Jujur, statement di atas pasti pernah ditulis oleh ribuan anak perempuan yang ada di dunia ini? Iya, 'kan? Ya, kalimat tersebut memang tidak asing di telinga kalian. Tapi perlu kalian ketahui lho, apakah benar kalimat tersebut “diaminkan” oleh seluruh anak perempuan? Nyatanya tidak sama sekali! Bagi anak perempuan broken home justru ayah adalah lelaki pertama yang telah menyakiti, meninggalkan, bahkan menghancurkan hidupnya!

Terlepas dari apapun alasan sang ayah meninggalkan anak perempuannya sejak perceraian kelam terjadi, anak perempuan yang “dilupakannya” itu tak peduli sama sekali. Baginya, “ayah” adalah wujud tanpa makna. Dia ada, tapi tak pernah sedetik pun hinggap di hatinya. Dia adalah seonggok kaktus yang telah melukai hati anak perempuannya dengan “duri” yang dia miliki.

Anak perempuan itu punya perasaaan yang halus dan peka. Sejak “dibuang” ayahnya, dia akan sangat sensitif terhadap hal-hal berikut:

 

1. Stop. Jangan tanyakan menyoal keluarga pada kami; itu menyesakkan!

“Ayahmu ke mana? Kok nggak ambilin rapormu?”

“Ayahmu kerja apa, sih? Kok nggak pernah antar kamu ke sekolah?”

Sepele ya pertanyaan-pertanyaan tersebut? Tapi kalian tidak tahu 'kan bahwa dengan menanyakan hal tersebut kepada anak perempuan "yang ditinggal ayahnya", sama saja kalian menggali memori yang sudah lama dia kuburkan. Kalian membuka luka lama.

Kalian yang tidak pernah menjadi anak broken home tidak akan memahami betapa menyakitkannya ditanyakan hal itu. Sedih, perih hati ini.

Perlu kalian ketahui bahwa sosok ayah yang kalian tanyakan kepadaku itu abstrak! Tidak terdefinisikan.

Apa yang harus aku ceritakan kepada kalian? Aku saja tidak mampu mendefinisikan sosok tersebut.

2. Kami benar-benar tahu apa arti iri hati jika melihat keluarga lain yang harmonis :(

Aku iri pada kalian

Aku iri pada kalian via http://wearandcheer.com

“Ayah”, kau tahu hal apa yang paling menyiksa hidupku?

Mungkin kau tak akan tahu atau bahkan tak mau tahu kalau hal yang paling menyiksa di dalam hidupku itu bukan ketika aku diputuskan oleh pacarku, bukan ketika aku tak bisa membeli barang-barang yang dibeli teman-temanku, bukan ketika aku mendapatkan nilai yang jelek. Tapi, ketika teman-teman seusiaku mempunyai foto bersama ayahnya, dicium dan dipeluk oleh ayahnya.

Sedangkan aku? Jangankan memiliki foto bersamamu, melihat sosokmu saja aku tak pernah. Jangankan dicium dan dipeluk olehmu, menyentuh kulit “kasarmu” saja aku tak pernah.

Aku ingat, kata guru agamaku, “Kita tidak boleh iri kepada orang lain.” Tapi, apakah salah jika aku iri pada orang lain yang punya sosok ayah baik dan penyayang? Apakah aku berdosa jika aku iri dengan orang lain yang memiliki keluarga yang begitu harmonis?

Aku ingin seperti mereka bisa punya keluarga yang harmonis lengkap dengan ibu dan ayah mereka, Yah. Aku ingin bisa diantar oleh ayahnya ke sekolah, bisa punya foto bersamamu, bisa dipeluk dan dicium olehmu, bisa menceritakan sosokmu di hadapan teman-temanku, bisa “pamer” kepada teman-temanku kalau aku ini juga punya keluarga yang harmonis seperti mereka.

Tapi, ah sudahlah. Biarpun aku nangis sampai air mataku habis, kau tak mengerti perasaanku dan tak akan mau memenuhi permintaanku. Hanya laptop dan keyboard-ku inilah yang lebih mengerti perasaanku saat ini.

3. Kami bukan tipe orang yang bisa dengan mudah percaya pada orang lain. Kami terlalu banyak menelan pil pahit

Menyimpan untuk diri sendiri

Menyimpan untuk diri sendiri via http://img00.deviantart.net

Sering kali anak perempuan broken home ingin sekali menceritakan keadaannya kepada orang lain. Tapi, ada rasa takut yang menghampiri benaknya, yakni takut orang itu akan menyebarkan rahasianya.

Dia tak mau kalau sampai orang lain tahu rahasia terbesar di dalam hidupnya. Dia tak mau dihina dan diremehkan. Dia juga tak mau kalau sampai label lemah disisipkan kepadanya. Maka tak jarang anak perempuan broken home lebih memilih diam dan tak menceritakan apapun kepada orang lain bahkan kepada sahabatnya sendiri. Dia lebih memilih “curhat” kepada Allah di sepertiga malamnya.

4. Sakitnya ditinggalkan orang yang disayangi telah mengajarkan kami menjadi calon pasangan yang setia dan pantas

Menjadi sosok yang setia untukmu

Menjadi sosok yang setia untukmu via http://google.co.id

Sudah tahu 'kan kalau anak perempuan broken home itu punya perasaan yang sangat peka dan sensitif? Dia seperti itu karena punya masa lalu yang amat sangat kelam. Dia paham sekali bagaimana rasanya disakiti dan ditinggalkan oleh orang yang sangat dia cintai. Mustahil baginya menyakiti perasaan orang yang dikasihinya. Maka kalau kamu menjalin hubungan dengan perempuan berlatarbelakang broken home, SELAMAT! Kesetiaannya tak perlu kau ragukan lagi!

5. Jauh dalam lubuk hati kami, kami bertekad untuk membangun keluarga yang bahagia kelak!

Punya keluarga bahagia di masa depan adalah impianku

Punya keluarga bahagia di masa depan adalah impianku via https://scontent-sin6-1.cdninstagram.com

Menjadi anak perempuan yang dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang retak bukan perkara mudah. Apalagi sedari kecil sang ayah yang harusnya bisa menjadi panutanmu meninggalkanmu begitu saja semenjak peristiwa kelam itu. Hal itulah yang menuntutmu untuk bisa menjadi seorang ibu yang baik di masa depan, juga PR terbesar di dalam hidupmu adalah mencari ayah yang baik dan bertanggungjawab untuk anak-anakmu nanti.

Kami begitu selektif sekali memilih pria yang akan dijadikan pasangannya. Karena, suatu mimpi yang harus direalisasikan oleh anak perempuan broken home adalah punya keluarga bahagia di masa depan agar anak-anaknya nanti tidak merasakan peristiwa kelam yang pernah dialami oleh ibunya dahulu.