Sejak usia SD, aku telah mengenal apa itu cinta. Namun cinta yang kukenal hanya sebatas tahu dari tayangan TV. Konon, cinta pertamaku hadir kala aku berseragam putih abu-abu. Ketika kau perlahan menggoda iman dan kepolosanku. Namun, aku sadar bahwa I just an ordinary girl. Aku bahkan lebih suka olahraga ketimbang bersolek muka. Betapa manisnya kau kala itu. Sosok yang sederhana, kalem dan penuh misteri.

Kau selalu membuat aku penasaran what happen to you for next. Setahun mengenalmu, membuatku ingin yakin bahwa kau adalah jodohku kelak.

 

1. Bagai permata yang harus kumiliki, jadi aku berjuang meski secara diam-diam.

Seiring waktu berjalan, kita semakin dekat. Berawal dari belajar bersama, bermain bersama bahkan semakin dekat ketika kau mulai cerita akan cinta lain yang sedang kau perjuangkan pula. Apa daya, aku pun mundur untuk bahagiamu. Semakin hari kita semakin dekat, begitu pula rasa kecewa yang ada di hatiku. Namun, karena hati tak bisa bohong aku tetap selalu berdebar ketika bersama kamu. Meski kau tak pernah punya rasa seperti yang ku rasa.

Aku pun masih bisa bahagia ketika kau berdua dengan teman baikku. Tak jarang aku selalu jadi orang ketiga saat kalian bersama. Namun, sunggguh sampai saat ini kupastikan kau tak pernah tau akan apa yang kurasa. Aku semata mata hanya tak ingin kau memutuskan hubungan denganku.

2. Ketika cinta bertepuk sebelah tangan, aku merasa bahwa kau mungkin jodoh sementara.

Iya, bahkan suatu ketika saat kau mengakhiri kisahmu dengannya pun, aku belum sanggup untuk berkata jujur. Meskipun satu kesempatan untuk masuk ke hatimu terbuka, aku tetap tak berani untuk sekedar mengetuknya. Setahun berlalu, kau terus berkabar padaku meski saat itu kita di ruang berbeda. Aku masih berharap kau akan masuk ke dalam hidupku suatu saat nanti.

3. Engkau tetaplah sahabatku, meski kita tak berjodoh kelak.

Engkau selalu menjadi tujuanku. Aku selalu berjuang supaya engkau kemudian mulai menyukaiku. Namun, sekali lagi aku tak akan pernah mengatakan perasaan ini padamu. Aku sungguh malu, karena mungkin aku tak akan pantas untukmu. Selama ini pun kita masih menjadi teman, bahkan teman yang baik. Kita selalu berkabar berita dan kau kadang mulai sedikit menggodaku "kembali". 

4. Aku bersedia mengalah untuk kau yang selalu ingin mendapatkan dia.

without you

without you via https://www.google.co.id

Akhirnya hari itu pun tiba, saat aku mulai benar-benar ingin melupakan perasaan ini. Engkau kembali memilih dia yang dulu pernah menyakitimu. Bahkan sempat aku anggap bahwa aku tak lebih baik darinya meskipun dia yang pernah menyakitimu. Aku yang selalu ada untukmu saat kau terpuruk sama sekali kau tak peduli. Apa sebegitu tidak pekakah kau akan perasaanku? Namun aku ikhlas karena mungkin kau aku tak pantas untuk pangeran seperti kamu.

Memang sungguh sulit ketika menerima kenyataan bahwa kau pilih dia yang pernah meninggalkanmu daripada aku yang jadi tempat keluh kesahmu. Namun, apa daya hanya senyuman palsu yang setia menemaniku setiap kali menatapmu.

5. Akhirnya aku bahagia meski tanpa dirimu. Namun, ketahuilah jika kau sungguh pernah menggoda imanku.

Musim pun berlalu, seiring hubunganmu bersama dia berjalan baik-baik saja. Aku pun sadar bahwa kau semakin melupakanku. Namun, aku yakin ini adalah cara Tuhan untuk menyembuhkan lukaku. Iya. Seiring waktu berlalu, kenangan indah saat bersamamu sirna. Dan sekarang, telah datangs seseorang yang dengan sekuat tenaga selalu menemaniku, menghiburku dan menjadi tempat berkeluh kesah kapanpun aku mau.

Aku pun tak mau membandingkan kau dengan dia. Jika sekarang pun kau datang untuk mencintaiku, aku pasti akan menolak. Aku pilih dia yang ikhlas mencintaiku. Aku tak ingin dia sakit dan ketauhilah aku sangat bahagia mencintai dia. 

Kau tetap jodohku kawan, meski hanya sebatas teman.