Pertanyaan paling lumrah kita dengar ketika memperkenalkan calon suami kepada teman-teman adalah

Oh, Ya. Calon Kamu Lulusan Universitas Mana? Sekarang Kerja Dimana?

 

Awalnya ada sedikit rasa risih setiap kali pertanyaan itu muncul. Pertanyaan yang sebenarnya bisa selesai hanya melalui sebuah senyuman saja. Namun, Aku harus jujur tetang siapa lelaki yang akan menjadi pendamping masa depanku. Lelaki yang siap menerimaku apa adanya bukan ada apanya. Mungkin aku dianggap perempuan terbodoh versi kalian yang mau menerima cinta laki-laki yang jauh tertinggal dari segi pendidikan dariku. Sebelum menghakimiku terlalu jauh. Aku belajar banyak darinya

 

1. Darimu Aku Belajar Arti Ikhlas

Darimu Aku belajar ikhlas menerima semua kritikan yang disampaikan padaku. Kritikan yang kadang terlalu pedas untukku terima. Mungkin suatu hal yang wajar jika laki-laki menikahi perempuan yang tidak memiliki gelar di belakang namanya. Hal ini berbanding terbalik jika perempuan mau menerima laki-laki yang tidak memiliki gelar sarjana di belakang namanya.

Darimu Aku belajar Ikhlas bahwa tidak semua orang beruntung bisa mengenyam bangku perkuliahan atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Namun, Kamu selalu berusaha menyeimbangi aktivitasku. Bahkan kamu sekarang mampu berbaur dengan teman-temanku. Ini pencapaian luar biasa dimataku

2. Kamu Mengajarkanku Bagaimana Mengelola Keuangan yang Baik

Kamu pengatur keuangan yang handal

Kamu pengatur keuangan yang handal via https://www.google.co.id

Saat pertama kali mengenalmu. Gajimu hanya Rp 500.000/Bulan. Setiap bulan kamu hanya menerima gaji bersih Rp 500.000/bulan + Rp 30.000/hari untuk biaya makan. Jika aku kalkulasikan Gaji kotormu hanya Rp 1.400.000/bulan

Awalnya aku berfikir. Apakah aku tidak salah jatuh cinta? Bayang-bayang kecemasan masa depan menghantuiku. Angka Rp 1.400.000 sangat-sangat tidak cukup untuk memenuhi kehidupanku sendiri apalagi kita berdua kelak. Aku mencoba bertahan denganmu saat kamu berjanji akan membuka usahamu sendiri dalam beberapa tahun kedepan.

Kamu sadari atau tidak, darimu aku belajar bagaimana mengatur keuanganku yang selama ini kacau balau

3. Bagimu Bahagia itu Tidak Selalu Tentang Uang

Bahagia itu sederhana

Bahagia itu sederhana via https://www.google.co.id

Bagimu bahagia itu tidak selalu tentang uang. Kamu memiliki caramu sendiri untuk membahagiakanku. Kadang kamu melakukan hal gila layaknya kita masih kanak-kanak. Bermain sepeda denganmu dibawah rintik hujan adalah hal teromantis yang pernah aku rasakan. Kamu penuh kejutan

Disaat aku jenuh kamu kadang memberikan sebuah kejutan setangka bunga mawar merah. I love You

4. Dalam Diam Ternyata Kamu Lebih Romantis dari yang Aku Bayangkan

Mendengarkanmu bermain piano itu romantis

Mendengarkanmu bermain piano itu romantis via https://www.google.co.id

Kamu tau bagaimana memanjakanku

Kamu membuatku sangat kagum. Meski hanya lulusan SMP, Kamu tau arti romantis itu apa. Kamu memainkan tuts-tuts piano saat kita melihat pameran musik

 

 Aku hanya bisa terdiam seribu bahasa. Selama ini kamu tidak pernah mengatakan kalau kamu bisa memainkan alat musik seperti Piano dan Gitar. Semua kamu pelajari secara otodidak. Terimakasih

5. Kamu Memenuhi Janjimu 3 Tahun Lalu Memiliki Usaha Perfume Sendiri

Wangimu yang selalu terkenang

Wangimu yang selalu terkenang via https://www.google.co.id

Terimakasih. Setelah 3 tahun menjalani susahnya perjalanan ini. Kamu membuktikan kalau kamu bertanggung jawab atas semua ucapanmu. Sekarang kamu sudah memiliki usahamu sendiri. Usaha, Doamu, Doa kedua orangtuamu dan doa kita mengantarkanmu sejauh ini.

Secara perlahan aku mulai memasuki duniamu di bidang Perfume. Aku mulai mengerti bahwa tidak semua perfume itu bisa menghasilkan aroma yang sama bagi orang lain. Aku mulai paham perbandingan biang/bibit atapun absolut

 

Dunia kita memang berbeda. Namun dari perbedaan ini aku semakin menyadari arti cinta yang tulus.

Terimakasih sudah hadir dalam hidupku. Aku tak perduli suara sumbang yang sering mencercamu. Cara membalas mereka ya dengan terus berkarya