Hari ini, sudah dua bulan lebih sejak kamu mengutarakan sebait kata yang membuatku harus benar-benar pergi darimu. Tak berpikir panjang, aku memintamu untuk tak menghubungiku. Saat itu aku berkata bahwa aku hanya butuh waktu. Tapi entahlah, akupun tak benar-benar yakin dengan diriku. Nyatanya hinga sekarang kita masih saja tak bisa saling membisu. Dan benar, aku tak mampu.

Benarkah aku sayang padamu? Atau hanya karena terbiasa, hingga aku tak bisa lupa...

1. Aku sadar aku bukan siapa-siapa.

Tampar saja aku, biar aku makin sadar via https://www.google.com

Aku sakit, aku menangis, aku kesal. Tapi aku tak bisa membencimu. Tahukah kamu, bahwa hingga sekarang aku masih sering membaca suratmu, untuk sekadar mengingatkan pada diriku, saat aku mulai lupa bahwa aku bukan siapa-siapa. Dan apakah kamu tahu bahwa air mata ini masih saja keluar? Lalu perasaan macam apa ini jika untuk tak peduli terhadap segala hal tentangmu saja aku tak bisa.

2. Maafkan aku, jika hingga sekarang aku masih merasa rindu

Izinkan aku tetap bercerita padamu, meski hanya lewat sebait tulisan via https://www.google.com

Aku rindu saat kamu bercerita tentang apapun padaku. Aku rindu waktu kamu meminta pendapat dan saran padaku saat akan melakukan apapun. Aku rindu saat aku pernah jadi orang pertama yang kamu beritahu ketika tulisanmu sudah siap untuk dibaca. Aku rindu saat kamu menjelaskan apapun tanpa pernah aku bertanya. Aku rindu saat kita tak pernah kehabisan alasan untuk terus saling berbalas pesan singkat. Aku rindu saat jam 12 malam adalah waktu yang masih terlalu dini untuk tidur. Aku rindu saat aku selalu ingin cepat bangun untuk membaca ucapan selamat pagi darimu. Aku rindu membangunkanmu yang selalu tidur selepas subuh. Aku rindu mengejekmu yang susah disuruh mandi. Dan malam ini, aku kembali menangis. Kembali rindu padamu.

3. Aku hanya sebagai penutup waktu kosongmu. Entah perasaanku, atau memang adanya begitu.

Advertisement

Aku tak percaya kamu setega itu, sayang via https://www.google.com

Setelah apa yang kamu lakukan padaku, apakah kamu lupa bahwa aku juga punya perasaan, hingga kamu bisa seenaknya datang dan pergi meminta saran? Salahkah jika aku berpikir demikian? Bisakah kamu jawab padaku, ke mana dia yang selalu kamu harapkan hingga kamu tega meninggalkanku yang siap menemanimu berjalan beriringan? Sadarkah kamu, bahwa tak pernah sedikitpun aku mengabaikanmu meski dengan menahan kesakitan? Iya, terkadang aku memang berpikir bahwa aku hanya pengisi waktu kosongmu.

4. Untuk marah saja aku tak berhak, terlebih menuntut untuk tetap berpihak.

Aku bisa apa via https://www.google.com

Aku benci pada diriku sendiri. Aku benci padamu yang datang dan pergi dengan seenaknya. Kamu tahu bagaimana rasanya berjam-jam menunggu chat untuk dibaca olehmu, namun saat sudah terbaca tak ada balasan apapun yang masuk di ponselku? Kamu tahu saat aku benar-benar ingin menanyakan keadaanmu, namun aku lebih memilih menahan diri untuk tidak melakukannya? Kamu tahu rasanya saat merindukan seseorang, namun hanya bisa bercerita lewat tulisan? Dan kamu tahu bagaimana memiliki perasaan yang tak terbalaskan? Ah rasanya kamu memang tak pernah merasakan jadi aku.

5. Bahkan hingga sekarang, luka itu masih saja kupelihara.

Peluk aku Tuhan, biar aku tak jatuh, lagi, dan lagi via http://blackartcard.com

Tahukah kamu sudah berapa puluh artikel yang kubaca, tentang keterpisahan, rindu yang tak tersampaikan, atau cinta yang tak tergenapkan? Tahukah kamu berapa kata motivasi yang kucari, bahwa katanya tak masalah untuk sendiri, anjuran fokus untuk memperbaiki diri, atau sekadar penyemangat untuk tetap mencari. Ketahuilah sayang, bahwa semua itu tak mempan. Aku menangis, lagi, dan lagi. Aku terus mengulangi cerita yang sama tentang penyesalan karena buru-buru mengambil kesimpulan. Ah, sayang, rasanya memang tak ada yang benar-benar bisa menyembuhkan lukaku, tak juga kau, terlebih sang waktu.

6. Namun, kamu tetaplah kamu, orang yang pernah dan masih aku sayangi hingga saat ini.

Iya, kamu tetap kamu via https://www.google.com

Kuharap kamu tidak lupa, bahwa kepadamu, aku pernah menitipkan cinta, meski akhirnya yang kudapat adalah luka. Sayang, mengapa secepat itu perasaanmu berubah? Baru kemarin bicara masa depan, sekarang sudah ganti ucapan. Sekarang bilang sayang, esok tak tahu apa yang akan kau katakan. Aku tak tahu harus bagaimana, yang jelas, hingga sekarang, aku tak bisa mengangapmu sebagai seorang kakak, seperti katamu dulu, bahwa aku adalah adikmu. Bagiku, kamu tetaplah kamu, orang yang masih tersimpan dalam sudut ruang hatiku.