1. Datang berkelompok atau sendirian

Datang ramai-ramai bersama teman via https://www.instagram.com

Banyak penonton yang datang bersama dengan teman, kekasih, saudara, atau keluarga. Mereka akan duduk bersebelahan dan bahkan bergerombol di satu sisi tribun bila jumlahnya banyak. Penonton yang datang berkelompok ini biasanya akan menikmati jalannya pertandingan sambil asik bercakap-cakap tentang pemain yang sedang bertanding, hal-hal lain terkait bulutangkis atau bahkan yang tidak ada hubungannya dengan olahraga tepok bulu ini.

Di sisi lain, ada banyak penonton yang datang sendirian saja. Mereka umumnya menonton dengan fokus, sambil sesekali mengecek media sosial atau chat di telepon pintar mereka. Tapi jangan salah, banyak juga dari mereka yang kemudian akrab dengan penonton yang duduk di sebelah kanan atau kirinya. Dua orang yang awalnya asing karena belum pernah bertemu itu lalu jadi terlibat perbincangan hangat karena disatukan oleh kesamaan hobi pada bulutangkis.

2. Pengikut setia bulutangkis atau bukan

Tidak semua penonton adalah pengikut setia bulutangkis. via http://www.bola.com

Tidak semua yang datang di stadion untuk nonton Indonesia Open adalah fans bulutangkis yang memang aktif mengikuti semua perkembangan seputar olahraga yang telah dipertandingkan di Olimpiade sejak tahun 1992 ini. Beberapa dari mereka sebenarnya awam atau hanya tahu hal-hal dasar tentang bulutangkis. Kehadiran mereka adalah karena ikut-ikutan teman, pacar, saudara mereka, dapat hadiah tiket nonton gratis, atau iseng-iseng penasaran pengin merasakan kehebohan Indonesia Open.

Advertisement

Kita bisa mengenali penonton yang memang pecinta bulutangkis sejati saat mereka berbincang-bincang dengan rekan nonton mereka. Isi omongan mereka berbobot tentang bulutangkis, mulai dari strategi permainan yang seharusnya diterapkan oleh pemain, statistik pertemuan diantara kedua pemain yang sedang bertanding, catatan prestasi yang ditorehkan oleh pemain, hingga profil unik atau kebiasaan khas yang dimiliki oleh pemain saat sedang di lapangan. Mungkin pengetahuan mereka sudah hampir setara dengan para pengamat dan komentator siaran pertandingan bulutangkis di televisi.

Sedangkan penonton yang memang tidak terbiasa update dengan bulutangkis akan sering terlihat bertanya kepada rekan nonton mereka. Jangankan peringkat dunia dan status unggulan dari pemain yang sedang bertanding, terkadang mereka pun tidak mengenal atlet-atletnya. Misalnya saja, mereka tidak bisa membedakan antara Della Destiara Haris dan Rosyita Eka Putri Sari saat pasangan ganda putri itu bermain. Selain itu, bagi yang baru pertama kali nonton langsung bulutangkis di stadion, mereka akan dilanda kekaguman pada kecepatan permainan raket dan kekuatan smash para atlet dunia itu.

3. Ekspresif atau datar-datar saja

Penonton Indonesia yang penuh ekspresi. via http://www.liputan6.com

Penonton bulutangkis di Indonesia dikenal ekspresif. Mereka akan menepuk-nepuk balon stik sambil berteriak yel-yel “IN-DO-NE-SIA” untuk menyokong atlet Indonesia yang sedang berjuang melawan atlet dari negara lain. Tak jarang mereka akan ramai menyoraki para pemain ketika terlibat reli-reli yang panjang atau saat pemain Indonesia dirugikan oleh keputusan wasit atau hakim garis yang dinilai tidak adil. Teriakan kekecewaan pun tidak dapat mereka sembunyikan apabila pemain jagoan mereka kalah dan harus tersingkir dari turnamen.

Penonton yang ekspresif akan berinisiatif tampil sebagai koordinator yel-yel. Mereka adalah yang pertama kali memimpin teriakan “IN-DO-NE-SIA” untuk kemudian diikuti oleh penonton lain dengan menepuk balon stik. Dalam beberapa kesempatan seperti saat jeda diantara set atau interval di poin 11, penonton tipe ini tak malu-malu melemparkan celetukan untuk memberi suntikan semangat seperti misalnya “fokus..fokus!”, “ayo masih bisa”, “sabar..sabar”, dan lain-lain.

Sementara itu, ada juga penonton yang menikmati pertandingan dengan datar-datar saja. Mereka sesekali ikut bergabung dengan penonton lain dalam meneriakkan yel-yel “IN-DO-NE-SIA” dan menepuk balon stik. Tapi itu hanya dilakukan di poin-poin penting atau saat pemain menampilkan aksi yang luar biasa saja, tidak di sepanjang pertandingan. Ekspresi yang mereka tunjukkan rata-rata tidak berlebihan, hanya tepuk tangan dan senyuman saja.

4. Selalu optimis atau mudah pesimis

Mendukung dengan penuh optimisme. via http://malesbanget.com

Saat mendukung pebulutangkis Merah-Putih menghadapi lawan dari negara lain, ada dua tipe penonton yang dapat dilihat berdasarkan sikap mereka. Ada penonton yang selalu optimis sejak awal pertandingan bahwa Indonesia pasti menang. Saat pemain Indonesia dalam posisi tertinggal di papan skor, mereka tetap yakin ketertinggalan itu bisa dikejar dan bahkan dibalikkan. Demikian juga saat pemain Indonesia harus kalah di set pertama, mereka tetap yakin bahwa set kedua masih bisa dimenangkan dan kemudian berlanjut dengan keunggulan di set ketiga yang menjadi penentuan. Mereka akan tetap antusias meneriakkan dukungan pada pemain Indonesia.

Hal ini berbanding terbalik dengan penonton yang mudah pesimis. Mereka akan cepat lesu jika pemain Indonesia sudah tertinggal dengan jarak dua poin atau lebih dari pemain lawan. Jeleknya, kadang beberapa dari mereka meneriakkan kata-kata yang bernada negatif saat pemain kita gagal meladeni permainan lawan. Hal ini sebenarnya sangat disayangkan karena penonton sebaiknya terus menyalurkan energi positif kepada para pemain melalui kata-kata yang memotivasi.

5. Fanatik pada atlet atau bukan

Hadiah dari fans untuk Ashwini Ponnappa (India). via https://www.instagram.com

Hampir sebagian besar penonton di Indonesia Open adalah anak muda, baik laki-laki maupun perempuan. Para penonton yang umumnya berusia di bawah 30 tahun dan bahkan banyak yang masih duduk di bangku sekolah atau kuliah itu terbagi menjadi dua macam yaitu yang punya fanatisme tinggi pada atlet dan yang bukan.

Mereka yang fanatik pada atlet biasanya datang ke JCC bukan cuma untuk menonton pertandingan bulutangkis saja. Ada hal lain yang mereka incar yaitu berfoto bersama para atlet yang jadi idola sekaligus meminta tanda tangan. Oleh karena itu, para penonton tipe ini umumnya akan hadir di arena lebih awal, saat para pemain mulai berdatangan. Mereka siaga menunggu di dekat pintu menuju ruangan yang dikhususkan bagi para atlet dan lalu siap mencegat untuk berfoto bersama dengan telepon pintar masing-masing.

Saking fanatiknya, tidak sedikit dari mereka yang lalu menunggu di lobi hotel tempat para atlet menginap atau di dekat kendaraan yang membawa atlet dari hotel ke stadion. Lebih spesialnya lagi, mereka juga bermurah hati membawakan sejumlah cenderamata sebagai hadiah untuk sang idola. Hal ini mendapat apresiasi dari para pemain yang kemudian mengunggah foto cenderamata yang mereka dapatkan dari fans itu di akun media sosial mereka.