1. Kadang bertanya dalam hati “apa salahku?” entah ditujukan untuk siapa seharusnya pertanyaan itu.

I don’t understand via https://www.Pinterest.com

Beberapa saat setelahnya hanya bisa merenung lalu berpikir. Di antara puing perasaan, masih terbayang hal menyenangkan dengannya, lalu tiba-tiba mata berkaca-kaca. Apa salahku ?. Jika saja pertanyaan itu tidak diikuti dengan rasa penasaran, penyesalan yang tanpa alasan, dan juga harapan, maka ini akan terasa mudah diselesaikan.

2. Harus Bagaimana? Mengapa dia seperti susah diajak kerjasama lagi. Dia kaku. Entahlah.. Kurasa tidak akan kembali seperti dia yang dulu.

You change, Like a moon.. via https://www.pinterest.com

Saat paling pahit juga asamnya adalah ketika kita ingin dia melunak dan mengakhiri debat panjang, ternyata dia hanya diam tanpa penyelesaian. Seolah masalah selesai, tetapi dia 180 derajat berubah, tak terlihat punya perasaan, tak terlihat ingin menyelesaikan, tak terlihat seperti dulu, dan yang paling kentara kita merasakan semuanya secara nyata. Kalau sudah begini apapun perkataan dan harapanku terasa sia-sia.

3. Jika saja aku tahu segala hal tentangnya, kurasa aku lebih mudah memutuskan harus bagaimana.

It’s too complicated.. via https://www.pinterest.com

Advertisement

Manusia yang seringkali sungkan atau tidak ingin disalahkan juga tidak ingin menyesal alias masih plin-plan, takut mengambil keputusan, mungkin begitulah sifat kita. Hingga berkata jujur dan to the point sangat susah sekali dilakukan. Berkata jujur bahwa aku sudah bosan, jujur aku sudah tak cinta, jujur perasaanku sudah biasa saja, atau jujur aku menyukai orang lain, kurasa aku tidak merasa nyaman lagi dan masih banyak lagi, mengapa sebegitu susahnya. Andai aku tahu segalanya sehingga tak perlu bertanya padamu "ada apa denganmu, Apa yang kau mau dan apa yang harus aku atau kita lakukan sekarang" , karena aku tau tak akan pernah ada jawaban pasti dan menjanjikan kepastian.

4. Jadi, apa hanya waktu yang bisa aku andalkan untuk memperjelas kepastian?

Just wait.. via https://pinterest.com

Orang yang sabar disayang Tuhan, dan kesabaran mahal harganya. Kabar buruk dari menunggu waktu adalah kita harus berlama-lama merasakan kelunya setiap hari. Sedangkan aktivitas padatku ada di pagi dan siang , lalu apa yang harus ku lakukan jika malam menyergap? Tapi mau bagaimana lagi, kepastian terpasti memang hanya bisa diberikan oleh waktu.

5. Pada akhirnya jika waktu sendiri tak bisa meyakinkanku dan membuatku lama menunggu, maka yang perlu ku lakukan hanya pergi.

Bukan mudah, sangat sulit. Di saat sedang cinta-cintanya harus berlari menjauh. Akan terasa sakit apalagi jika dilakukan setengah-setengah, sekali menjauh jangan pernah menengok. Yang kita jauhi benar-benar sangat membahayakan diri dan jiwa. Karena sesungguhnya, terperangkap dalam kepedihan yang dipendam sendiri itu sangat menyakitkan.

Aku berharap tidak pernah ingin pergi darimu, hanya saja aku takut kamu tak nyaman dengan keberadaanku. Apakah hanya karena tidak cinta yang membuat orang bisa pergi ? Bagiku pergi artinya sedalam-dalamnya perasaanku kepada seseorang yang sudah jelas membuatku merasa jatuh pada perasaanku sendiri.

Aku berterimakasih, kenangan tidak bisa hilang kecuali aku amnesia. Bahkan ketika raga menua, kenangan tak pernah menua atau hilang. Biarlah harapan yang pernah ada dan menyemangatiku setiap harinya untuk bertahan menjadi ingatan bahwa aku orang yang sangat penyayang.