Waktu yang berjalan, membuat momen itu berloncatan lagi dalam ingatan. Lucunya, jarak ribuan kilometer ini malah membuat rasa ini bertahan lebih kuat, lebih banyak, dan berimajinasi lebih baik. Tak ada lagi salah paham karena sms atau chat yang terabaikan. Tak ada lagi ragu ada "tamu" asing yang singgah meminta sedikit waktumu. Semua seperti saling mengikat hati kita. Bahwa hubungan ini bisa jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Bahagianya aku denganmu. Bahagianya aku, akhirnya pulang padamu. Setelah lelah berjalan, terima kasih untuk membuka lagi pintu hati saat aku pulang dengan kondisi menyedihkan. Terima kasih kembali menghangatkan ruangan yang telah lama dikosongkan di sudut hati. Maukah kamu sekedar mendengar cerita melelahkan selama aku berjalan sendirian? Menjauh dari semua impian yang dulu kita harap jadi kenyataan.

 

1. Saat pagi pertama setelah putus, jam dinding seakan terlalu lama berputar.

Pagi itu, tak ada lagi sarapan nikmat yang kurasakan. Aku ingin menangis sepuasnya. Saat jemputan datang untuk bekerja, di perjalanan pun aku hanya diam dan merutuki diri. Di kantor yang biasa dipenuhi tawa pun, berubah jadi hening. Bahkan aku melarang siapapun bertanya tentangmu. Bertanya apapun padaku seperti sesuatu yang diharamkan saat itu.

Jangan tanyakan bagaimana kondisiku. Jangan tanya sembabnya mataku. Padahal aku yang memintamu mengakhiri semua yang sudah kita bangun pelan-pelan selama ini.

2. Ada banyak malam panjang yang kuhabiskan untuk berkutat dengan kenangan yang dibalut tangisan.

Berkutat dengan malam dan tangisan

Berkutat dengan malam dan tangisan via https://hovikcharkhchyan.files.wordpress.com

Lalu, malam-malam setelah hari itu kuhabiskan dalam diam. Sepulang kerja pun, hanya kuhabiskan bergulung dalam selimut tebal dan memendamkan muka dalam-dalam di bantal kesayangan yang sebagiannya justru jadi pemecah tangisku. Hampir seluruh isi kamar ini seperi berbisik mengingatkanku tentangmu. Maka, jangan tanyakan kondisiku kala itu.

Kusut, kurus, dengan mata panda yang bukan dihasilkan dari begadang semalaman karena mengerjakan deadline kantor tetapi hasil begadang menangisi kenangan kita.

3. Benda-benda sederhana saja bisa memantik banyak kenangan yang tersimpan di kepala.

Ingat karena hal-hal kecil

Ingat karena hal-hal kecil via http://cnl.h.cdn.cosmopolitan.nl

Ada saat di mana aku meratap di depan mesin pompa air. Ah, sayang aku bahkan merindukanmu melalui hal remeh-temeh jenis ini. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk membuatku bisa lupa padamu. Bukankah dulu aku begitu manja hingga semua urusan harus melibatkanmu? 

Aku nyaris tak pernah melakukan apapun tanpamu. Maka ketika harus melalui "tragedi mesin pompa", aku nyaris tak kuasa. Bukan karena aku takut tak bisa melakukannya, hanya saja aku masih merasakan kamu ada.

4. Menghadapi hari lahir pertama kali tanpamu, bahkan tak bisa kusambut dengan sukacita seperti tahun-tahun sebelumnya.

Ulang tahun yang menyedihkan

Ulang tahun yang menyedihkan via http://www.thehealthjournals.com

Saat ulang tahun pertama tanpamu, kulalui seperti sebuah masakan istimewa tanpa rasa. Hambar. Meski di kantor bahkan sudah disiapkan pesta sederhana untuk merayakannya, aku toh merasa ada lubang menganga di dalam dada. Kuakui aku sempat mencari pelarian untuk menuntaskan rasa kesepian. Meminta seseorang dari masa lalu untuk jadi tempat sandaran. 

Tapi toh, ia nyatanya sama sekali tak menggantikan tempatmu. Kamu seperti punya ruang sendiri, yang bahkan aku tak punya anak kunci untuk membuka dan mengeluarkan kenangan tentangmu dari hatiku.

5. Hari sakral kita masih sempat kita pakai untuk saling bertemu,bukan merayakan tapi pengingat keputusan.

Bertemu sebagai pengingat keputusan

Bertemu sebagai pengingat keputusan via http://cdn.instructables.com

Saat hari sakral kita di November mendatang, bertemu denganmu, lalu melakukan ritual tahunan kita. Duduk di kafe dengan pilihan kursi yang sama, seperti saat kencan pertama kita. Tapi dengan status berbeda, bagiku seperti meminum secangkir coklat panas kesukaan namun dalam porsi sangat kecil. Perasaan menyenangkan yang justru hanya berjalan  beberapa saat.

Saat tahu kamu masih punya waktu untuk menemaniku menginstal laptop di toko biasa kita, aku nyaris lepas kendali. Seperti melayang-layang, tapi toh kamu tahu. Kadang mulutku masih kelu jika harus memanggil namamu. Tanganku masih sering tak sadar saat menggengam jemarimu. Maafkan kebiasaan itu.

6. Saat rindu semakin membuncah, Tuhan memberikan keempatan bertemu walau hanya dalam perjalanan menjelang liburan.

Ingatkah kamu saat kita bertemu di perjalanan menjelang pulang ke kota asal saat liburan? Aku bahkan menandaimu dari jauh, lalu memilih menggeser tempatku, berharap tak terlihat olehmu. Tapi nyatanya, kamu malah menemukanku. Bagaimana bisa aku menyembunyikan keterkejutanku kala itu? Tawaran minuman darimu pun kuabaikan.

Hingga saatnya pulang, Tuhan mentakdirkan kita untuk bertemu lagi. Namun kali itu, kurasa ada yang mengusik hatimu karena pengantarku. Ah sayang, aku bahkan baru saja mengusir jenuh ke rumah guru agamaku dulu dan menuntaskan cerita tentang masa depanku. Lalu sepanjang perjalanan diisi dengan diam. Aku salah tingkah dan merasa bersalah sementara kamu acuh seperti tanpa masalah.

Sungguh waktu itu aku serba salah. Saat melewati jalan tenpat di mana biasa kita bersama, aku malah acap kali meneteskan air mata. Saat kamu tak peduli, semakin terasa sesak di dada.

7. Kota tempat kita mengais rejeki memang sama. Tapi aku bahkan tak pernah lagi bertemu kamu hampir setahun lamanya.

Maka kali itu jadi pertemuan terakhir kita. Aku tak pernah lagi melihatmu sejak itu, walaupun kita tinggal di kota yang sama. Aku tak tahu apa yang kamu rasakan tanpaku. Apa kamu baik-baik saja atau rapuh sama seperti aku? Sepertinya Tuhan sengaja memisahkan kita agar bisa lebih menghargai kebersamaan yang kita punya.

Ada masanya aku harus merengek dan meminta teman kantorku mencari tempat makan lain hanya karena aku takut makan di tempat biasa kita. Maka jadilah aku pesakitan setiap kali aku "bertamu" ke tempat kenangan kita. Kamu sepertinya sudah benar-benar menyita sebagian ruang hati dan membawa kuncinya pergi. 

Mengisi hati dengan yang baru ternyata tak juga bisa kulakukan dengan sempurna. Aku bahkan takut kehilangan semua momen kita nantinya. Meskipun kupikir setelah amnesia pun aku masih bisa jatuh cinta lagi padamu.

Ketika akhirnya aku pulang, aku serasa tak ingin pergi lagi. Kamu dulu pernah jadi tempat di mana aku bertahan dari kerasnya hidup. Kita saling memeluk dan menghangatkan. Maka ketika mendapat kesempatan mencintaimu lagi, aku bahkan telah merobohkan ruang kecil yang dulu jadi tempat kenanganmu. Aku membiarkan seluruh hatiku diisi dengan kenangan lalu dan hal baru denganmu.

Maka ijinkanlah kita mulai lagi semuanya. Lembaran kosong di buku batik kita akan kembali kita isi dengan momen manis. Semoga Tuhan berkenan. Maka ketika kita bertemu nanti, ijinkan aku peluk erat tubuhmu agar indra penciuman dan perasaku dapat merasakan lagi apa yang lama hilang dari hidupku. Agar aku bisa membaui rindu dan merasakan lagi cinta kita.

Sayang, aku tahu cinta punya batas kadaluarsa. Tapi ijinkanlah aku jatuh cinta lagi setiap hari denganmu semampuku.