Terimakasih ibu, nyatanya untuk menghadapi dunia yang semakin embuh ini tidak hanya membutuhkan ilmu yang kudapat dari bangku sekolah saja. Banyak juga ilmu yang kudapat darimu untuk tetap bisa bertahan di tanah perantauan.

Ibu, jika dulu setiap pagi engkau selalu menyiapkan sarapan tiap kali aku akan berangkat sekolah, kini semenjak aku tinggal di perantauan bersama adik sepupu, aku melakukan apa yang dulu ibu lakukan untuku terhadap adik sepupu.

Ibu maafkan anakmu ini, ternyata banyak sekali yang tidak kuketahui pengorbanan yang ibu lakukan selama ini. Sekarang aku menyadarinya, walaupun mungkin belum setara dengan yang ibu rasakan ketika dulu mengasuh ku. Namun setidaknya ini menjadi ilmu baru untukku sebagai gambaran untuk menjadi seorang ibu (kelak).

1. Sekarang aku tahu ibu, kenapa ibu tetap memasak di dapur, saat ibu bilang lagi sakit.

memasak di dapur via http://google.co.id

Menjadi seorang ibu telah membuat wanita menjadi kuat, tidak hanya mengandung, melahirkan, menyusui namun juga mengasuhnya. Mengurus rumah tangga yang terkadang hanya dipandang sepele oleh sebagian orang, padahal itu adalah pekerjaan mulia seorang wanita. Karena tanggung jawab nya mengurus rumah, hingga saat sakit pun tetap ingin berada di dapur. Sekarang aku tau ibu, kenapa ibu tidak tiduran di kamar saat ibu bilang lagi pusing, saat ibu bilang lagi sakit gigi, saat ibu bilang lagi nyeri, atau sakit yang lainnya. Justru di waktu yang sama masih kulihat ibu tetap memasak di dapur, menyapu rumah, dan lain sebagainya. 

2. Sekarang aku tahu ibu, bagaimana rasanya saat ibu membuatkan sarapan untukku, namun aku justru tidak mau sarapan.

Dulu  dengan entengnya aku menolak sarapan yang telah ibu buatkan untuk anakmu ini, sekarang aku tahu rasanya ibu, ternyata membuat pilu hati juga, setelah bangun pagi hanya untuk membuat sarapan, nyatanya justru aku tak memakannya. Iya bu kini aku tahu rasanya.

3. Sekarang aku tahu ibu, kenapa ibu tak pernah membiarkan makanan di meja makan tersisa sampai esok hari.

Advertisement

Bahkan saat malam tiba, jika masih ada makanan yang tersisa pasti ibu rela memakannya, karena tak akan membiarkan makanan yang sudah dimasaknya terbuang sia-sia.

4. Sekarang aku tahu ibu, bagaimana perasaan ibu ketika aku sakit perut atau nggak enak badan.

Setiap kali ada keluarga yang sakit, pasti terlintas dalam benak ibu, apakah ibu telah salah dalam memberi makan, apa makanan yang selama ini dimasak kurang bergizi dan lain sebagainya. Iyaa bu sekarang aku paham benar apa yang ibu rasakan saat itu.

5. Sekarang aku tahu ibu, betapa khawatirnya ibu ketika aku telat pulang saat main.

Maaf ibu dulu anakmu ini suka lupa waktu saat bermain, justru sering mematikan handphone agar ibu tak bisa menelpon, ibu pasti khawatir saat itu. Meski begitu ibu tak pernah marah denganku, ibu tetap mengizinkan aku bermain lagi esoknya. Sekarang aku tau ibu rasanya itu seperti apa.

Ibu semenjak aku tinggal beda pulau dengan ibu, aku selalu ingat dengan semua yang ibu lakukan untuk keluarga, terutama untuk anakmu ini, mungkin itu memang hal sepele, tapi bagiku itu tak bisa disepelekan.

Ibu maaf jika setahun terakhir tak bisa membantumu di rumah, tapi tanpa aku merantau aku yakin tak akan mendapat pengalaman yang seperti ini. Meski bukan uang yang ibu harapkan, tapi sampai saat ini pun anakmu belum juga bisa pulang. Masih banyak yang ingin ku capai di tanah ini ibu. Anakmu ini sedang belajar banyak hal agar bisa menjadi wanita hebat seperti ibu.

Aku tahu, harapan setiap ibu ketika rindu adalah hanya kehadiran seorang anak, bukanlah uang banyak ataupun barang mewah. Bukan juga anakmu ini lebih memilih pekerjaan dibanding menemani ibu dirumah, tapi bukankah dulu ibu menyekolahkan anakmu ini supaya sukses dimasa depan? Ibu, sekarang anakmu ini lagi berjuang berjalan menuju kesuksesan, yang tentunya tidak ada artinya tanpa restu dari ibu. Maka dari itu restui anakmu ini ibu.

Percayalah ibu, saat tiba waktuku pulang nanti, aku akan menjadi wanita setangguhmu. Terimakasih telah menjadi ibu yang luar biasa untukku.