembarangan.

Itulah potret kebanyakan pendaki yang tidak paham akan konservasi. Apa sulitnya sih membawa sampah di dalam tas?

Di lain waktu, saat saya sedang ingin mengambil air di sebuah mata air, terlihat seorang pendaki yang sedang menikmati ritual B*B di mata air itu! Apa dia tidak berfikir orang akan minum dari sana? Sebegitu sulitkah menggali lubang di tanah? Kucing saja masih bisa lebih pintar!

Banyak juga pendaki-pendaki yang masih saja menggunakan bahan-bahan kimia yang bisa merusak. Jangan heran kalau menemukan bungkus sabun/shampo yang tergeletak dekat di mata air.

Kalau kamu pencinta alam sesungguhnya tegurlah pendaki yang membuang sampah sembarangan, kalau bukan kamu yang menegur siapa lagi?

Cintailah alam seperti kamu mencintai dirimu sendiri

4. Bersikap acuh tak acuh, hanya membebankan team konservasi saja!

Bersikap acuh tak acuh, Hanya membebankan team konservasi saja

Bersikap acuh tak acuh, Hanya membebankan team konservasi saja via http://v-images2.antarafoto.com

Beberapa waktu lalu sosial media di hebohkan dengan pendaki gadungan yang berbicara membuang sampah di gunung semeru tidak apa-apa. Berita tersebut bisa kamu cari dengan judulnya "Pendaki ini bilang tak apa buang sampah di Semeru karena sudah bayar" mungkin itu sebagai contoh menganggap tugas konservasi itu adalah tugasnya penjaga Taman Nasional, porter, dan LSM lingkungan adalah bukan hal yang benar.

Padahal pendaki sendirilah yang punya bagian besar dalam menjaga lingkungan. Banyak oknum pendaki juga tidak mengindahkan kearifan lokal yang telah ditetapkan masyarakat setempat. Tertulis ataupun tidak tertulis.

Seringkali mitos-mitos mistis di gunung itu sebetulnya adalah usaha untuk konservasi dari masyarakat. Jangan sampai bilang begini, ” Saya bukan pecinta alam, kok. Cuma penikmat alam. Jadi bukan tugas saya dong untuk konservasi?” Kalau bukan kamu dan penjaga taman nasional siapa lagi yang mampu menjaga alam ini?.

5. Merusak keasrian gunung

Coret-coretan di pasar bubrah merapi

Coret-coretan di pasar bubrah merapi via http://i1189.photobucket.com

Mungkin ini sebagian besar fatal dan hal bodoh yang saya bilang, mengaku pencinta alam dan pendaki gunung ko begini? apa bisa di bilang pecinta alam? mungkin ini sebagian besar ulah dari pendaki gadungan hanya untuk bisa di bilang "Kekinian".

Jangan mengambil apapun kecuali gambar, jangan meninggalkan apapun kecuali tapak kaki atau jejak dan jangan membunuh apapun kecuali waktu

Take nothing but picture. Memang alam menyediakan berbagai flora, satwa, bahkan batuan yang memikat hati untuk dijadikan oleh-oleh. Namun perbuatan seperti memetik bunga edelweis ataupun menangkap binatang, hanya akan merusak alam. Jika ingin membawa oleh-oleh cukup dengan melukisnya atau memotret saja.

Leave nothing but foot print. Saat bertualang, semua bekas kegiatan terutama sampah yang dihasilkan jangan pernah tertinggal, bawalah pulang kembali. Karena benda-benda tersebut (terutama sampah plastik) akan memberikan dampak buruk yang besar bagi kelestarian lingkungan. Termasuk jangan meninggalkan bekas berupa coretan, guratan, dan sejenisnya di pohon maupun batuan.

Kill nothing but time. Cukuplah waktu saja yang terbunuh selama petualangan itu berlangsung. Lainnya, baik hewan, tumbuhan, bahkan termasuk diri sendiri jangan.

Jika saat melakukan petualangan, seorang petualang melaksanakan tiga point dalam kode etik tersebut niscaya alam termasuk lingkungan hidupnya akan tetap terjaga kelestariannya. Sehingga seorang petualang tetap dapat mengulangi petualangannya di alam bebas sehari, seminggu, sebulan, setahun, bahkan seabad kemudian.

6. Menjadikan alam sebagai tempat asusila

Asusila, Ilustrator

Asusila, Ilustrator via http://s1189.photobucket.com

Edan dan edan yang bisa dibilang, alam ko dijadiin asusila? 

Sudah rahasia umum dalam tempat obyek wisata alam khusunya gunung, dalam kesunyiannya dijadikan kesempatan bagi pemuda pemudi dalam memadu kasih, bahkan sampai berhubungan intim.

ini merupakan fenoma yang sangat mengkhawatirkan bagi masyarakat sekitar, yang dimana pada masyarakat tertentu meyakini gunung sebagai tempat suci yang dilarang untuk tindakan asusila pada wilayahnya.

Para pendaki pun tidak dapat mencegahnya, karena alasan sama-samapendatang, tetapi dalam kasus tersebut, para penduduk setempat akan memperingatkan apabila ada seseorang yang melakukan tindakan asusila akan diganjar oleh hukum yang diluar nalar manusia , yang membuat pengunjung berpikir 2 kali, oleh karnanya jagalah alam dari sikapmu, bukan karena takut akan hukuman yang menimpamu 

7. Melanggar batas wilayah untuk pendakian

Batas pendakian Gunung Semeru

Batas pendakian Gunung Semeru via http://s13.postimg.org

Tanpa sadar kita telah melanggar akan aturan yang telah ditetapkan oleh petugas konservasi, dalam penetapan batas wilayah pendakian seperti di semeru akan basecamp kalimati-nya, dan merapi pada camp pasar bubrah, dan pelanggaran pendakian pada saat ditetapkannya penutupan taman konservasi dalam masa penghijauan

Tetapi rasa ego yang lebih kuat untuk menaklukan dari pada menikmati alam mengalahkan semuanya, hanya sekedar untuk berfoto dan menyatakan dirinya hebat di sosial media

Jadilah Pendaki dan Pencinta alam yang sesungguhnya bukan foto atau agar terlihat gagah yang kamu cari melainkan bagaimana kamu mampu menaklukan alam bebas dengan ketulusan dan niat mu sendiri, Ingat puncak itu bonus, pulang dengan selamat adalah tujuan utama. Yang telah berpulang doakanlah dan jadika pelajaran untuk kamu harus berhati-hati dalam menggapai puncak-puncak di indonesia.

Jangan jadi Pendaki atau Pecinta Alam KW biar keliatan kekinian 

Jangan jadi seperti ini ?

"Setelah nonton film 5cm saya jadi pengen naik gunung, terus saya bakalan selfie sambil pegang plang "Everest 4560mdpl", terus saya bakal share ke instagram fotonya, Terus lompat ke kawah ijen."