“Marah itu adalah menghukum diri sendiri karena kesalahan orang lain.”

Kutipan yang berasal dari salah satu kata mutiara di stasiun televisi swasta itu memang ada benarnya.

 

Tapi sabar sebesar apa yang membuat manusia bisa menahan kemarahannya terhadap suatu hal?

Rasa kekecewaan yang bercampur menjadi satu dengan emosi dan kekesalan, biasanya akan meledak menjadi kemarahan yang menyeramkan. Marah itu memang manusiawi. Selama masih punya napas, tenaga, dan daya pikir yang jernih, semua orang bisa marah terhadap sesuatu yang ada di sekelilingnya. Tapi kamu tentu tidak mau kan kalau reputasimu yang baik malah hancur karena emosi sesaat?

Sebenarnya ada banyak cara untuk melampiaskan kemarahan dengan cara yang lebih classy dan elegan. Jadi ketika kamu marah, setidaknya kamu harus mengingat keenam hal penting ini:

1. Berikan senyum palsu seolah-olah semua baik-baik saja.

Senyuman (yang palsu sekalipun) ternyata bisa menstabilkan mood dan mengurangi stres via http://rantpets.com

Kamu bebas menangis seharian di kamar atau di bawah pancuran shower untuk melampiaskan kemarahan yang ditahan sepanjang hari. Puas melampiaskan kemarahanmu saat sedang sendiri, selanjutnya kamu harus tersenyum palsu di depan orang-orang yang kamu cintai.

Bukan!

Senyum palsu itu bukan mengajarkan kamu untuk jadi orang yang munafik atau lari dari kenyataan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Paul Ekman di bidang psikologi dan face coding pada tahun 1990-an, ekspresi senyum yang dilakukan secara tulus atau palsu bisa membantu memperbaiki mood dan meminimalkan gejala stres.

Advertisement

Daripada kamu terus menerus tegang karena kemarahan yang menyiksa, lebih baik kamu memilih untuk tersenyum. Sekalipun senyum di wajahmu itu palsu, senyum itu menjadi simbol kalau kamu sedang berusaha untuk jadi pribadi yang lebih bijak dan lebih baik lagi. Jadi, bagaimana kalau kamu sudah tidak sanggup lagi memberi senyum terhadap sesuatu yang membuatmu marah? Lakukanlah poin-poin berikutnya.

2. Diam dan kemudian pergi.

Ciptakan suasana kondusif agar kemarahan tak berlarut via http://gossipfunsouls.tumblr.com

Kadangkala sikap diam yang kamu pilih, dianggap tidak membuat masalah selesai dengan baik. Tapi sikap diam itu adalah pilihan paling bijak untuk membuat kepalamu tetap dingin saat suasana hati tengah memanas. Dengan memutuskan untuk diam, kamu sudah menghindari adu mulut atau adu jotos yang mungkin terjadi antara kamu dan orang yang membuatmu marah.

Perselisihan pasti tidak selesai kalau kamu memilih untuk pergi meninggalkan sang sumber kemarahan. Permasalahan tidak menuntut untuk diselesaikan secepat mungkin, melainkan menanti untuk diselesaikan sebijak mungkin.

Mengambil langkah diam dan pergi membuat kamu punya kesempatan untuk merenung dan menenangkan dirimu sendiri. Sebab bisa saja timbul masalah baru kalau kamu menceracau ketika marah. Hatimu dan hati orang lain bisa tersakiti karena kemarahan yang memperkeruh suasana.

3. Jangan marahi orang lain yang tidak tahu apa-apa.

Kemarahan tanpa sebab akan membuat orang lain jengkel via http://jakenelsonart.com

Amarah yang memuncak sampai ke ubun-ubun, bisa saja membuatmu jadi lepas kendali bahkan ketika berhadapan dengan orang yang tidak tahu apa-apa. Sepertinya kekesalan akan seseorang atau sesuatu harus kamu redam sejenak agar tetap bisa bersikap wajar dalam menghadapi orang lain atau situasi lain.

Kemarahanmu pada anggota keluarga, tidak boleh dilampiaskan pada sahabat, teman kampus, pacar, atau rekan kerja. Begitu pula sebaliknya. Bisa-bisa orang yang ada di sekelilingmu malah menganggap kamu adalah pribadi yang gampang emosi dan tidak tahu cara yang tepat untuk menempatkan diri.

4. Haram hukumnya mengumpat di media sosial atau status aplikasi chat.

Menunjukkan kemarahan di media sosial jadi pertanda belum dewasa via http://ianchadwick.com

Di zaman yang serba modern ini, rasanya sangat aneh kalau kamu tidak meng-update aktivitas atau ungkapan hatimu di media sosial. Media sosial dan aplikasi chat memang menjadi sarana komunikasi untuk berbagi dengan orang lain, namun bukan untuk berbagi kemarahan. Apa kamu mau kalau sumpah serapahmu di media sosial atau status BBM malah jadi bahan gosip untuk pengguna media sosial yang mengenalmu?

Membayangkannya saja pasti sudah sangat menyebalkan. So, kamu perlu ingat dan sadar kalau tidak semua orang bisa berempati dengan masalah dan kekesalan yang sedang kamu alami. Tidak seharusnya kamu membiarkan orang lain mengambil kesempatan untuk menjatuhkanmu cuma karena perilakumu yang keliru di media sosial.

Belajar mengelola emosi secara bijak agar nantinya kecanggihan teknologi tidak menjadi fasilitas untuk menempatkan makian yang kasar.

5. Selfie sambil nangis? Big no!

Selfie sambil nangis? What on earth are you thinking about? via http://mixmasterthrowdown.com

Fenomena “selfie sambil menangis” sepertinya sudah jadi salah satu tren di kalangan para pengguna media sosial, terutama yang usianya masih remaja. Selain bisa mengungkapkan kekesalan dan amarah yang terpendam, selfie sambil menangis pasti bertujuan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain.

Memangnya benar orang lain akan lebih perhatian sama kamu kalau sudah melihat foto “selfie sambil menangis” milikmu?

Sesungguhnya tidak cocok jika tren “selfie sambil menangis” disebut sebagai pemicu timbulnya perhatian. Akan lebih tepat kalau tren tersebut dikategorikan sebagai pemicu reaksi. Ya, reaksi jijik. “Selfie sambil menangis” menunjukkan bahwa kamu adalah pribadi yang suka mempertontonkan drama hidup dan kesedihan seakan-akan kamu manusia paling menderita di dunia.

Ingatlah kalau pengguna media sosial bukan hanya kamu seorang. Tentu saja setiap posting-mu bukan bertujuan untuk membahagiakan orang lain. Tapi setidaknya jangan buat orang lain malah jadi jijik dengan fotomu yang sedang “selfie sambil menangis”. Sungguh jangan kamu lakukan hal itu demi kebaikan dirimu sendiri.

6. Bercerita pada sahabat membuatmu jadi lebih lega.

Redakan kemarahan lewat curhat dengan sahabat. via http://101fundraising.com

Rasa marah yang sangat menyiksa dirimu, ternyata dapat dilampiaskan dengan cara kekinian dan bijaksana. Ya, mulailah mencari sahabatmu untuk menceritakan masalah dan kemarahan yang sedang kamu rasakan. Sahabat yang baik pasti akan menjadi pendengar setia ceritamu.

Lebih dari sekedar menjadikannya sebagai pendengar, tidak perlu segan untuk meminta pendapat sahabatmu dari sudut pandang yang netral. Sahabatmu yang baik bukanlah sahabat yang akan mendukungmu di setiap kondisi. Dia akan mendukungmu kalau kamu benar dan akan memberimu saran atau kritik jika sebenarnya kamu memang ada di posisi yang salah.

Setelah kamu selesai membaca enam hal sederhana ini dan berencana untuk mempraktikkannya, niscaya itu berarti kamu sudah berusaha jadi pribadi yang lebih matang dan dewasa. Jangan buat orang lain takut atau benci dengan kemarahanmu. Jadikanlah kemarahanmu sebagai sesuatu yang elegan dan mampu membuat orang lain malah jadi menyadari kekeliruannya.