Jika suatu saat kamu memutuskan untuk menyusuri malam dengan langkah yang gemulai, menikmati lambaian angin sepoi, memunguti helai demi helai daun mapel yang berguguran, lampu-lampu temaram di kejauhan, atau romantisme di antara bangku-bangku taman musim dingin yang selalu menyimpan asmara yang tak pasti ujung ceritanya. Jika suatu saat kamu masih memutuskan untuk sendiri, menghabiskan waktumu untuk menikmati fiksi-fiksi yang menyentuh hati, menulis cerita yang selalu kau simpan untuk dirimu sendiri dan kau yang teramat menyiksa diri karena tidak pernah bisa terbebas dari rasa sepi.

Cobalah sekali waktu untuk datang ke sebuah taman musim dingin di kota kecil, di pinggiran kota Manchester. Tempat di mana pohon-pohon mapel tumbuh dengan suburnya, di sepanjang aliran sungai Irwel. Kau bisa menemukan dirimu di sana, yang tersesat seperti kereta tanpa tujuan dari stasiun Piccadilly. Lalu kau memutuskan untuk berhenti sejenak di taman musim dingin ini dan mencari kenangan yang sempat hilang bersama seorang gadis berkulit pucat yang ditemui tempo hari, saat kuliah musim panas baru dimulai.

Ya, bagimu pertemuan adalah awal dari sebuah kenangan yang mungkin tidak akan mudah dilupakan. Dengan diam-diam, kamu yang sudah mulai jatuh cinta akan mencatat cerita tentangnya. Kamu akan menambah beberapa hal sehingga cantiknya dalam sebuah cerita akan terlihat sempurna. Lesung pipinya, senyumnya, bahkan cara dia menyapamu. Lambaian tangannya hingga kau pun bisa menghapal cara berjalannya.

Kamu pernah sekali mengajaknya ke Heaton Park di kala senja musim gugur. Kalian menikmati beberapa permainan bahkan makan malam bersama. Kalian masih sempat berdebat, siapa yang akan membuat doa. Kebersamaan itu memang sederhana. Tetapi saat dia jadi kenangan, itu akan menyiksa.

Kamu memang harus akui semuanya. Jika suatu sore yang sederhana, saat kamu dan dia baru pulang kuliah, kamu mengajaknya untuk duduk di pinggiran sungai Irwell, sambil menatap matahari yang hampir terbenam di hilir sungai yang berlatarkan kota Manchester itu.

Kamu hampir menyuruhnya untuk menatap matamu. Jika saja kamu tidak segera ingat bahwa kata-kata itu pernah kalian dengar saat menonton sebuah film romantis saat pulang dari Heaton Park.Sebenarnya kamu hanya diam hingga senja beranjak jadi malam Manatapi. Aliran sungai yang membawa daun-daun gugur dan itu semua seperti sesalmu, yang tidak pernah punya nyali untuk sebuah rasa cinta yang selalu kamu pendam untuk kesekian kalinya.

Terkadang hidup memang tidak seperti yang kamu sangka. Dalam sebuah cerita romantis, berlaku siapa berani, dia dapat. Itu berlaku bagimu karena sejak saat itu, kamu tidak pernah lagi bertemu dengannya meskipun kamu selalu menghabiskan waktu di taman kampus hingga sore hari. Sekedar mengunjungi perpustakaan atau bahkan mengintip kelas demi kelas untuk menemukan wajah seorang wanita yang mungkin hanya akan jadi kenangan di kepala dan dalam cerita.

Karena itulah, aku menyarankanmu untuk mencoba menyusuri taman musim dingin ini. Mungkin bisa membingkai hati yang sedang patah menjadi sebuah inspirasi. Karena sebuah kisah tidak akan pernah bisa mati.

Saat kamu sedang duduk manis di sebuah bangku, menikmati cahaya senja yang tersesat di antara dahan-dahan pohon yang meranggas, kamu akan melihat seorang gadis yang raut wajahnya seakan linglung. Mencari sesuatu dan kamu akan memberanikan diri untuk menanyakannya, "Anda mencari siapa?" Dan dengan tersenyum dia akan menjawabnya, "Mencari kenangan.." Lalu kamu akan menatapnya heran dan kembali bertanya, "Kenangan, bukankah itu terlalu klise?" Dia akan balas menatapmu," Anda sendiri mengapa disini kalau tidak mencari kenangan?" Lalu kalian berdua akan saling pandang dan tiba-tiba saja tertawa dan sama-sama berkata, "Kita pencari kenangan.."

Lalu kamu akan mengajaknya duduk dan dia mulai bercerita, tentang mengapa dia datang ke taman musim dingin ini: mencari kenangan. Dia adalah seorang gadis patah hati dan menyukai seorang penulis yang senang membuat taman ini sebagai latar ceritanya. Entah mengapa dia sangat menyukainya. Taman yang membosankan itu tiba-tiba bisa jadi sebuah taman yang indah dalam sebuah cerita.

"Dan ceritanya itu pasti sentimentil. Di mana cerita itu akan berakhir, saat penulis itu tidak mendapatkan cinta si gadis yang disukainya. Lalu dia memutuskan untuk kembali lagi ke taman itu untuk mencari kenangan yang sama dan berharap bertemu dengan gadis yang sama.." katamu memotong ceritanya.

"Darimana kamu tau?" "Karena aku juga sudah membacanya.." "Ya, memang buku yang dia tulis sudah diterbitkan dengan selfpublishing. Tetapi cerita-ceritanya terlalu galau dan tidak banyak yang menyukainya.." "Tetapi aku menyukai tulisannya.." "Aku juga.." "Karena tulisannya itu jugalah mungkin kita bertemu disini.." "Bisa saja, hahaha.."

Percakapan yang berlanjut akan membuat kalian lupa bahwa hari sudah beranjak malam. Entah mengapa kalian berdua saling berjanji untuk kembali ke sini esok hari. Saat akan pergi, kamu masih sempat mengamatinya di bawah lampu-lampu taman yang temaram. Dia mirip dengan tokoh cerita yang selalu kamu tulis itu dan kamu, baru menyadarinya.

Itu adalah hari yang sempurna dan kamu akan mencatatnya sebagai sebuah cerita, hingga suatu saat nanti, di suatu waktu, suatu musim, dan di sebuah cerita yang berbeda, akan ada sebuah akhir yang sama. Sebuah pertemuan karena sebuah cerita.

1. Menyentuh

Bayangkan jika dirimu adalah seorang lelaki yang selalu kesepian karena kenangan yang selalu membentang. Bayangkan juga di suatu sore yang sederhana, kamu bertemu dengan kekasihmu di sebuah taman yang tidak terlalu ramai. Kekasihmu berkata, "Terima kasih untuk sajak-sajakmu. Tetapi maaf, kali ini aku telah memutuskan untuk tidak lagi jatuh cinta."

Lalu kamu akan mulai gundah, mencoba bertanya kepada rumput yang bergoyang. Kepada daun-daun yang berguguran, burung-burung yang beterbangan, tentang sebuah hal, "Apakah kita berhak untuk memutuskan kita akan jatuh cinta?" Tetapi mereka semua diam seakan ikut merasakan galaumu.

Dan sejak peristiwa di taman itu, kamu akan memutuskan membaca ulang semua puisi dan cerita-cerita yang pernah kamu kirim kepadanya. Apakah ada yang salah atau adakah seorang yang telah membuatmu kalah? Hingga suatu pagi yang sempurna, saat kamu menikmati segelas kopi dan membaca koran berisi berita biasa-biasa saja, ponselmu berdering. Sebuah pesan singkat masuk dari wanita yang kamu cinta.

Advertisement

"Cinta bukan perkara sajak atau cerita. Belum tentu kata bisa membuat jatuh cinta. Kata sangat jauh intervalnya dengan nada. Nada-nada dengan irama sempurna telah membuatku jatuh cinta." Kamu tersenyum pahit. Mungkin sepahit kopi tanpa gula yang kamu nikmati pagi ini. Mengapa? Karena kamu tidak tahu apa-apa tentang nada.

Meskipun dengan sombong kamu pernah berkata, kamu sangat suka sebuah band asal Denmark, yang beberapa waktu lalu pernah konser di Indonesia, tetapi bukan kah kau menyukai lagu-lagunya karena liriknya yang sentimentil?

Kamu terdiam. Kamu amati pesan singkat itu dengan seksama. Berharap ada inspirasi dari sana. Setidaknya inspirasi patah hati yang melankolistis Kau teringat. Saat pertama mengiriminya puisi, dia begitu bersemangat sambil berkata, "Setengah jiwaku tinggal dalam puisi." Dan kamu tersenyum mengenangnya. Tetapi kini kamu telah menghabiskan waktu untuk mendengar lagu-lagu galau Jikustik yang menurutmu sangat sesuai untukmu." Kapan lagi kutulis untukmu, tulisan-tulisan indahku yang dulu, pernah warnai dunia, puisi terindahku hanya untukmu.

"Kamu memang tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran seorang wanita. Kamu juga tidak tahu apa yang dilihat mata beningnya itu. Tidak tahu apa yang diucapkan bibir tipisnya yang mungil. Kamu juga tidak tahu ke mana sapasang kakinya akan menuntunnya melangkah. Tetapi satu yang pasti, kamu tahu bahwa kamu akan menantinya kembali.

Mungkin selama menanti, kamu bisa menulis beberapa buah puisi dan cerpen. Merenungi hari-hari atau belajar memperpendek interval kata dan nada. Kamu juga bisa untuk mengingat kenangan tentangnya, mengingat kesalahan saat kalian bersama, sehingga kamu tidak lagi mengulangi untuk kedua kalinya.

Bukankah dalam tulisan yang kamu tulis dulu, kepadanya kamu pernah menyatakan bahwa hidup ini sederhana? Sesederhana kamu yang selalu menulis kata-kata sambil menantinya. Sesederhana jarum jam yang terus bergerak, tanpa ada usaha untuk menghentikannya. Meskipun kamu harus mengakuinya, bahwa kamu selalu membawakannya dalam doa. Karena kamu pernah membaca, bahwa hal teromantis dalam cinta adalah mendoakan orang yang kita cintai.

Kamu memang harus menerima semuanya. Meskipun harapan yang kamu tanam seakan-akan tidak tumbuh dan berakar. Tetapi kamu tahu bahwa suatu waktu, nada-nada itu akan berhenti jika tidak ada lagi bunyi. Tetapi dengan kata-kata dalam tulisan, semua bisa abadi.

Hingga suatu senja yang sederhana, kamu sedang duduk menikmati lagu Forever and a Day-nya MLTR. Ponselmu akan berdering. Sebuah pesan masuk dari nomor yang memang sudah benar-benar kamu hapal mati, "Kau masih sendiri? Bolehkah aku menemani? Aku rindu mendengar sajak-sajakmu dan membaca ceritamu."

Kamu tersenyum lalu mengerdip ke arahku seakan berkata, "Memang benar katamu. Cinta itu hanya tentang perihal kesabaran usaha dan waktu." Lalu waktu berlalu. Lampu-lampu temaram akan menaungimu berbagi cerita tentang apa saja saat kalian tidak bersama. Satu waktu berlalu karena memang satu momen hanya untuk satu masa.

2. Jadikan aku nafasmu

esa osman zalukhu

esa osman zalukhu via http://esazalukhu.blogspot.com

Biarkan angin bertiup di atas pasir..
Ataupun hujan membasahi bumi
Tetaplah disisiku ,
Aku akan selalu menjagamu

Dan janganlah kau resahkan..
Esok , lusa dan liku-likunya
Selama kita masih saling percaya
Dan selalu memegang rasa cinta
Semua akan indah…
Walau keindahan itu hanya di hati kita
Tetapi kitalah yang akan merasakannya

Cinta adalah kenyataan hati
Yang akan terus ada selama kita meyakininya
Dan selalu mempertahankan rasa
Agar tak mati oleh keadaan

Kau cintaku..jadikanlah aku nafasmu
Agar tak kan terlepas
Selama nyawa masih di badan
Sehingga abadi rasa yang terjadi

Buatlah semua yang tak sempurna..
Menjadi sempurna dengan rasa cintamu
Agar tak pernah ada keraguan
Yang sering ada , ketika cobaan datang
Sehingga cinta akan tetap menyala
Di dalam hati di dalam kenyataan

Kau cintaku…padamu aku berharap
Untuk cinta dan kesetiaan
Semoga selalu menyala
Di hidup dan di dalam jiwa .

 

3. Secangkir kopi di senja sore

Sebuah Inspirasi Tak Bisa Menjelaskan Sesuatu,
Sebab, Inspirasi Selalu Bersembunyi

Aku Bukanlah Seorang Yang Mengerti Tentang Kelihaian Membaca HATI
"Ku hanya Pemimpi Kecil yang Berangan, untuk Merubah Nasib

4. Sebuah ending

Sebuah ending adalah yang dinanti dari sebuah kisah. Sama seperti jalan cerita kehidupan ini, jalan cerita Komik karya Masashi Kishimoto ini hampir tidak tertebak endingnya. Tapi apakah kamu melihat foto tersebut? Mungkin akan ada persepsi yang terlintas di otak anda. Sebuah kisah tentang Naruto akan kamu ulang di pikiranmu. Apa yang terjadi sebenarnya? Apa dan mengapa endingnya begitu?

Jujur! Aku pun tidak bisa menebak apa itu sebuah akhir dari cerita yang akan disuguhkan cerita ini. Sepertinya memang kisah mereka akan diakhiri dengan Happy Ending. Tetapi pertanyaannya, siapa dengan siapa? Mungkin gambar ini akan menjawabnya dan Hokage keenam adalah Kakashi, dilanjutkan Naruto sebagai Hokage ketujuh (Mungkin).

5. Pencari kenangan

Jika suatu saat kamu memutuskan untuk menyusuri malam dengan langkah yang gemulai, menikmati lambaian angin sepoi, memunguti helai demi helai daun mapel yang berguguran, lampu-lampu temaram di kejauhan, atau romantisme di antara bangku-bangku taman musim dingin yang selalu menyimpan asmara yang tak pasti ujung ceritanya.
Jika suatu saat kamu masih memutuskan untuk sendiri, menghabiskan waktumu untuk menikmati fiksi-fiksi yang menyentuh hati, menulis cerita yang selalu kau simpan untuk dirimu sendiri dan kau yang teramat menyiksa diri karena tidak pernah bisa terbebas dari rasa sepi.

Cobalah sekali waktu untuk datang ke sebuah taman musim dingin di kota kecil, di pinggiran kota Manchester. Tempat di mana pohon-pohon mapel tumbuh dengan suburnya, di sepanjang aliran sungai Irwel. Kau bisa menemukan dirimu di sana, yang tersesat seperti kereta tanpa tujuan dari stasiun Piccadilly. Lalu kau memutuskan untuk berhenti sejenak di taman musim dingin ini dan mencari kenangan yang sempat hilang bersama seorang gadis berkulit pucat yang ditemui tempo hari, saat kuliah musim panas baru dimulai.

Ya, bagimu pertemuan adalah awal dari sebuah kenangan yang mungkin tidak akan mudah dilupakan. Dengan diam-diam, kamu yang sudah mulai jatuh cinta akan mencatat cerita tentangnya. Kamu akan menambah beberapa hal sehingga cantiknya dalam sebuah cerita akan terlihat sempurna. Lesung pipinya, senyumnya, bahkan cara dia menyapamu. Lambaian tangannya hingga kau pun bisa menghapal cara berjalannya.

Kamu pernah sekali mengajaknya ke Heaton Park di kala senja musim gugur. Kalian menikmati beberapa permainan bahkan makan malam bersama. Kalian masih sempat berdebat, siapa yang akan membuat doa. Kebersamaan itu memang sederhana. Tetapi saat dia jadi kenangan, itu akan menyiksa.

Kamu memang harus akui semuanya. Jika suatu sore yang sederhana, saat kamu dan dia baru pulang kuliah, kamu mengajaknya untuk duduk di pinggiran sungai Irwell, sambil menatap matahari yang hampir terbenam di hilir sungai yang berlatarkan kota Manchester itu.

Kamu hampir menyuruhnya untuk menatap matamu. Jika saja kamu tidak segera ingat bahwa kata-kata itu pernah kalian dengar saat menonton sebuah film romantis saat pulang dari Heaton Park.Sebenarnya kamu hanya diam hingga senja beranjak jadi malam Manatapi. Aliran sungai yang membawa daun-daun gugur dan itu semua seperti sesalmu, yang tidak pernah punya nyali untuk sebuah rasa cinta yang selalu kamu pendam untuk kesekian kalinya.

Terkadang hidup memang tidak seperti yang kamu sangka. Dalam sebuah cerita romantis, berlaku siapa berani, dia dapat. Itu berlaku bagimu karena sejak saat itu, kamu tidak pernah lagi bertemu dengannya meskipun kamu selalu menghabiskan waktu di taman kampus hingga sore hari. Sekedar mengunjungi perpustakaan atau bahkan mengintip kelas demi kelas untuk menemukan wajah seorang wanita yang mungkin hanya akan jadi kenangan di kepala dan dalam cerita.

Karena itulah, aku menyarankanmu untuk mencoba menyusuri taman musim dingin ini. Mungkin bisa membingkai hati yang sedang patah menjadi sebuah inspirasi. Karena sebuah kisah tidak akan pernah bisa mati.

Saat kamu sedang duduk manis di sebuah bangku, menikmati cahaya senja yang tersesat di antara dahan-dahan pohon yang meranggas, kamu akan melihat seorang gadis yang raut wajahnya seakan linglung. Mencari sesuatu dan kamu akan memberanikan diri untuk menanyakannya, "Anda mencari siapa?" Dan dengan tersenyum dia akan menjawabnya, "Mencari kenangan.." Lalu kamu akan menatapnya heran dan kembali bertanya, "Kenangan, bukankah itu terlalu klise?" Dia akan balas menatapmu," Anda sendiri mengapa disini kalau tidak mencari kenangan?" Lalu kalian berdua akan saling pandang dan tiba-tiba saja tertawa dan sama-sama berkata, "Kita pencari kenangan.."

Lalu kamu akan mengajaknya duduk dan dia mulai bercerita, tentang mengapa dia datang ke taman musim dingin ini: mencari kenangan. Dia adalah seorang gadis patah hati dan menyukai seorang penulis yang senang membuat taman ini sebagai latar ceritanya. Entah mengapa dia sangat menyukainya. Taman yang membosankan itu tiba-tiba bisa jadi sebuah taman yang indah dalam sebuah cerita.

"Dan ceritanya itu pasti sentimentil. Di mana cerita itu akan berakhir, saat penulis itu tidak mendapatkan cinta si gadis yang disukainya. Lalu dia memutuskan untuk kembali lagi ke taman itu untuk mencari kenangan yang sama dan berharap bertemu dengan gadis yang sama.." katamu memotong ceritanya.

"Darimana kamu tau?"
"Karena aku juga sudah membacanya.."
"Ya, memang buku yang dia tulis sudah diterbitkan dengan selfpublishing. Tetapi cerita-ceritanya terlalu galau dan tidak banyak yang menyukainya.."
"Tetapi aku menyukai tulisannya.."
"Aku juga.."
"Karena tulisannya itu jugalah mungkin kita bertemu disini.."
"Bisa saja, hahaha.."

Percakapan yang berlanjut akan membuat kalian lupa bahwa hari sudah beranjak malam. Entah mengapa kalian berdua saling berjanji untuk kembali ke sini esok hari. Saat akan pergi, kamu masih sempat mengamatinya di bawah lampu-lampu taman yang temaram. Dia mirip dengan tokoh cerita yang selalu kamu tulis itu dan kamu, baru menyadarinya.

Itu adalah hari yang sempurna dan kamu akan mencatatnya sebagai sebuah cerita, hingga suatu saat nanti, di suatu waktu, suatu musim, dan di sebuah cerita yang berbeda, akan ada sebuah akhir yang sama. Sebuah pertemuan karena sebuah cerita.