1. Kasus penistaan agama

Gambar via twitter via https://twitter.com

Yang pertama ini paling panas hingga saat ini, dan bahkan terdapat ancaman masuk dalam jeruji besi(Terlapor). Perpecahaan yang terjadi mengakibatkan tebagi menjadi golongan yang pro dan kontra akibat adanya masalah ini. Perlu kedewasaan kita dalam menilai permasalahan ini. Ingat, politik tidak dapat dinilai dari satu sisi. Tetapi nilailah dengan dua sisi; baik dan buruk. Yang terpenting itu indonesia besatu, berdaulat adil dan makmur. Ingat UUD 1945 dan Pancasila.

2. Membandingkan calon presiden yang terpilih dan yang tidak terpilih.

Gambar Via Twitter via https://twitter.com

Inilah kita saat ini, tidak bisa menerima keputusan yang telah dilakukan secara bersama. Dimana keputusan yang kita lakukan secara musyawarah dan dipilih oleh masyarakat yang memiliki hak politik, maka sah untuk dijadikan pemimpin. Undang-undang sudah jelas, menyebutkan dan mengatur pemilihan umum. Tetapi masih saja membandingkan coba yang A terpilih jadi presiden, coba B terpilih jadi presiden.

Sebenarnya permasalahan itu bukan apa dan siapa yang memimpin. Tetapi kebutuhan bersama masyarakat terpenuhi; kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, pengangguran, pertahanan, ekonomi dan masih banyak lagi. Yang terpilih atau tidak terpilih, buat agar kita(Indonesia) tetap bersatu apapun yang menjadi keputusan bersama. udah tau yang menang siapa, tapi masi aja nulis-nulis tentang ini. pantes aja UU elektronik jadi senjata buat menumpas ini.

3. Proyek E-KTP

Advertisement

Gambar via twitter via https://twitter.com

Maaf sebelumnya, yang ini masih dalam konteks kekuasaan. Namun lebih kekuasaan materialistis. Parlemen sedang diuji dengan proyek E-KTP, akibat dari banyaknya anggota parlemen yang terseret. Parlemen goyang, ketar-ketir takut namanya tercoreng dan dipecat partai atau kehilang hak didalam parlemen. Indonesia goyang, sibuk ngurusin prilaku para anggota dewan ini.

Akibatnya jika ada permasalahan yang terjadi dan menyedot perhatian banyak baru bertindak bukan mencegah sebelum terjadi kejadian ini. Sungguh memalukan jika terlibat, capek-capek dateng buat milih di Pemilihan Legislatif(Pileg), malah seenaknya.

4. Apapun dijadikan masalah buat menyikut lawan politik.

gambar via Twitter via https://twitter.com

Banyak kasus-kasus yang dipertanyakan kejelasannya saat pergelaran Pilkada serentak. Ujung-ujungnya kasusnya ditarik atau terlantar. Entah apa maksud orang-orang ini, maunya itu apa?. Masak iya kasusnya ditarik atau ditelantarkan. Usahakan diteruskan lagi, apa emang dibuat kayak gini. Salut deh buat kamu yang mau ini dan itu.

5. Media menjadi senjata andalan

Gambar via Twitter via https://twitter.com

Sangatlah dibutuhkan media yang netral, khususnya tentang berita politik. Penting nih teman-teman.., jika mau membaca berita tentang politik, usahakan untuk membaca lebih dari 2 media. Karena apa, jika kita membaca hanya dari satu media saja. Kita bisa terjebak oleh arah dan maksud tulisan tersebut. Media; baik cetak maupun elektronik, memang merupakan tujuan dari semua orang yang ingin mendapatkan informasi.

Tapi apa jadinya jika informasi yang didapat malah simpangsiur atau malah membuat gaduh publik. kesimpang-siuran informasi yang didapat membuat persepsi orang-orang berbeda. Sudahlah, kita ini udah dijajah berapa tahun pak? Coba dihitung, emang ia yang dijajah itu orang terdahulu dari kita. Tetapi perpecahan yang terjadi dapat membuat rakyat terjajah dari ulah orang-orang yang memiliki kekuasaan untuk kepentingan-kepentingan tertentu.

6. Koalisi Partai Politik

gambar Via Twitter via https://twitter.com

Mungkin publik lebih tau ya dengan yang ini, dan persepsi sendiri berbeda beda walaupun dalam undang-undang sudah diatur batas ambang perolehan suara untu calon presiden. Mau partai A, B, C, D sampai Z. Bagi penulis yang terpenting itu, Tetap ingat sila ke-3 dalam Pancasila, bukan untuk kelompok atau golongan atau apalah Indonesia banyak partai banyak golongan dan yang lainnya, tetapi apa ia pecah belah gara-gara ini. Sangat melemahkan persatuan negara kita (NKRI).

Mungkin saran dari penulis jika nanti ada calon Pilpres yang memperebutkan kekuasaan, bawa masa pendukunggnya buat nonton sepak bola untuk dukung timnas yang tanding dengan sepak bola negara modern yang lebih baik. Itu lebih baik kita saling suport untuk mendukung timnas indonesia yang lagi bertanding.

Terlepas dari itu semua tetap aja kita yang jadi pengawas, kita yang menderita, kita yang merasakan perilaku-perilaku para pemimpin yang melenceng. Imbasnya itu kita semua. Coba, buat lah dulu indonesia ini bangga dengan apa yang ada diolah dan diarahkan untuk kepentingan bersama. Siapa pun bisa jadi pemimpin, yang jelas dia yang terpilih busa mengatasi permasalahan yang terjadi. Bukan untuk mempertahankan kekuasaan yang dimiliki, tetapi birkanlah publik mencari yang terbaik.

Politik emang susah untuk dipahami dan dicerna tapi gunakanlah untuk kesejahteraan kami pak. Sejahtera itu bisa mencakup apa aja yang penting kami sejahtera, UUD 1945 dan pancasila jadikan pedoman untuk mempersatukan bangsa.

Demikian tulisan dari saya ampera-siger.blogspot.co.id jangan lupa untuk mengunjunggiku ya…