Usia muda cenderung menjadikan kita seorang yang obsesif dan ambisius. Masa-masanya kita punya banyak energi untuk melakukan hal-hal yang kita inginkan. Misalnya dalam hal mencapai prestasi atau bahkan dalam berkegiatan sehari-hari. Namun, terkadang kita memiliki keinginan – yang kalau kita sadari, ternyata tak lebih penting dari kehidupan pribadi.

Berikut bukti bahwa kehidupan pribadi adalah yang terpenting.

1. Membeli barang-barang yang sifatnya tersier hanya untuk mendapatkan pengakuan.

Segala cara dilakukan demi pencitraan. via https://i.ytimg.com

Tak bisa dimungkiri, hampir setiap orang membutuhkan pengakuan dan rasa ingin dihargai. Bahkan tak sedikit orang yang melakukan berbagai macam cara termasuk menghamburkan uang untuk membeli barang-barang yang sebetulnya tidak kita butuhkan, hanya untuk menunjang popularitas dan pencitraan.

Memang ada kesenangan tersendiri saat kita punya banyak follower di media sosial semacam Instagram (misalnya). Apalagi saat kita mengunggah foto atau video, banyak yang memberikan like dan komentar. Semakin bertambah pula rasa senang kita. Tapi, kalau tidak dapat mengendalikan perasaan tersebut, tak jarang kita jadi semakin ketagihan untuk terus-menerus meramaikan akun dengan konten menarik. Sampai-sampai ada juga yang sengaja memasang foto milik orang lain yang dinilai bagus hanya untuk mendapat banyak like. Padahal, orang-orang terdekat hanya butuh kita yang apa adanya. Mereka tak butuh kita yang populer.

2. Ikut banyak komunitas tapi lupa bersosialisasi dengan orang-orang sekitar.

Jangan lupa juga berkumpul bersama orang sekitar. via http://www.agribio.com.au

Advertisement

Berkomunitas memang tak ada salahnya karena sebagai makhluk sosial, kita tentu membutuhkan orang lain dalam kehidupan kita. Dengan berkomunitas pun, kita jadi punya kegiatan positif di luar rumah, dan ini baik untuk perkembangan kita. Melatih kita untuk mandiri dan punya jiwa sosial. Komunitas juga jadi tempat kita berkumpul bersama orang-orang sehobi atau sepemikiran.

Tapi, kalau dengan berkomunitas kita jadi lupa bersosialisasi dengan orang-orang sekitar, bagaimana jadinya? Bukankah pada keadaan mendesak – yang pertama kali akan kita butuhkan adalah mereka?

3. Memiiki banyak teman di media sosial, teman di dunia nyata malah cuma punya satu dua.

Sibuk bermedia sosial sampai lupa teman sungguhan? via http://thumbs.dreamstime.com

Punya banyak teman memang menyenangkan karena bisa membuat hari-hari kita jadi lebih bermakna. Bahkan beberapa di antara kita ada yang begitu bergantung pada temannya, sampai kemana-mana harus bersama. Selain itu, ada juga yang sudah seperti keluarga, sampai tak canggung lagi kalau-kalau butuh bantuan.

Tapi bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi kalau kita lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman media sosial? Apalagi yang betul-betul tak kita kenal di dunia nyata. Rasa-rasanya, sebanyak apapun hanya akan jadi teman khayalan yang entah sampai kapan. Padahal misalnya, di dunia nyata, teman kita malah lebih sedikit. Itu pun jarang bertemu. Jangan sampai prioritas kita malah jadi tertukar, ya!

4. Perempuan memang berhak berkarier. Tapi jangan lupa, nanti kita akan berkeluarga juga.

Wanita karier via http://i.telegraph.co.uk

Setelah lulus menempuh studi, biasanya kita melanjutkan kehidupan dengan bekerja. Ada yang memilih bekerja di perusahaan swasta ataupun negeri, atau juga berwirausaha. Tapi bagi perempuan, apapun pekerjaannya, pada akhirnya akan berkeluarga juga dan menjalani peran sebagai ibu rumah tangga.

Kehidupan akan menjadi begitu berbeda. Ada suami dan anak yang harus kita urus dan jaga dengan baik. Tapi jangan sedih. Banyak kok, perempuan lulusan perguruan tinggi yang memilih menjadi ibu rumah tangga saja. Tak ada salahnya. Lagipula, mereka juga yang akan menjadi sumber kebahagiaan kita nanti. Karena apapun pilihan akhir kita, itulah yang terbaik yang Tuhan rencanakan, jauh sebelum kita berencana. Bukankah membangun keluarga sendiri juga merupakan sebuah pencapaian yang istimewa?

5. Pada akhirnya, kita harus menyadarinya.

Tak ada yang seberharga keluarga. via http://bishopstowndental.com

Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa kehidupan pribadi jauh lebih penting daripada apapun. Kita bisa memulainya dengan melatih diri untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi orang-orang sekitar. Terutama keluarga. Sebab tak ada yang seberharga mereka.