Tidak ada anak yang bisa memilih dari keluarga mana ia akan dilahirkan. Ada yang akhirnya lahir di keluarga dengan kebanyakan uang, ada yang dibesarkan di pelosok dan ada yang di perkotaan, ada pula yang besar di keluarga yang punya lebih dari satu agama.

Aku sendiri dilahirkan di keluarga berbeda agama. Ibuku (Mama, atau kadang juga 'Emak', 'Emak', atau 'Enyak') adalah seorang Muslimah, dan ayahku ('Papa' atau 'Babe') penganut Katolik Roma. Aku satu-satunya anak lelaki dari tiga bersaudara.

Orangtuaku sudah menikah selama 34 tahun. Agustus lalu adalah bulan ulang tahun pernikahan mereka. Sudah hampir 24 tahun aku ada dalam keluarga ini. Dan selama 24 tahun itu, inilah yang aku rasakan sebagai anak dari orangtua dengan agama yang berbeda:

 

1. Keluarga kami lebih 'selo' dari banyak keluarga lainnya. Lebih sering kumpul-kumpul, makan-makan, dan merayakan hari keagamaan

Yang seperti ini sering di keluargaku!

Yang seperti ini sering di keluargaku! via https://en.wikipedia.org

Keluargaku berbeda dari kebanyakan keluarga di Indonesia. Tak hanya dari segi agama, yang lainnya juga. Misalnya, berbeda dari keluarga lain, keluargaku lebih selow. Lebih sering kumpul-kumpul bareng, liburan, dan melakukan perayaan.

Ketika Natal atau Paskah, semua keluarga di Indonesia yang beragama Kristen akan mengadakan acara acara makan malam bersama. Kue-kue kecil akan dihadirkan di meja ruang tamu dan ruang keluarga, supaya keluarga besar yang akan datang bisa dijamu dengan nyaman. Ini biasanya dilakukan hanya setahun sekali. Begitu juga dengan keluarga Muslim yang merayakan Idulfitri dan Idul Adha. Akan ada makan bersama, keluarga yang datang, berkumpul, arisan keluarga dan semacamnya. Namun, sama dengan Natal dan Paskah, kemungkinan besar hanya setahun sekali.

Nah, di keluargaku, Natal, Paskah, Idulfitri dan Idul Adha adalah momen perayaan yang absah. Kami akan merayakan keempatnya sehingga akan ada lebih banyak waktu yang kami habiskan bersama keluarga. Artinya, akan ada lebih banyak waktu untuk bersenang-senang dan makan-makan. Artinya, akan lebih selo. Siapa yang tidak suka dengan waktu selo?

2. Punya orangtua Muslim dan Katolik, aku jadi punya lebih banyak kesempatan untuk belajar tentang agama dan manusia

Lebih bisa belajar agama

Lebih bisa belajar agama via https://pixabay.com

Dengan lahir dalam keluarga yang berbeda agama, aku jadi tahu tentang dua hal secara bersamaan. Aku belajar tentang Islam dan Katolik Roma. Dari kecil, aku belajar sedikit demi sedikit tentang Islam, walaupun tidak pernah memeluknya. Berbagai pengalaman dan nilai Islami sebagian besar aku dapatkan dari Mama, selebihnya dari teman-teman Muslim yang dekat denganku.

Aku meyakini bahwa pengetahuan semacam ini memperkaya diriku. Bukan secara isi dompet, namun secara personal, kejiwaan, atau pemikiran. Aku jadi mengerti hal-hal apa yang dibolehkan dan tak dibolehkan dalam Islam, kewajiban-kewajiban seorang Muslim, dan detil-detil ajaran lainnya.

Menurut pandanganku, mempelajari dan mengerti ajaran agama yang tak kita anut bisa membentuk pengertian antara orang-orang. Dan dengan pengertian yang baik, semuanya bisa selo. Dan dengan ke-selo-an yang cukup, dunia akan baik-baik saja. Dunia selalu kacau ketika orang kurang selo.

Ada juga perasaan menyenangkan ketika teman-teman Muslimku bertanya,"Kok kamu bisa tahu ajaran agamaku sih No?" Kujawab saja, karena ibuku pun seorang Muslimah. Mendapati bahwa teman-teman Muslimku tak menyangka aku tahu ajaran agama mereka, buatku itu menyenangkan sekali.

3. Status keluargaku membuat banyak teman penasaran. Buatku, itu topik obrolan yang sangat menyenangkan

Tema obrolan yang menyenangkan

Tema obrolan yang menyenangkan via http://pixshark.com

Seingat kepalaku, selalu ada perhatian lebih dari orang-orang begitu mereka tahu agama ayah dan ibuku. Bagiku ini juga menyenangkan. Bukan karena haus perhatian, melainkan karena sampai sekarang, ini bisa menjadi caraku menambah teman. Semacam jadi bahan obrolan yang asyik ketika awal-awal berkenalan.

"Kayak apa sih rasanya punya orangtua yang agamanya beda?"

"Terus kamu ikut agama siapa? Gimana diaturnya?"

"Pernah nggak sih terpikir buat pindah agama?"

Mungkin karena memang keluargaku termasuk "minoritas" di Indonesia, banyak orang yang akhirnya ingin mengerti bagaimana rasanya tinggal, dibesarkan, dan hidup dalam keluarga dengan orangtua beragama berbeda. Mungkin, mungkin.

4. Ini yang aku percaya: kita bisa saja jatuh cinta dengan orang yang tak punya latar sama. Dan itu tak apa.

Kita bisa jatuh cinta dengan siapa saja

Kita bisa jatuh cinta dengan siapa saja via http://www.indonesianfilmcenter.com

"Katresnan kuwi isa wae ora mung marang wong sing padha karo kowe."

Aku tidak bisa menemukan translasi yang benar-benar menggugah kepala dari kalimat berbahasa Jawa ini. Mungkin kira-kira, "Kita bisa saja jatuh cinta dengan orang yang sama sekali tak sama dengan kita." Aku percaya, dua hal yang berbeda bisa disatukan untuk satu makna yang lebih dalam. Aku percaya, tresna (Bahasa Jawa: 'cinta', aku tetap pakai 'tresna' karena lebih puitis daripada 'cinta') itu bisa melintasi sesuatu yang biasanya dikotak-kotakkan. Baik itu ras, suku, kasta, dan, secara khusus, agama.

Pikiran semacam ini aku pikir datang dari latar belakang keluargaku yang harmonis. Semuanya menyenangkan, terlepas perbedaan agama antar Papa dan Mama. Orang punya hak untuk bilang bahwa hubungan yang berbeda agama pasti akan membuat ini-itu runyam. Tapi secara pribadi, itu tak terjadi padaku.

5. Kepercayaan pribadiku, hanya karena tak berTuhan sama bukan berarti seseorang tak layak lagi kita cinta.

Kerukunan Ayah dan Ibu pun mempengaruhi hidupku. Hampir selama 24 tahun, yang benar-benar memberi warna dalam satu dekade terakhir adalah seorang muslimah. Yang mengajariku cara memperlakukan perempuan dengan sopan, berperilaku di depan orangtua perempuan kuajak berkencan, dan bagaimana menjadi lebih dewasa adalah perempuan yang beragama Islam. Oh, pada akhirnya sih ceritanya tidak berjalan seperti yang diinginkan. Tapi aku tetap tidak bisa menolak faktanya: dia telah mewarnai hidupku dan tetap memberi pengaruh bahkan setelah ceritanya tak lagi berlanjut.

Dan kegagalan itu toh tidak mempengaruhi perspektif aku tentang katresnan (Jawa: 'rasa cinta'). Sampai sekarang, aku tetap tidak percaya bahwa karena latar belakang agama, satu orang harus dicoret dari daftar jodoh potensial. Ah, tidak.

Aku mensyukuri 'kebetulan' yang membuatku lahir dan dibesarkan di keluarga berbeda. Tak ada penyesalan dengan perbedaan antara Papa dan Mama. Aku mensyukuri keduanya. Mereka orangtua yang istimewa. They are awesome. Fan-fucking-tastic.

Kamu boleh tidak setuju denganku dan caraku menjalani hidup. Aku tak berminat mencari "bala" karena memang tak membutuhkannya. Tujuanku di sini hanyalah bercerita. 

 

Oh, dan satu lagi: ini salam personal untuk kakak dengan senyum yang sering mengganggu tidur. Ada titipan kalimat dari teman dekat sekaligus penasehat spiritualku: "Nanti tidak hanya orangtua kita yang besanan. Tuhan-ku dan Tuhan-mu pun juga akan besanan."