Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari manusia lainnya. Begitulah teori Adam Smith yang sudah kita kenal sejak duduk di bangsu Sekolah Dasar. Namun apa jadinya jika dalam semua aspek kita tidak lepas dari orang lain? Termasuk dalam hal penilaian. Manusia dikodratkan menjadi makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dari makhluk lainnya. Tapi jangan pernah lupakan fithrah kita sebagai makhluk tempat berkumpulnya salah dan khilaf. Manusia akan menemukan kepuasan dari menilai orang lain, baik penilaian positif ataupun negatif. Akibatnya, kita sering kali lupa tentang diri kita sendiri, karena terlalu terpaku dalam melihat kelebihan dan kekurangan orang lain. Akan sangat lebih baik jika pandangan kita terhadap orang lain itu dijadikan acuan atau contoh bagi kita untuk memperbaiki diri. Agar kita tidak terlalu memperhatikan aib orang lain, dan lupa pada aib diri sendiri yang jauh lebih besar. Begitu pun sebaliknya, kita terlalu nyinyir melihat kelebihan orang lain, padahal Tuhan telah menganugerahkan kekurangan dan kelebihan dalam diri kita sesuai dengan porsi kita masing-masing. Kita hanya tinggal menyelaraskan antara keduanya.

 

1. Setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda

Bagaimana cara pandangmu terhadap orang lain? Hanya ada dua pilihan, cara pandang orang cerdas dan cara pandang orang yang tidak cerdas. Orang yang memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi tentu tidak akan memiliki ruang pikir negatif terhadap orang lain. Mereka selalu mampu melihat sisi baik dari seburuk-buruknya orang. Namun jika dia masih saja mencela keburukan orang, maka mari kita mempertanyakan ke-intelektualannya. Dia akan dikatakan sebagai orang yang cerdas jika telah memenuhi tiga komponen pokok standar cerdas, IQ, EQ, dan SQ. Jika IQ saja yang ia miliki, maka masih ada kesempatan ‘sombong’ menyusupi hatinya. Jika EQ sudah ada, maka ‘sombong’ bisa jadi tidak ada, dan jika dilengkapi dengan SQ, maka dipastikan dia mampu berpikir jernih dan memiliki tingkah laku yang baik. Jangan menjadi orang konyol yang hanya memandang orang lain dengan sebelah mata, dan separuh hati.

Orang cerdas tidak akan merendahkan yang bodoh. Dan orang bodoh selalu merasa diri paling cerdas.

Tentu penilaian itu bukan hanya pasal cerdas dan tidak cerdas. Namun, yang ditekankan di sini adalah cara pandang mana yang kita gunakan.

Maka yang manakah Anda? Think again! Manusia akan dinilai dari bagaimana pola pikirnya, cara bicaranya, dan tingkah lakunya. Ketiganya adalah elemen utuh yang tidak bisa dipisahkan untuk menilai orang lain. Jangan menjadi bagian dari yang konyol, yang hanya melihat sesuatu dari sisinya saja.

2. Menganggap diri sebagai orang yang paling benar

Mari fokus pada aib sendiri

Mari fokus pada aib sendiri via https://khazanah.republika.co.id

Mereka yang memiliki hobi melihat kesalahan orang adalah mereka yang selalu menempatkan diri pada posisi yang paling benar. Kesalahan kecil orang lain akan tampak sangat besar di matanya. Merekalah yang paling benar. Padahal, terlalu fokus pada kesalahan orang lain adalah kekeliruan terbesar yang telah mereka lakukan. Mereka lupa bahwa urgensi dari sebuah pandangan adalah sebagai acuan kita agar terus menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Bukan sebagai bahan pembenaran bahwa diri ini jauh lebih sempurna dibandingkan dengan yang lain. Jika buruk, maka jangan diikuti, jika baik maka kita harus jauh lebih baik lagi.

Kadang kita tidak menyadari sebuah kesalahan besar yang kita lakukan, merasa sempurna atas ketidaksempurnaan orang lain, dan merasa hina atas kemuliaan orang lain.

3. Karena Tuhan Sebaik-baik Penilai

Sebaik-baik penilai

Sebaik-baik penilai via https://www.firstcovers.com

Saat ini kita tengah dikotak-kotakkan oleh sebuah hierarki bikin-bikinan manusia. Tinggi dan rendahnya derajat seseorang didasarkan pada penggolongannya dalam masyarakat. Apakah ia seorang bangsawan atau tidak, apakah ia orang yang kaya atau tidak, hitam atau putih, pintar dan bodoh, dan lain sebagainya. Padahal sejatinya kita adalah sama, makhluk yang meng-hamba kepada Tuhan Yang Maha Sempurna. Kesenjangan sosial yang begitu curam diciptakan dari sistem sosial semacam ini. Pemikiran yang sudah tersetting sedemikan rupa, turun temurun dan tak ada yang bisa mengubahnya. Tidak ada yang salah, karena hal ini sudah ada sejak kita belum ada. Hukum kehidupan yang mau tidak mau harus diterima keberadaannya. Mungkin hanya segelintir orang yang sadar bahwa penilaian di Mata Tuhan tak lagi tentang hitam, putih, atau belang-belang.

Penggolongan manusia berdasarkan tingkat keimanan dan ketaqwaannya di hadapan Tuhan, bukan berdasarkan derajat dan kasta bikinan manusia.

4. Mulailah bertanya pada diri sendiri, "Apa yang salah dengan diriku?"

Ada yang salah?

Ada yang salah? via https://famale.kompas.com

Segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia itu bersifat relatif. Pembenaran manusia itu relatif, hanya kebenaran dari Tuhan yang bersifat mutlak. Jika ada mereka yang berpikir buruk tentang kita, sudahlah, jangan terlalu dipusingkan. Anggap saja sebagai sebuah peringatan gratis, bahwa kita harus memperbaiki diri. Tapi jangan membuat diri terlalu terpaku dengan penilaian mereka, karena mereka akan selalu mencari celah buruk terhadap diri kita. Jangan sampai kita bertingkah baik hanya demi menerima pandangan baik mereka, jangan! Biarkan mereka dengan kekolotannya yang memandang orang lain hanya dari sisi negatif saja.

Namun ada saat dimana kita yang semestinya bertanya pada diri sendiri, “Apa yang salah dengan diriku?” Mungkin memang benar diri kita sudah terlanjur jauh dari kata baik, sehingga orang lain menilai kita tidak baik. Hal yang harus kita lakukan adalah dengan mulai mengintrospeksi diri agar terus menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Bukankah cara ini lebih baik? Ketimbang meladeni orang-orang konyol yang terlalu menyibukkan diri mencari sisi buruk orang lain.

Bertanyalah pada diri sendiri tentang bagaimana diri ini sebenarnya? Agar kita tak terlalu jauh melangkah menuju sesuatu yang merugikan kita nantinya

5. Penilaian manusia tak akan ada ujungnya

Bisik-bisik tetangga

Bisik-bisik tetangga via https://www.ratemyjob.com

Banyak yang mengatakan hatters gonna hate. Memiliki hatters adalah salah satu isyarat bahwa kita populer, setidaknya di kalangan mereka pada hatters. Bagaimana tidak, kita selalu menjadi bahan perhatian mereka. Sedikit saja kesalahan dari kita, mereka tahu, sementara kita tidak. Berterimakasihlah pada mereka, barisan pada hatters. Karena mereka kita bisa jadi lebih baik lagi. Lagi pula akan sangat percuma kalau kita mengejar penilaian baik dari orang-orang yang sudah kadung mengestimasi kita buruk. Stigma buruk kita selalu melekati tempurung orak mereka. Biarkan saja mereka sibuk dengan kita, sementara kita sibuk dengan urusan kita yang jauh lebih bermanfaat. Mereka mempedulikan kita, sementara kita tidak.

Jadilah bagian dari mereka yang mampu mengambil hikmah dari segala peristiwa

Ambil yang baik, buang yang buruk. Ya, begitulah seharusnya cara kita agar tak terlalu sakit hati dengan 'Apa kata mereka.'  Manusia adalah makhluk sosial yang tidak lepas dari omongan orang. Bersyukurlah, karena masih ada yang peduli dengan kekeliruan kita.