Keputuskan memilih Jakarta sebagai tempatku mengejar mimpi-mimpiku adalah hal datang begitu saja dari fikiranku, tanpa rencana yang matang, bahkan awalnya meminta izin orang tua pun masih ragu.

Tak jarang beberapa orang terdekat menyepelekan niat nekatku itu. Dengan modal apa yang mereka dengar dan lihat dari berita kriminal di Televisi,mereka mulai meragukan keputusanku.

 

1. Tak sedikit cibiran yang datang saat aku akan Memutuskan merantau ke kota dengan jumlah penganggur tertinggi ke-2 di Indonesia ini.

waving goodbye

waving goodbye via http://www.smartmom.club

Kala itu sepekan setelah pengumuman kelulusan SMA, aku mengutarakan niat ku untuk merantau ke Ibu kota. Jawaban pertama yang aku terima dari Ibuku adalah :

"Emangnya kamu berani? kamu kan apa-apa masih diurusin orang tua."

Memang sejenak ada keraguan tumbuh diantara niat ku itu, tapi dengan penuh keyakinan aku pun akhirnya mampu meyakinkan orang tuaku bahwa aku akan belajar menjadi manusia yang lebih mandiri disana.

Saat bertukar cerita dengan teman-teman dekatku pun tanggapan mereka tak jauh beda dari tanggapan orangtua ku sebelumnya, jujur itu sempat membuatku ber kecil hati. Beberapa di antara mereka mengatakan :

"Kamu mau ngapain ke Jakarta,mau ngamen?"

"Kamu emang betah sama macetnya? duh aku sih no"

"Kenapa nggak ke kota lain aja yang lebih "aman" ?

 

2. Tetapi aku yakin dengan diriku sendiri: sosok ambisius dan sedikit "nekat" yang berkeyakinan mampu menaklukan Ibu kota.

Hari itu pun tiba,orang-orang tersayangku melepaskan kepergianku di depan pekarangan rumahku ,rumah tinggal yang pasti bakal ku rindukan saat aku berkutat di perantauan.sambil menunggu bus yang akan kutumpangi tiba.

Beberapa bait nasehat dari Ibundaku tercinta mengiringi kepergianku.

Ah..aku bakalan kangen mereka. Kangen masakan ibu,Omelan ibu yang kadang membuatku kesal tapi justru kurindukan saat aku jauh dari rumah. Kangen pula saling olok-olokan dengan adikku yang sering membuatku kesal.

Dan berangkatlah aku dengan sejuta impian dalam kepalaku.

3. Sampai di Jakarta, Aku mulai membanding-bandingkannya dengan kota asalku.

skyscraper jakarta

skyscraper jakarta via http://2015.smartchallenge.com

"Wah...disini malem pun rame ya,nggak kayak di desa ku"

"Mau cari apapun ada dan gampang banget dapetinnya disini,kalau di kampung ku mana ada makanan ini"

"Haduuhh Ke kantor yang jaraknya 2 km aja bisa ber jam-jam karna macet,kalo di daerah ku mah ini bisa 10 menit "

Perbandingan yang mencolok aku rasakan ketika menginjak 1 bulan lamanya aku menetap di Jakarta, banyak hal yang aku dapatkan disini yang tidak pernah kudapatkan sebelumnya di tempat lain. Ini menjadi hikmah tersendiri untukku.

 

4. Sulitnya hidup di Jakarta membuatku sempat berfikiran untuk kembali pulang.

tes kerja

tes kerja via http://www.google.com

Tak bisa dipungkiri, hidup di Jakata memang tidak semudah bayanganku. Sekedar mencari pekerjaan pun butuh perjuangan keras, butuh ongkos kesana-kemari. Berjibaku dengan macetnya jalanan, polusi serta ribuan pelamar lainnya. Sekalinya dapat pekerjaan, pekerjaan pun tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Menjadi karyawan perusahaan Outsourcing dengan gaji pas-pasan dipotong outsourcing pula, atau akhirnya berniat menjadi pekerja MLM saja yang ngga jarang dianggap orang sebagai "pengganggu" karna sering menawarkan product via telephone. Benar-benar bukan perkara mudah.

Disamping itu mahalnya biaya hidup di Jakarta sempat mengajarkanku untuk berhutang.

Kadang ,ingin menuruti perintah ibu yang tidak tega membiarkan anaknya hidup susah di "tanah orang"

"Mbok ya kamu pulang aja,ngapain disana terus-terusan susah, itu kan pilihanmu? Nurut ibu,pulang kerumah saja"

Tapi aku tetaplah aku yang masih penasaran akan masa depanku disini.

5. Tapi aku tau Rahasianya, Jakarta "ramah" pada si pekerja keras.

Aku tidak mudah pasrah dengan keadaan, aku berusaha sekeras mungkin keluar dari kesulitanku.

Hingga akhirnya keberuntungan berpihak kepadaku yang tak pernah putus berjuang.

Aku mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan gaji yang sesuai pula, cukup lah untuk kebutuhanku.

Walau masih harus berjuang ekstra untuk menabung.

Tetapi setidaknya hidupku mengalami Progress dan lambat laun mulai membaik dibandingkan sebelunya yang sempat mengalami masa sulit, bahkan sempat "merindukan makan enak"

6. Perspeksi buruk pun nggak jarang mengarah padaku yang telah mereka sebut sebagai "Orang Jakarte".

sukses

sukses via http://mix8.info

"Lo pasti sering Clubbing ya? hayoo ngaku.."

"Lo pernah nyoba vodca ngga? ah cemen lu"

 

pertanyaan yang paling sering ditujukan padaku.

Yah wajar lah pertanyaan seperti itu muncul, mengingat memang bukan rahasia lagi banyaknya tempat hiburan malam di Jakarta tapi andai mereka tau, aku bukan tipe orang yang seperti itu, aku nggak suka clubbing. Bagiku banyak hal yang lebih menyenangkan dibanding itu.

Mungkin mereka menganggapku "hedon" ketika melihat foto-foto ku yang aku share di social media milikku yang menunjukkan aku sering jalan-jalan kesana kemari tapi sejatinya aku masih tetap seorang anak yang memegang teguh agama serta masih mempunyai orangtua dan berkewajiban menjaga nama dan perasaan orangtuaku, walau tak bersandingan.

 

7. Bu, Jakarta nggak se-kejam yang orang bilang.

Jika menilik kehidupanku dahulu, aku bersyukur bahwa setidaknya aku masih bisa bertahan untuk tidak berputus asa hingga saat ini. Mengenai Jakarta yang kejam menurut sebagian orang, aku memiliki pandangan tersendiri. Jakarta justru merubahku menjadi sosok yang tahan banting. Aku pun mendapatkan apa yang aku cari disini yang sebelumnya mungkin tidak pernah kumiliki.

Teruntuk Ibuku :

Bu,anakmu yang manja ini sudah berubah jadi sosok yang tahan banting, semenjak hidup di Jakarta