Mendampingi seorang pria hebat sepertimu, bukanlah hal mudah bagiku. Apalagi setelah aku mendengar kabar bahwa dirimu sudah mampu lolos tahapan masuk menjadi Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri. Mendengar kabar kesuksesanmu, seharusnya aku merasa senang dan bangga. Namun entah apa yang harus aku ungkapkan setelah mendengar kabar darimu, bahwa kamu akan menjalani pendidikan di tempat itu.

IPDN? Mendengar singkatan institusi tersebut, aku sempat terdiam. Kenapa harus kamu lanjutkan hidupmu di sana? Itu keras bukan? Tetapi, di balik semua itu, mendampingimu satu tahun menjadi muda praja adalah hal yang berbeda, mengagumkan, dan tak akan terulang.

 

1. Menanti kabar darimu adalah hal yang sangat menyiksa, namun aku bahagia.

Penantianku

Penantianku via http://cdn-1.odiami.it

Detik itu menjadi akhir dari percakapan kita saat dirimu mengatakan bahwa tidak dapat menghubungiku lagi untuk beberapa waktu yang tak dapat dipastikan. Percakapan via telepon terputus dan air mataku pun mengalir begitu saja. Bukan hal mudah. Canda tawa, dan pertengkaran yang dulu menjadi bagian hubungan ini, akan hilang begitu saja.

Semenit kemudian, aku mencoba menghubungi nomormu lagi namun gagal. Itu tandanya benar, bahwa pendidikanmu memkasa hubungan ini membisu untuk waktu yang tak pernah tahu kapan berakhir. Menjalani hari tanpa kabarmu, ucapan selamat pagi, dan sapaan hangat sebelum tidur pun, tak ada lagi. Sangat sunyi. bisu.

Aku memang tak pernah tahu kapan dirimu akan menghubungiku. Jadi, ke manapun aku pergi tak pernah sedetik pun handphone terlepas dari tangan ini. Dering pun tak pernah berubah silent. Karena saat itu, hanya kabarmu yang aku tunggu. Bukan dia yang mendekatiku saat ini, bukan pula mereka yang berada di dekatku sekalipun. Hanya kamu.

Sore itu, dering handphone mengagetkanku. Muncul namamu di layarnya. Aku bingung. Bodohnya diriku. Aku tergagap untuk sementara waktu. Tak berkutik. Perlahan aku menjawab telepon darimu. Namun aku membisu saat kau ucapkan salam. Seharusnya, aku menyerocos menanyakan kabarmu. Tapi aku tetap diam.

Sampai kau mengucapkan kalimat yang membuat air mataku mengalir lagi untuk kesekian kalinya, setelah kau pergi. "Happy 3rd Anniversary,neng. Kabarmu baik-baik saja, kan? Maaf, telat untuk mengucapkan padamu. Keadaan tidak memungkinkan. Aku sayang kamu. Jaga diri, ya Neng." Perlahan aku menjawab ucapan itu sampai tersedak karena tangisanku tak dapat disembunyikan lagi.

Percakapan tiga menit beberapa detik itu telah mampu menyadarkanku bahwa :

 Hubungan tanpa komunikasi bukan berarti tanpa arti. Aku denganmu tetap bersanding dalam satu frekuensi. Irama kisah ini akan tetap indah abadi.

2. Pengukuhanmu menjadi Muda Praja adalah sebuah momen yang sangat ingin aku hadiri.

Pengukuhan Praja

Pengukuhan Praja via http://cdn-2.tstatic.net

Sebulan sudah hubungan ini membisu. Tak ada lagi telepon darimu. Padahal, tangan ini sudah cukup merasakan lelah. Mata ini pun sudah bosan menatap layar handphone yang tak pernah mengalami perubahan yang berarti. Namun entah hati ini yang terlalu kuat untuk bertahan atau logika yang selalu optimis bahwa kamu akan segera mengabariku.

Aku percaya, hati dan otak ini memang sudah dipenuhi perasaan yang lebih dari sekedar cinta.

Bulan ini, aku benar-benar menjalaninya tanpamu. Di kota Jogja yang katanya menyimpan romatisme ini pun, tak mampu menciptakan setitik keromantisan di hidupku. Aku hanya merasakan hampa dan sunyi. Rutinitasku sebagai mahasiswa baru UGM yang aku dambakan, hanya sebagai kewajiban dan masih belum sepenuhnya aku rasakan.

Masih terfokus pada hubungan ini, cepatlah kau kabari aku! Aku tak akan tergagap lagi. Aku akan menjawab dengan cepat dan berkata bahwa aku juga menyayangimu sampai saat ini, lebih dari yang aku ungkapkan dulu sebelum semua seperti ini. 

Di tengah rutinitasku di kampus, aku menerima kabar darimu dan kau memberi tahu bahwa pada tanggal 22 November kau akan dikukuhkan menjadi Muda Praja IPDN. Dengan sigap aku bertanya, bolehkah aku hadir di sana? Lalu, bagaimana bisa aku menemuimu? Tanpa menunggu jawaban darimu, aku langsung mengatakan bahwa aku akan berada di Jatinangor sehari sebelum acara itu.

Aku yang belum pernah melakukan perjalanan ke Jatinangor, yang aku tahu itu daerah Bandung, namun aku salah itu merupakan daerah Sumedang, Jawa Barat. Entah apa daerahnya, segera aku memesan tiket bus untuk menemuimu di pengukuhan itu. Saat itu, entah dengan uang yang menipis, aku tetap nekat untuk tetap berangkat.

Sampai di sana, setelah aku membersihkan diri dan bersiap untuk bertemu denganmu, aku menuju kampus IPDN. Aku mencari gerbang masuk, namun aku heran sama sekali. Tak ada ruang memberiku jalan untuk masuk.

Pada akhirnya, aku bertemu dengan sepasang ibu dan bapak akan memasuki gerbang itu. Seketika, aku menarik tangan ibu itu dan bersalaman. Aku meminta untuk membantuku masuk ke sana, mengaku menjadi anaknya. Aku berhasil masuk ke kampus yang akan menjadi masamu menuntut ilmu untuk masa depan. Aku tak tahu kau berada di mana, di barisan yang mana.

Yang pasti, saat itu kau menggunakan sebuah baju seragam lengkap berwarna putih. Sulit bagiku menemukanmu. Sampai akhirnya, sayup-sayup kudengar namamu disebut, aku langsung maju menjadi barisan terdepan di antara barisan keluarga lain.

Akhirnya aku menemukanmu. Aku melihatmu. Melihat matamu, bibirmu, hidungmu dari kejauhan. Pasti kau juga melihatku, bukan? Kau hanya sedikit memberi senyum, namun melegakan. Sangat.

Pertemuan ini tak lagi sama. Kamu pun berbeda. Pakaianmu sekarang adalah kamu yang sekarang. Aku bangga memilikimu. Selamat berjuang, Bang! Percayalah, doaku untukmu. Baik-baik, Sayang.

3. Menjalani kehidupan bersamamu, seperti aku menjadi bagian kehidupanmu.

Kehidupan praja

Kehidupan praja via http://img2.bisnis.com

Awalnya aku mengira, setelah pengukuhanmu menjadi Muda Praja, semua kehidupanmu akan kembali seperti semula atau setidaknya seperti aku yang menjadi mahasiswa pada umumnya. Namun, ternyata semua sama seperti saat kamu sebelum dikukuhkan menjadi Muda Praja. Bahkan yang aku rasakan malah semakin menyiksa.

Mula-mula, menjadi muda praja komunikasi antara kita tetap saja buruk. Dalam seminggu, kau hanya menghubungiku sekali, dua kali, atau bahkan tidak sama sekali. Aku belum begitu paham apa sebenarnya yang kamu lakukan di sana. Kuliah seperti apa yang kamu jalani. Peraturan sehebat apa yang mampu mengatur ribuan orang tersebut dan tak ada yang luput dari pantauan?

Waktu demi waktu pun berlalu. Komunikasi mulai tercipta dan memiliki titik terang. Walau aku harus menerima konsekuensi jikalau tiba-tiba telepon yang terputus, aku sudah mulai paham akan keadaanmu. Kau meneleponku merupakan tindakan yang ilegal. Terimakasih, telah berjuang untuk menghubungiku walau entah kapan dan berapa lama percakapan itu tercipta. 

Oleh karena itu, aku selalu menghargai waktu istimewa tersebut.

Semakin hari, akhirnya kita dapat bertatap muka melalui video call. Sedikit rasa rindu pun luluh begitu saja, setelah melihat kepala botakmu yang begitu mulus, serta seragammu yang kutahu dari layar laptop hanya berwarna hitam atau putih. Ternyata, itu adalah seragam yang telah ditetapkan. Saat video call merupakan saat yang unik bagiku, tak hanya wajahmu yang nampak di situ.

Namun seringkali beberapa temanmu ikut berpartisipasi dalam obrolan kita. Dari Sabang sampai Merauke, mungkin menjadi dirimu sangat membahagiakan. Dapat bertemu dengan orang-orang hebat seperti mereka setiap saat.

Di balik rasa bahagia yang bertambah dalam kehidupanmu, aku tahu bebanmu juga sangat berat. Harimu tak semudah yang aku tahu. Terimakasih telah menjadikan aku pelabuhan lelahmu, di mana kau bersandar menceritakan setiap masa Muda Praja-mu hanya padaku. Percayalah, aku ada di nadimu seperti kamu berada di darahku.

Dari sini, aku memahami. Bukan seberapa sering dan bukan seberapa lama kita bersama dengan orang yang kita sayang. Namun, tentang bagaimana kita menghargai setiap waktu yang ada untuk bersama.

4. Perayaan hari bahagia kita pun sudah tak pernah ada lagi.

Perayaan Anniversary

Perayaan Anniversary via http://i4.mirror.co.uk

Seringkali aku merasa iri pada pasangan yang sedang merayakan hari jadi mereka bersama. Tertawa dan saling memberi kebahagiaan satu sama lain. Saat salah satu dari mereka berulang tahun pun, tak pernah luput dari perayaan-perayaan istimewa. Dari yang sederhana sampai serba ada. Kamu harus tahu, aku selalu iri dengan semua itu.

Aku selalu ingin memberimu kejutan di hari jadi kita. Memberimu banyak kejutan di hari ulang tahunmu karena bagiku, perayaan adalah salah satu bentuk kita menghargai sebuah hubungan dan menjadikan kisah ini lebih bermakna.

Namun, keadaan ini membuatku menyerah pada semua keinginan itu. Bahkan perayaan Anniversary kita yang ketiga tahun pun, tak dapat kita rayakan seperti tahun-tahun yang lalu. Walaupun ulang tahunmu dapat kita rayakan saat kamu cuti, tapi aku masih sangat merasakan sedih sampai saat ini karena di hari ulang tahunku pun tak ada kejutan darimu.

Kamu seharusnya menyadari, aku menantikan itu. Wanitamu sangat menyukai kejutan, Bang. 

Keadaan ini sudah lelah untuk selalu disalahkan. Keadaan ini memiliki kekuatan besar, menjadikanku wanita dewasa tanpamu, tak lagi manja dengan rengekan yang selalu memintamu ini-itu. Terimakasih telah merelakan masa mudamu untuk masa depanmu. Aku harap, ini menjadi bagian untuk masa depan kita juga. Kamu berjuang di kehidupanmu, aku juga berjuang di kehidupanku. Kehidupan yang berbeda, sangat berbeda.

Aku suka perayaan. Aku pun suka kejutan. Karena bagiku, perayaan adalah bagaimana aku melihat kebahagiaan penuh makna di hari yang bermakna.

5. Mendampingimu selama menjadi Muda Praja adalah hal terhebat yang pernah aku lakukan.

Pendampingamu

Pendampingamu via https://pbs.twimg.com

Bagi para penikmat LDR, mungkin memiliki banyak cerita yang sama terjadi di waktu dan tempat yang berbeda. Namun, menjalani LDR dengan Praja IPDN pada tingkat awal yaitu Muda Praja, bukanlah hal yang biasa. Banyak cerita dan yang pasti berbeda. Tak ada kabar berhari-hari, tak ada kemesraan, tak ada kemanjaan. Mungkin hanya perhatian kecil pun sulit untuk didapatkan.

Bagiku, menerima telepon darinya di tengah malam merupakan hal yang sangat membahagiakan, walau harus terbangun dari tidur nyenyak, padahal aku sedang dalam keadaan sangat lelah dengan rutinitasku di kuliah ini. Aku rela terbangun karena aku tahu kamu sangat lelah lebih dari aku. Kamu hanya ingin menciptakan cerita dan tawa di antara kita pada malam yang telah terhitung pagi hari semestinya.

Kamu adalah pria hebat yang dapat membuatku menjadi dewasa menjalani masa ini bersamamu. Aku tahu, aku tak sendiri. Aku sedang menjalani ini bersamamu. Aku hebat, ya? Iya, itu jawabmu. Terimakasih, Bang. Aku bangga menjadi milikmu. Saat ini, kamu sudah menjadi Madya Praja. Selamat menikmatinya bersamaku. Tak ada masa yang tak punya cerita, bukan?

Bukan tentang seragammu, aku mau denganmu. Bukan tentang tingkatanmu, aku ada untukmu. Semua tentang pendampingan. Aku mendampingimu dan kau mendampingiku.