Ada banyak sekali macam hewan di dunia ini, mulai dari yang sering kita temui di lingkungan seperti kucing, anjing, kelinci, sapi, dan ayam, hingga yang sangat jarang kita temui atau bahkan belum pernah kita temui sama sekali karena hidup di habitat berbeda atau sudah punah.

Bicara tentang hewan, ada suatu profesi yang berkaitan erat dengan hewan dan memang menjadikan hewan sebagai fokus utama. Profesi tersebut adalah dokter hewan.

Jika mendengar kata ‘dokter hewan’, hal apa yang pertama kali muncul di pikiran kalian? Dokter sapi? Gaji kecil? Atau kurang bergengsi?

Terlepas dari pemikiran-pemikiran tersebut, berikut adalah beberapa miskonsepsi tentang dokter hewan yang paling sering muncul di masyarakat, bahkan kalangan akademis sekalipun.

 

1. Dokter hewan ‘berurusan’ dengan semua hewan

Berbagai spesies hewan

Berbagai spesies hewan via https://ru.depositphotos.com

Hmmm, mungkin memang dari namanya saja sudah terlihat bahwa dokter hewan memang harusnya ‘berurusan’ dengan semua hewan. Namun, pikiran seperti ini ternyata tidak benar, teman-teman. Dikutip dari worldstory, Zoologist telah meneliti bahwa di dunia ini setidaknya ada 20.000 spesies ikan, 6.000 spesies reptil, 9.000 spesies burung, 1.000 spesies amfibi, 15.000 spesies mamalia, jutaan spesies insekta, dan masih ada jutaan spesies lain yang menunggu untuk ditemukan dan dinamai. Jadi, sangatlah tidak mungkin bagi seorang dokter hewan untuk memelajari semua spesies hewan tersebut.

Lalu, mengapa dinamai ‘dokter hewan’ kalau ternyata tidak belajar pengobatan semua hewan? Ya, karena memang dokter yang satu ini belajar tentang seluk beluk hewan. Memangnya boleh dinamai ‘dokter’ saja yang notabene ‘hanya’ belajar satu spesies, yaitu manusia? Memangnya boleh dinamai ‘dokter gigi’, sedangkan dokter yang satu ini jarang sekali melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan gigi? Jadi, yang paling tepat adalah dinamai ‘dokter hewan’.

Dokter hewan tentunya ‘hanya’ belajar tentang hewan-hewan yang lazim berada di lingkungan manusia karena hewan-hewan tersebut yang memiliki dampak langsung maupun tidak langsung terhadap kelangsungan hidup manusia. Sebagai catatan, hewan-hewan tersebut biasanya adalah anggota dari 5 kelas hewan bertulang belakang (vertebrata), sepertimamalia, aves, reptil, pisces, dan amfibi.

Dokter hewan yang berminat dengan satwa liar bisa belajar lebih dalam, begitu juga dengan hewan-hewan lain yang bahkan berhabitat jauh dari manusia. Hewan-hewan tanpa tulang belakang (invertebrata) tidak dipelajari secara mendalam karena memang bukan hewan-hewan yang lazim dimanfaatkan manusia. Jadi, jangan tanya kalau semut patah tulang harus diberi tindakan seperti apa, ya?

2. Dokter hewan seorang pemberani

Ada dokter hewan takut kucing? Ada!

Ada dokter hewan takut kucing? Ada! via http://www.catforlove.com

Apa benar semua dokter hewan berani menghadapi berbagai macam hewan? Tidak! Faktanya, seorang mahasiswa kedokteran hewan bisa takut dengan kucing, ular, atau kuda, bahkan sapi. Kalau kalian melihat seorang dokter hewan praktisi yang memiliki berbagai macam pasien, belum tentu berarti dokter tersebut seorang pemberani dari awal. Bisa jadi, dulu seorang penakut tetapi berhasil mengatasi ketakutannya dan kini bisa menangani banyak macam pasien hewan.

3. Kedokteran hewan tidak lebih baik dari kedokteran manusia atau kedokteran gigi manusia

Ternyata dokter gigi hewan memang ada.

Ternyata dokter gigi hewan memang ada. via http://www.deerfieldvet.com

Hmmm, ini sih relatif ya. Kalau ditinjau dari sudut pandang seorang dokter manusia, kemungkinan besar, jadi dokter hewan memang tidak lebih baik dari menjadi dokter manusia. Begitu pula jika dilihat dari kacamata dokter gigi.

Namun, faktanya, dokter hewan (di Indonesia) dituntut belajar banyak macam hewan dalam waktu relatif singkat, yaitu selama 4 tahun ‘saja’ ditambah 1 tahun koasistensi. Kalau dilihat dari sudut pandang dokter hewan, sudah jelas bahwa dari ketiga jenis kedokteran yang ada, jenis kedokteran hewan jauh lebih menantang. Selebihnya, kembali pada kalian yang menilai.

4. Gaji kecil

Lumayan kok!

Lumayan kok! via http://www.newriverhd.com

Lagi-lagi, ini sifatnya relatif, tergantung individu yang bersangkutan. Faktanya, di Indonesia sendiri, mayoritas dokter hewan praktek punya penghasilan yang bila dikumpulkan beberapa waktu, bisa untuk membeli satu unit Harley-Davidson dan beberapa petak sawah.

Ambil contoh, seorang dokter hewan ahli kuda, ketika dimintai bantuan untuk mengawinkan kuda, sekali proses bisa dibayar setidaknya Rp 500.000,00 tanpa ada jaminan berhasil. Seorang dokter hewan ahli reptil yang bisa berhasil mengoperasi tumor pada seekor iguana bisa dibayar beberapa ratus ribu hingga jutaan oleh klien. Hal ini dilakukan klien semata-mata sebagai tanda terima kasih karena dokter hewan telah membantu menyelamatkan nyawa ‘keluarganya’.

Gaji seorang dokter bedah hewan (veterinary surgeon) di Britania Raya menurut prayscale, rata-rata sebesar £32.470 per tahun, sedangkan di Tuusula, Finlandia, rata-rata gaji seorang dokter hewan ahli adalah sebesar €75.178 per tahun atau sekitar €36 per jam.

Ya, tetapi besarnya gaji harusnya sepadan dengan keahlian. Kalau tidak ahli minta gaji tinggi, pastinya tidak bisa. Namun, jika ahli tetapi gaji masih pas-pasan, itulah Indonesia.

5. Tidak ada hubungannya dengan kesehatan manusia

Konsep 'One Health'

Konsep 'One Health' via http://www.onehealthinitiative.com

Ini yang tidak banyak dipahami masyarakat. Dokter hewan yang terlihat hanya mendalami bidang kesehatan hewan sebenarnya bekerja keras ‘menyelamatkan’ manusia dari risiko tertular penyakit dari hewan, atau mencegah manusia menularkan penyakit kepada hewan, atau dikenal dengan istilah Zoonosis.

Tugas ini sesuai dengan semboyan dokter hewan Indonesia, yaitu Manusya Mriga Satwa Sewaka, yang artinya, mengabdi kepada masyarakat melalui kesehatan hewan. Jadi, sebenarnya dokter hewan sangat erat hubungannya dengan kesehatan manusia.

Baiklah, semoga beberapa miskonsepsi yang beredar di masyarakat bisa semakin diluruskan dengan jawaban-jawaban di atas. Selamat beraktivitas!

Viva Veteriner!