Bagi laki-laki, menjadi dewasa bukan hanya sekedar hidup, namun bisa menghidupi. Paling tidak menghidupi diri sendiri, sebagai langkah awal dalam menyiapkan diri menghidupi anak istri nanti. Dalamkonteks ini menghidupi adalah tentang bekerja mencari nafkah.

Memilih pekerjaan atau profesi tidak selalu mudah, apalagi jika orangtua sudah menyiapkan pekerjaan bagi anaknya. Orangtua menentang dengan berbagai alasan profesi yang kamu dambakan. Orangtua inginnya kamu kerja berdasi, kamu malah lebih senang tanpa alas kaki. Impianmu untuk menjadi seorang pengusaha terkendala restu orangtua yang menginginkamu menjadi seorang pegawai negeri. Kamu sudah jelaskan berkali-kali, tetap saja orang tua tidak mengerti. Jika kamu mengalaminya, kamu tidak sendiri.

1. Luruskan niat

Straight path via http://lh6.ggpht.com

Setiap hal baik yang kita kerjakan bisa bernilai ibadah jika diniatkan ibadah dan ikhlas dalam mengerjakannya. Begitupun dengan pekerjaan. Sangat disayangkan bila suatu pekerjaan hanya menghasilkan uang dan keringat, tidak bernilai ibadah. Niatkan pekerjaan yang kamu pilih sebagai salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Maka, pastikan pekerjaan yang kamu pilih tidak menjauhkanmu dari-Nya. Niat yang lurus akan menghindarkan kita dari putus asa dan kecewa.

2. Bersyukurlah

Sadarilah bahwa sikap orangtua yang demikian itu adalah wujud kepedulian mereka terhadap kita. Mereka masih mau memikirkan masa depan buah hatinya, padahal sudah dewasa, berhak menentukan pilihan pekerjaannya, dan mereka tidak merasa terbebani akan hal itu. Khawatir jika tidur anaknya tidak lebih nyenyak dari tidur mereka, makan anaknya tidak lebih enak dari makan mereka. Tidakkah berita-berita penelantaran anak oleh orangtua membuatmu lebih bersyukur? Lebih baik sekarang mulailah menenangkan diri dengan bersyukur.

3. Berserah diri kepada-Nya

Advertisement

Sebaik-baik rencana yang kita susun, belum tentu itu yang terbaik. Ingatlah selalu keterbatasan kita sebagai manusia yang hanya bisa merencanakan. Optimis mendapat pekerjaan yang kita impikan dibolehkan, namun tidak dibarengi perasaan angkuh, seolah-olah kitalah Sang Penentu. Terkadang perasaan tertekan muncul karna kita ngotot dengan impian kita, begitupun orangtua. Daripada saling ngotot tanpa tahu ujungnya kapan, biarkan Tuhan yang mengambil alih tugas ini. Mintalah petunjuknya. Jangan pintu hati orangtua saja yang kamu gedor, pintu langit tidak kamu ketuk sama sekali.

4. Lebih dekatlah dengan mereka

Dad Hug via https://www.kvc.org

Biasanya seseorang cenderung menghindar dari orang yang berkonflik dengannya. Termasuk dalam pertentangan memilih pekerjaan antara anak dengan orang tua. Bicara satu meja dengan orang tua membahas masalah pekerjaan malah menjadi momok menakutkan, semangatmu mengendur setelahnya. Dan yang biasa dilakukan adalah menghindar.

Tidak ada salahnya menghindar untuk beberapa saat. Setelah itu, dekati dengan lebih dekat dari sebelumnya. Manjakan mereka. Makan bareng, ibadah bareng, jalan bareng. Perlakukan orangtua lebih dari perlakuanmu ke pacar, buat mereka jatuh cinta kembali dengan kamu. Orang yang jatuh cinta akan menuruti kemauan yang dicintainya, begitu rumusnya.

Ingat, yang kamu butuhkan saat ini yaitu meluluhkan hati orangtuamu supaya mengerti dengan apa yang kamu mau. Kapan luluhnya kalau menghindar terus?

5. Libatkan diri dalam pergaulan penuh motivasi

Together via http://cobaltpm.com

Belum mendapat dukungan dari orangtua soal pekerjaan yang kamu pilih tidak harus menjadikan dirimu terlena dalam keputusasaan. Jangan biarkan api semangat itu padam, jaga baik-baik. Ikuti seminar. Berbagi cerita dengan teman senasib. Konsultasikan dengan orang yang lebih berpengalaman. Karena tidak seharusnya rasa putus asa dan kecewa mendominasi perasaan.