Aku masih ingat pertama kali kita ketemu. Senyum itu yang membuatku langsung jatuh cinta saat pertama kali bertemu. Kamu mengunjungiku ke kotaku, padahal jarak antara kotamu dan kotaku lumayan jauh. Kita dipisahkan ratusan kilometer. Kita tinggal dibeda provinsi walaupun masih dalam satu pulau Jawa. Aku masih ingat sekali bagaimana akhirnya kita akhirnya jatuh cinta, bagaimana kita berjanji untuk memulai untuk berhubungan, bagaimana kita bertahan 4,5 tahun dalam hubungan LDR. Kita memang dua orang yang sangat berbeda, kita berbeda dari segi pemikiran, berbeda dari latar belakang pendidikan, berbeda dari prinsip dan tentunya banyak lagi perbedaan yang susah payah kita satukan. 

1. Bagaikan petir di siang bolong, kamu berhasil menghanguskan perasaanku

Saat itu masih suasana lebaran idul fitri yang harusnya memang diisi dengan kebahagiaan. Aku memilih untuk menghabiskan liburan idul fitri di Kota Bandung, tempat aku biasa menghabiskan hari-hariku, kota ditempat aku berjuang, kota dimana aku dan kamu dipertemukan. Aku masih ingat kamu berjanji waktu itu akan mengunjungiku setelah lebaran idul fithri, tentunya aku sangat berharap karena memang aku ingin sekali merayakan ulang tahunku yang ke 25th bersama denganmu. Pagi itu H-2 ulang tahun aku dan itu artinya hari kedua lebaran, aku bangun seperti biasa, membuka instagram dan betapa terkejutnya saat melihat kamu memajang dia di instagrammu. Entah apa yang ada di fikiranmu saat itu, kamu memamerkan dia dengan bangga padahal kamu tahu hubungan kita waktu itu belum berakhir dan masih baik-baik saja. Bagaikan petir di siang bolong kamu menghanguskan perasaan dan jiwaku saat itu. 

2. Pengkhianatan itu kamu berikan untuk kado ulang tahun ku yang ke 25

Sebagai seseorang yang berarti dalam hidupku, aku berharap sekali momen ulang tahun ke 25 ingin aku habiskan denganmu. Aku masih ingin berkeliling kota, mengunjungi restoran favorit kita, membeli barang yang sudah lama di incar untuk di jadiin kado, ritual penting yang kita lakukan saat salah satu di antara kita berulang tahun. Aku memang mendapatkan surprise saat ulang tahun ku 25 th, pelajaran dari kamu orang yang dulu pernah memberi cinta dan sekarang menggantinya dengan luka. Pengkhianatan itu kamu berikan padaku tepat pada saat aku merayakan ulang tahun yang 25. 

3. Aku memilih memulihkan hatiku tanpa perlu penjelasan apapun darimu.

Advertisement

Dari awal kamu pasti tahu, aku bukan tipe perempuan yang selalu meminta penjelasan apapun dari kamu. Aku lebih baik pergi tanpa menjelaskan apapun darimu. Saat itu aku sudah berusaha untuk meminta penjelasan darimu, tapi kamu malah memblok semua sosial mediaku. Laki-laki macam apa kamu? Saat itu aku sudah benar-benar tidak mengenali diriku sendiri. Aku setengah gila, kalau saja aku tidak punya iman yang kuat mungkin aku lebih memilih mati dari pada harus melihatmu bersama perempuan yang sekarang kamu banggakan itu. Tanpa fikir panjang aku memulai petualanganku sendiri, aku membeli tiket liburan ke tempat impianku. Saat itu aku hanya ingin pergi jauh, pergi ke tempat yang tidak ada bayanganmu sama sekali. 

4. Perjalanan sendirian itu titik balik untuk aku benar benar melepaskanmu.

New Journey via https://www.instagram.com

Aku memulai perjalananku sendirian tepat di hari ulang tahunku yang ke 25 tahun, 28 Juni 2017. Aku pergi dengan segala gemuruh di dada, dengan perasaan yang kacau, dengan mata bengkak karena tak berhenti menangis, dengan fikiran yang sudah tidak seirama lagi dengan tubuh. Aku memilih penerbangan paling pagi, aku tidak mau menghabiskan hari ulang tahunku di kota Bandung, terlalu miris. Lombok, kota yang aku pilih sebagai tempat aku memperbaiki hati. Aku benar-benar sendirian di Lombok, dan sebelumnya memang belum pernah ke Lombok. Untungnya Lombok punya sejuta pesona yang mampu menghilangkan kamu dari fikiranku. Saat di lombok aku mengunjungi pantai yang sepi dengan buku catatan di tangan dan headseat di telinga. Aku habiskan dari siang sampai malam untuk menjernihkan fikiranku di pinggir pantai. Aku mulai mencatat semua positif dan negatif ketika aku berhubungan sama kamu. Sampai pada akhirnya aku mendapatkan kesimpulan bahwa semakin aku mempertahankan hubungan aku dengan kamu, semakin aku tersakiti dan semakin tidak ada manfaatnya. Di bandara Lombok saat aku telah menghabiskan liburanku, aku berjanji pada diriku sendiri, aku sudah cukup rasanya di sakiti, aku sudah cukup di khianati, aku rasa aku juga berhak bahagia dan aku akan segera memberikan titik pada kisah panjang kita agar kisah yang aku sebut masa lalu itu tidak akan terulang. 

5. Mengikhlaskanmu adalah caraku untuk melepaskanmu

Aku tahu masalah keikhlasan bukan hal yang mudah. Aku belajar banyak dari semua yang sudah aku dan kamu jalani selama ini. Aku sangat tahu sekali bahwa ini tidak akan mudah untuk di lewati. Belajar ikhlas itu tidak bisa sehari dua hari, bisa berbulan bulan atau bahkan bertahun tahun. Tapi aku selalu tekadkan pada hatiku bahwa aku pasti bisa mengkihlaskanmu dalan waktu yang singkat. Saat itu aku sampai pada satu titik dimana aku benar-benar kecewa. Kamu mengulangi pengkhianatan itu untuk kesekian kalinya. Aku kira aku sudah cukup berjuang selama ini, cukup meberi maaf atas pengkhianatanmu sebelumnya, tapi apa yang aku dapat? Lagi-lagi cuma kecewa yang aku dapat. Memang benar seberapa lama kamu menjalin hubungan dengan seseorang jika hanya kamu saja yang berusaha maka semuanya akan sia-sia, ini yang terjadi pada hubungan kita. Aku saja yang cuma yakin bahwa hubungan kita masih bisa di bawa ke arah yang lebih serius, aku saja yang maish yakin di setiap kesalahan kita bisa sama sama mulai dari 0 lagi.

Tapi bagaimana dengan kamu? Kamu tidak pernah menghargai apa yang aku lakukan, tidak pernah mempedulikan apa yang aku perbuat untuk mempertahankan hubungan kita. Pada saat itu di tengah sujud malam, aku memohon sekali sama tuhan untuk mengikhlaskan hati. Mengikhlaskan hatiku untuk melepaskamu dengan perempuan yang kamu pilih. Memang tidak akan segampang itu tapi aku tau Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hambanya. 

6. Terima Kasih dan Jangan Pernah Kembali

Terima Kasih untuk kamu yang pernah singgah lama. Untuk kamu yang pernah memberikan janji. Untuk kamu yang pernah mengukir senyum dan tawa di bibirku. Untuk kamu yang senantiasa 4,5 tahun menemani hari-hariku. Selamat berbahagia kamu dan dia. Selamat berjuang untuk kehidupan masing-masing. Jangan pernah kembali, karena aku juga punya jalan lain yang harus aku tuju.