Pantai Papuma merupakan salah satu tempat wisata di Jawa Timur dengan nuansa wisata yang masih alami. Pantai ini terletak di Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember.

 

 

1. Pukul 5 Sore Perjalanan Dimulai

Memutuskan memulai perjalanan jam 5 sore karena ingin berkemah dan menikmati matahari terbit.  Hujan yang turun cukup menghambat perjalanan kami. Sekitar jam 11 malam, kami baru memasuki kawasan Papuma. Jalan yang harus kami lalui berkelok-kelok dan cukup terjal. Harus berhati-hati apalagi jika berkendara pada malam hari dengan penerangan yang kurang mencukupi. Saat jalan yang dilalui sudah tidak tertutup pepohonan, kami bisa melihat pemandangan yang sangat menakjubkan. Lautan bintang yang bersinar sangat terang, terhampar luas di langit yang menjulang tinggi. 
 

2. Harga Tiket Masuk Sangat Bersahabat

Harga tiket masuk yang harus dibayar cukup murah, 5000 rupiah untuk masing-masing orang dan 2000 untuk kendaraan yang digunakan. Kami parkir sekitar 400 meter dari bibir pantai dan mulai menggelar tikar. Tenda mulai didirikan. Setengah jam berlalu akhirnya dua tenda siap digunakan. Kemudian menyiapkan arang untuk membakar sate yang sudah dibeli sebelumnya. Debur ombak menjadi latar suasana yang menambah kenikmatan. 
 

3. Matahari Terbit Menjadi Peristiwa yang Paling Dinanti

Terbangun sekitar pukul setengah 5 pagi. Suasana masih agak gelap. Setengah jam berlalu, langit di ufuk timur mulai terlihat kemerahan. Berlari menuju tepi pantai dengan wajah penuh senyuman. Tidak ingin melewatkan indahnya lukisan Tuhan.

4. Eksotisme Matahari Terbit Berpadu dengan Karang yang Menjulang Tinggi

Pantai ini terletak tepat di depan tenda yang kami dirikan. Ada batu yang cukup besar yang terletak di tepinya. Bisa digunakan untuk pemotretan dengan latar eksotisme matahari terbit dan karang yang menjulang tinggi. 
 

5. Bergerak ke Sisi Barat, Temukan Pesona yang Tidak Kalah Menakjubkan

Terletak di sisi sebelah barat dari tempat kami mendirikan tenda. Pemandangan dari tebing ini tidak kalah mempesona. Berlatar karang-karang dan deburan ombak laut lepas, tempat ini juga mengundang kekaguman. Langit biru cerah dan air laut yang berwarna biru kehijauan membuat tidak sabar untuk segera turun ke bibir pantai.
 

6. Tersadar Ketika Mendengar Pluit Petugas Keamanan

Terlihat ikan-ikan kecil berenang dari celah batu karang. Ombak besar beberapa kali menerjang tapi tidak cukup membuat ingin beranjak dari tempat ini. Pesona alami sanggup menghipnotis hingga tidak menyadari bahwa ini adalah kawasan terlarang. Seolah terbangun dari mimpi ketika mendengar suara peluit dari petugas keamanan. Terburu-buru meninggalkan tempat ini dengan perasaan kaget bercampur senang.

7. Menikmati Hamparan Pasir Putih nan Halus yang Menggelitik Telapak Kaki

hamparan pasir putih dan bebatuan

hamparan pasir putih dan bebatuan via http://thehighestskyscraper.blogspot.co.id

Berlama-lama menikmati pasir putih dan buih di lautan. Terdapat banyak bebatuan yang terhampar di sepanjang pantai. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya keindahan. Matahari naik semakin tinggi, ombak yang berlarian semakin menjulang. Air laut pasang, menggenangi hampir seluruh bibir pantai. Rasanya kenikmatan menikmati keindahan belum terpuaskan.

Kami kembali ke pantai yang pertama. Tempat ini sudah ramai oleh pengunjung. Ombak di tempat ini tidak terlalu besar, memungkinkan anak-anak bermain dan berenang sesuka hati. Kami berfoto untuk yang kesekian kali. Masih tidak rela untuk meninggalkan tempat ini. Sebenarnya pantai ini masih membentang jauh ke arah timur tapi waktu mengharuskan kami untuk segera kembali.

Ketika perjalanan pulang, baru menyadari bahwa di salah satu sisi jalan terdapat hutan yang cukup lebat. Ternyata Papuma tidak hanya menawarkan keindahan pantai, tapi juga berdampingan serasi dengan hutan yang masih terjaga keasriannya.
 

#IniPlesirku