Pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan sangat bernilai bagi semua lapisan dan kalangan. Saking begitu sakralnya pernikahan, bagia sebagian masyarakat tidak bisa sembarangan dalam merencanakan sebuah pernikahan. Salah satunya menentukan kriteria pasangan yang akan diajak menuju ke proses pernikahan. Menentukan pasangan yang akan diajak menuju pelaminan bagi orang Jawa haram hukumnya jika dilakukan dengan sembarangan. Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi sebelumnya akhirya seseorang dinyatakan layak untuk dijadikan pasangan, nah beriikut adalah “ribetnya”orang Jawa dalam menentukan pasangan

 

1. Dalam Menentukan Pasangan Yang Akan Diajak Ke Pelaminan Harus Jelas Bibit,Bebet, Dan Bobotnya

Bagi orang Jawa menikah berdasarkan cinta saja tidak cukup adanya. Sang pasangan harus bagus bibit bebet dan bobotnya. Hal itu meliputi bagaimana penampilan fisiknya, bagaimana sifatnya, apa pekerjaannya, serta bagaimana kah asal usul keluarganya. Bibit, bebet dan bobot dianggap penting bagi orang Jawa karena salah satu tujuan pernikahan adalah untuk melestarikan keturunan, jadi apabila pasangan yang di dapat bibit, bebet dan bobotnya baik maka keturunan yang dihasilkan pun niscaya juga akan baik. 

2. Setelah Jelas Bibit, Bebet, Dan Bobotnya Maka Selanjutnya Adalah Mencocokkan Weton nya

Hari dan tanggal lahir juga memiliki andil dalam menentukan kriteria pasangan bagi Orang Jawa. Sebab orang Jawa memiliki system nilai penanggalan sendiri yang biasa disebut weton. Weton adalah jumlah angka yang dimiliki berdasarkan hari dan pasaran lahir orang Jawa. Pada penanggalan Jawa terdapat pasaran yang terdiri dari Pahing,Kliwon,Legi, Pon dan Wage. Weton menjadi hal yang harus diperhatikan dalam menentukan pasangan sebab weton melambangkan watak dan karakter seseorang. Misal yang cowok kelahiran Minggu Pon dan wetonnya berjumlah 19 sementara yang cewek kelahiran sabtu pahing dan weton nya 21. Karena weton punya yang cewek lebih tinggi nilainya maka dalam rumah tangga ceweknya akan jadi lebih dominan ketimbang yang cowok.

3. Urutan Anak Ke Berapa Dalam Sebuah Keluarga Menjadi Salah Satu Hal Yang Harus Diperhatikan

Salah satu uniknya orang Jawa dalam menentukan kriteria pasangan adalah dengan mencocokan anak ke berapa dalam sebuah keluarga. Hal ini dilakukan karena orang Jawa berpendapat jika urutan anak mempengaruhi sifat dan watak seseorang. Misalnya saja anak bungsu dalam sebuah saudara dilarang mendapat pasangan yang juga merupakan seorang anak bungsu. Alasannya karena anak bungsu dianggap memiliki sifat yang manja karena merupakan anak terakhir dan biasanya paling disayang oleh orang tua. Oleh karena itu anak bungsu disarankan untuk menikah dengan anak pertama atau anak sulung karena anak sulung dianggap memiliki pribadi yang lebih dewasa. 

4. Tempat Tinggal Pasangan Juga Menjadi Hal Yang Tak Luput Dari Pertimbangan

Menentukan kriteria kecocokan dengan pasangan menurut orang Jawa juga dapat dilihat dari tempat tinggalnya. Pernikahan yang sudah direncanakan bisa saja urung dilaksanakan karena ketidaksesuaian tempat tinggal. Untuk hal ini masing masing daerah memiliki “aturan” sendiri yang mengaturnya. Misalnya saja penduduk kota Kediri dilarang menikah dengan penduduk kota Blitar. Bahkan di kota Kediri sendiri ada tradisi yang menyebutkan jika penduduk Kediri yang berada di timur kali Brantas dilarang menikah dengan penduduk Kediri yang berada di barat kali Brantas. Larangan tersebut diwariskan secara turun temurun oleh leluhur bukan tanpa sebab, soalnya bisa saja larangan diberlakukan karena antar daerah saling berseteru makanya untuk menghindari permusuhan berlanjut ke keturunan maka antar penduduk dilarang untuk melangsungkan pernikahan.

5. Kriteria Yang Sudah Ditetapkan Hendaknya Dijadikan Bahan Pertimbangan Dalam Memilih Pasangan

Meskipun dalam menentukan kriteria pasangan yang akan diajak ke pelaminan orang Jawa bisa dikatakan ribet dan banyak sekali pertimbangan , tapi yang patut kita teladani dalam hal ini adalah ke hati hatian dalam memilih pasangan. Sebab bagaimanapun juga pernikahan adalah hal yang sacral dan seharusnya hanya berlangsung sekali dalam seumur hidup. Oleh karena itu diperlukan pertimbangan yang matang dalam memilih pasangan yang akan diajak menuju pelaminan. Terlepas benar atau tidaknya anjuran atau larangan yang ada kita boleh percaya atau tidak terhadap keberadaannya. Sebab apa yang dilakukan oleh orang Jawa adalah niteni (menandai) dari peristiwa peristiwa lampau agar menjadi hikmah agar tidak terjadi lagi pada suatu hari .