Percayalah, waktu seakan berjalan lambat namun diam-diam bergerak pesat saat kita tak menyadarinya. Rasanya baru kemarin digandeng Mama berangkat sekolah, menikmati waktu senggang layaknya Mr. Bean yang tak jelas pekerjaannya apa. Tapi tiba-tiba kita sudah berseragam putih abu-abu, lalu dinyatakan lulus sidang skripsi, dan akhirnya kita terjerumus ke suatu tempat yang dinobatkan kaum dewasa sebagai “dunia sebenarnya”. Mau tak mau, di sini saatnya kita harus bertransisi dari “young and free” ke “adult with responsibilities”.

Menjadi orang dewasa yang hidup dalam dunia sebenarnya itu memang mampu membuat kita gigit jari. Kadang menantang, membingungkan, bahkan menakutkan! Jadi tak ada salahnya kok menikmati masa muda, selagi masih bisa.

 

1. Terlalu serius menjalani hidup bisa bikin lupa daratan.

Nyalakan terus bawa jiwa kekanak-kanakanmu

Nyalakan terus bawa jiwa kekanak-kanakanmu via http://www.mavile.co

Mudah untuk terperangkap dalam dunia serius beserta permasalahan serba seriusnya yang bisa bikin kita tak lagi memedulikan kesenangan-kesenangan kecil dalam hidup.

Ingat selalu untuk menyalakan bara jiwa kekanak-kanakanmu agar kamu bisa selalu menemukan petualangan dalam rutinitas sehari-hari.

Entah itu menikmati hujan tanpa takut basah kuyup, cuek memakai kaos kartun kebanggaan, hingga tertawa – dalam hati – menyaksikan keganasan ibu-ibu yang berebutan masuk gerbong kereta khusus wanita di pagi hari. Meski hidup memang harus dijalani dengan sungguh-sungguh, kamu tak perlu menghadapinya dengan terlalu serius.

2. Mumpung masih muda, jelajahilah dunia.

Ambisi keliling dunia bisa diraih sejak masih muda

Ambisi keliling dunia bisa diraih sejak masih muda via http://www.pexels.com

Kesampingkan sebentar ekspektasi orang dewasa yang harus sudah menikah dan merintis karir gemilang. Lho, memang kalau sudah menikah dan bekerja nggak bisa jalan-jalan? Bisa! Tapi mungkin jadi terbebani oleh tumpukan pekerjaan yang menanti, atau tagihan cicilan rumah dengan bunga sekian persen. Akhirnya ambisi traveling keliling dunia pun pupus karena kritis waktu dan uang.

Padahal, transisi menuju masa dewasa ini adalah waktu emas untuk traveling dan melakukan hal-hal yang wild and adventurous.

3. Jangan buang kesempatan untuk bertemu dengan para sahabatmu.

Nikmati waktumu bersama sahabat

Nikmati waktumu bersama sahabat via http://www.pexels.com

Pelajaran penting dalam hidup adalah: uang bisa selalu didapat, tapi waktu tak bisa tergantikan.

Seiring kita beranjak dewasa, waktu adalah harta yang semakin sulit ditemukan untuk berjumpa dan bercengkrama bersama sahabat. Yang tadinya bisa bertemu setiap hari dan berangkat bareng ke sekolah atau kampus, makin lama hanya jadi bertemu tiap minggu di tempat janjian. Akhirnya bertemu sekali sebulan pun sudah jadi keajaiban karena kamu sudah sibuk ngurus rumah tangga, atau sahabatmu lembur ngurus kerjaan kantor. Selalu sempatkan dan nikmati waktumu bersama sahabat, karena tak selamanya mereka selalu ada kapanpun dan di manapun.

4. Berpisah dengan orangtua bukanlah hal yang mudah.

Orangtua kita telah membesarkan kita sejak lahir

Orangtua kita telah membesarkan kita sejak lahir via http://www.pexels.com

Orangtua kita, adik kakak kita, mereka adalah orang-orang yang senantiasa mengurus dan mendampingi kita sejak kecil hingga beranjak dewasa. Namun, akan ada waktu di mana kamu akan pindah dari rumah masa kecilmu dan merintis keluarga baru milikmu sendiri. Ini bukan berarti kamu berpisah selamanya dari mereka, tapi frekuensi bertemu pasti berkurang. Sebelum hal itu terjadi, ingatlah bahwa setiap momen yang kamu miliki bersama ayah, ibu, dan sanak saudaramu adalah momen yang sungguh berharga.

Mereka adalah orang-orang terpenting yang selalu ada dalam hidupmu.

5. Kamu mempunyai waktu untuk menelusuri tujuan hidup dan passion-mu.

Berani coba hal-hal baru yang selama ini ingin kamu lakukan

Berani coba hal-hal baru yang selama ini ingin kamu lakukan via http://www.mavile.co

Sebagai pendatang baru dalam dunia sebenarnya, kadang kita hanya terjun mengikuti arus, terjerat dalam anggapan bahwa kita selalu sibuk dan tak punya waktu, dan tenggelam dalam rutinitas hingga akhirnya lanjut usia. Hal yang perlu kamu sadari adalah kamu masih punya waktu.

Tak perlu terburu-buru, karena fondasi yang kamu bangun saat ini akan menentukan sisa hidupmu.

Buang kekhawatiran bahwa masuk ke dalam dunia orang dewasa adalah sebuah kompetisi siapa cepat dia dapat. Buru-buru mencari kerja atau pasangan hidup sehabis lulus belum tentu selalu menjadi hal yang baik. Gaji di atas rata-rata, pasangan yang ganteng atau cantik, semua tak ada artinya jika itu bukan hal yang benar-benar membuatmu bahagia.

Ayo! Berani kreatif dan coba hal-hal baru yang selama ini ingin kamu lakukan. Gabung dalam tim ekspedisi alam, terjun payung dari pesawat, datangi acara-acara seru, atau masak makanan yang selama ini kamu ingin coba buat meski menyalakan kompor pun masih takut. Kini saatnya kamu mengambil kesempatan dan menelusuri seluk-beluk kemampuan dan passion-mu, agar dewasa nanti kamu bisa menjalani hal yang benar-benar kamu sukai.

Tak mau buru-buru beranjak dewasa bukan berarti mengentengkan segala hal atau mencoba lari dari kewajiban, melainkan mengingat bahwa hidup tak harus selalu dihadapi dengan muka dan sikap serius.

Ya, mungkin kita akan menyembunyikan kepala di balik bantal lebih lama saat alarm-harus-bangun-untuk-kerja berbunyi, atau membuat orang keheranan karena kita masih doyan main layang-layang saat orang-orang dewasa lain doyan meeting, atau mempermalukan diri karena suka tertawa sendiri melihat suasana sekitar.

Simpan dalam hati segala pengalaman berhargamu sebagai anak muda dan bawalah semangat itu hingga kamu beranjak dewasa.

Selamat datang di dunia sebenarnya, hai kamu para pendatang baru.