Mudah-mudahan tulisanku kali ini ga membuat otak pembaca jadi keriting ya. Seiring dengan berjalannya waktu, sulitnya permasalahan dalam kehidupan yang bermacam-macam. Dari mulai urusan kampus, kantor, rumah sampai lingkungan sosial. Itulah diantaranya, hal-hal yang menggerakkan otak kita untuk selalu berpikir. Hampir semua manusia berpikir, tapi tidak semua orang dapat berpikir dengan benar. Nah, sekarang saatnya kita telusuri hal-hal apa yang harus dilakukan dalam proses berpikir dan bagaimana sih berpikir yang benar. Mari kita simak!.

1. Fungsi berpikir yang paling mudah untuk dipahami

Pada prosesnya, “Berpikir” membagi dua entitas penting; yang pertama adalah subjek (si pemikir) yang kedua adalah objek (yang dipikirkan). Meskipun beberapa filosof beranggapan bahwa berpikir adalah proses self interaction, yang mana subjek dan objek merupakan satu kesatuan. Jangan bingung dulu dong. Disini aku mau ngejelasin bahwa sebenarnya, berpikir yang baik adalah berpikir yang diawali oleh sebuah kesadaran penuh bahwa kamu sedang berpikir, dan ada baiknya luangkan waktu khusus untuk memikirkan sesuatu dengan serius dan sadar total, di setiap harinya. Ga perlu lama-lama cukup 10 menit atau 20 menit. Hal ini selain membantu kamu untuk berpikir menemukan jalan keluar juga akan membantu kamu mengenal jati dirimu.

2. Karena terlalu banyaknya definisi tentang berpikir, menjadikan maknanya pun sulit dipahami secara konkrit

sehingga sebagian orang memandang aktifitas "tidak berpikir" dianggap "berpikir", dan sebaliknya. Mungkin jika diperhalus, “berpikir” memiliki spektrum, artinya semua orang berpikir, tapi pada levelnya masing-masing. Hal ini membagi kelas berpikir menjadi dua; Berpikir dan Benar-benar berpikir. Dengan demikikan, yang harus kita pahami adalah analogi atau muatan berpikir yang baik dan benar. Ayo kita baca beberapa deksripsi berpikir dibawah ini:

3. Berpikir artinya melihat semua konsep sebagai tersangka

Advertisement

thinking via http://acumen.sg

Di sini kamu dipaksa untuk tak memiliki kecenderungan kepada konsep tertentu, subjek harus realistis dalam memandang konsep, semua konsep yang diasuh dalam paradigmanya harus mendapatkan hak yang sama. Proses berpikirnya lebih kepada penyelamatan konsep-konsep yang tidak layak dimasukan dalam recycle bin. Dalam proses berpikir teman-teman pasti melihat banyak konsep dalam benak, satu persatu konsep-konsep itu hadir dan membayangi, itu harus diwaspadai. caranya ya begitu, anggap aja semua konsep itu salah, baru kemudian difilter.

4. Berpikir benar bukanlah berpikir tentang kebenaran

Berpikir, jangan sampai diawali dengan sifat fanatik, karena itu akan mempersulit menemukan jalan keluar, akan menggiring kamu hanya kepada konsep-konsep yang kamu anggap benar. Padahal, “Kebenaran” bila dipikirkan, menjadi konsep yang digugat ulang. Ketika “kebenaran” digugat ulang, maka ia bebas nilai, kembali relatif, bisa benar bisa salah.

5. Berpikir artinya menata ulang konsep

Salah satu fungsi intelektuakl adalah membangun hirarki ide, maksudnya adalah menyusun semua ide yang kamu miliki seperti tabel atau pohon diagram, dari mulai ide paling dasar kemudian turunan-turunannya. Di situ konsep-konsep berdiri pada kolomnya masing-masing. Ada konsep yang dijadikan prinsip ada yang hanya sekedar opini. Jangan sampai salah menentukan prinsip, kadang kita suka kebablasan. Hirarki ide meniscayakan adanya kolom pembuangan konsep, di situ konsep cacat diletakkan. Semakin dalam berpikir, semakin banyak konsep yang tereliminasi. Sisa konsep yang bertahan layak disebut “ide orisinil”, relasi antar ide yang konstruktif layak disebut “gagasan”.

6. Memposisikan diri dalam kemungkinan keliru

Merasa tidak akan keliru memperjarak diri dengan hakikat, fungsi dari berpikir adalah memanjat tali hakikat. Berpikir itu fungsional, bukan manipulasi bahasa. Sebagian yang mengaku berpikir ternyata tidak benar-benar berpikir. Berpikir yang diawali oleh sebuah kecurigaan terhadap diri mempermudah menemukan jalan keluar, itu salah satu fungsi berpikir praktis. Karena sifat “Jalan keluar” memang harus praktis. Jika belum terurai, itu tanda bahwa berpikirmu masih sebatas menemukannya, bukan menggunakannya.

7. Alhasil, baik-buruknya berpikir, tidak lebih buruk daripada tidak berpikir sama sekali,

karena yang membedakan manusia dengan selainnya adalah “Aksi yang Logis”. Sebaik-baiknya aksi adalah yang konsepnya telah digodok dalam media inteleksi, di situ semua gagasan terhadap "gerak" disidang satu persatu. Konsep etis tak boleh membatasi ruang berpikir, Muatan etis dalam ide adalah "scene", memang sengaja ditampilkan. Corak bengis jadi "obscene", alias menjadi bahan berpikir selanjutnya.

Selamat berpikir dan temukan ide-ide orisinil dari hasil berpikirmu.