Beberapa waktu lalu ada beberapa temanku yang bertanya, mengapa aku jarang sekali terlihat batang hidungnya ?.

Jawabanku simple aja sih, aku sibuk skripsi.

Semenjak kenal 'Skripsi' aku jadi berubah seperti zombie, Sering Bergadang Lupa makan, lupa mandi segala macem.  Aktifitas yang aku lakukan hanya membaca, membaca dan membaca. Sampai suatu ketika disaat aku sedang penat-penatnya menyusun skripsi temanku berkata, "kayaknya lo butuh piknik deh".

Setelah aku pikir-pikir, sepertinya ada benernya juga. Siapa tahu dengan 'plesiran' sebentar 'body'ku bisa lebih fresh.

Tanpa pikir panjang, akupun menutup bukuku dan bersiap untuk berplesir ria 🙂

Hal pertama yang biasa aku lakukan jika ingin plesir ke suatu tempat adalah mencari informasi sebanyak-sebanyaknya. Dari mulai daerah mana yang ingin akan aku kunjungi, menghitung budget pengeluaran dan mencari teman seperjalanan.

Adapun dalam plesir kali ini aku ingin bercerita tentang pengalaman seruku mendaki gunung gede pangrango yang teretak di daerah bogor- Jawa Barat.

 

1. mengapa memilih gunung gede pangrango? Gak gunung yang aja?

Gunung Gede Pangrango

Gunung Gede Pangrango via http://wikimapia.org

Semenjak kuliah, aku mengikuti sebuah organisasi pencinta alam, FATAPALA namanya. Sebenarnya aku sama sekali tidak tertarik dengan kegiatan outdoor seperti ini. Tapi setelah masuk ke Organisasi Kemahasiswaan yang satu ini. Aku justru ketagihan mendaki gunung, bisa dibilang mendaki gunung adalah hobi baruku yang sangat menyenangkan.

Aku sengaja memilih gunung gede pangrango sebagai destinasiku. Karna kebetulan organisasi kemahasiswaan FATAPALA di tempat kuliahku sedang mengadakan Open Trip kesana, selain itu aku juga penasaran dengan gunung kedua tertinggi di Jawa Barat ini. Kata kebanyakan temanku gunung ini sangat cocok untuk menghilangkan penat gara-gara skripsi, haha .

2. Persyaratan wajib sebelum mendaki gunung Pangrango.

Ayo Registrasi Dulu

Ayo Registrasi Dulu via https://evrinasp.files.wordpress.com

Gunung pangrango merupakan salah satu taman nasional yang memiliki peraturan ketat bagi setiap pendakinya. Sebelum

Untuk mengurangi dampak negatif kepada lingkungan dan agar pengalaman saat mendaki memuaskan, maka Taman Nasional Gunung Gede Pangrango menetapkan sistem kuota, yaitu 600 orang pendaki per hari.

Karna saking banyaknya peminat untuk mendaki gunung gede Pangrango, aku saranin untuk mendaftarkan diri secara online di website Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sebelum mendaki.

Adapun harga Tiket masuk untuk wisatawan domestik hanya Rp. 2.500/hari/orang. Dan asuransi : Rp. 2.000/orang. Sedangkan watawan asing tiket masuk: Rp. 20.000/hari/orang dan asuransi : Rp. 2.000/orang

Setelah semua persyaratan lengkap, ini saatnya naik gunung !!

3. Gunung Pangrango, Im Coming !!!

Gunung Pangrango Asri Banget

Gunung Pangrango Asri Banget via https://4.bp.blogspot.com

Selepas Shalat jum’at, aku dan beberapa teman kuliahku berangkat menuju Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, waktu yang ditempuh tidaklah lama, hanya 3 jam. Karna memang jarak antara Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan Kostanku tidak jauh.

Jam 4.30 sore aku sudah sampai di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Setelah daftar ulang dan mengecek perbekalan, pendakian pun dimulai. Yaaay !!

Pertama menginjakan kaki di Gunung Gede Pangrango aku disambut oleh udara gunung yang dingin dan suara-suara hewan satwa yang khas banget. Hewan satwa disini memang dilindungi oleh Taman Nasional Gunung Gede Pangrano, menurut data TNGGP

Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango terkenal kaya akan berbagai jenis burung yaitu sebanyak 251 jenis dari 450 jenis yang terdapat di Pulau Jawa. Beberapa jenis diantaranya burung langka yaitu elang Jawa dan burung hantu.

Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfir pada tahun 1977, dan sebagai Sister Park dengan Taman Negara di Malaysia pada tahun 1995. Wah hebat banget kan ?!.

Menurut perhitungan, kita akan menghabiskan 8 jam diperjalanan untuk mencapai puncak Gunung Gede Pangrango. Mungkin karna aku berangkatnya malam hari sehingga perjalanan sedikit lebih lama

Sekitar pukul 08.00 malam aku baru sampai di trek Air Panas. Perjalanan di Air Panas menantang banget. Aku harus ekstra hati-hati jika melewati trek ini, karna kalau sampai aku terpleset oleh bebatuan yang licin, aku bisa jatuh ke jurang bersama air panas yang memang benar-benar panas. Ga tau lagi harus dijelaskan seperti apa karna sensasinya ‘emejing’.

Setelah melewati Trek air panas, akhirnya sampai juga di Kandang Badak. Kandang badak adalah tempat yang biasa di gunakan para pendaki untuk mendirikan tenda, masak-masak dan ‘bobo cantik’. Tapi aku tidak berniat untuk mendirikan tenda disini karna aku sudah ngebet pengen kepuncak.

Tidak tahu sudah berapa jam aku di perjalanan, rasanya lamaaa banget. Sempet putus asa karna sudah lama berjalanan tapi puncak masi belum terlihat. Perjalananku menjadi semakin lama karna aku sempat tersesat di tengah jalan. Mungkin karna suasana malam cukup gelap sehingga aku tidak bisa melihat jelas petunjuk jalan. Karna petunjuk jalan disana hanya menggunakan seikat tali berwarna merah putih.

Untuk mengantisipasi salah jalan, aku membawa peta gunung gede pangrango, setelah berdiskusi dengan teman-teman seperjuangan, akhirnya aku dapat menemukan jalan yang benar dan melanjutkan perjalanan.

Sudah jam 12 Malam aku masih diperjalanan, semakin keatas udara semakin dingin. Ditambah hujan yang tak henti-hentinya. Disaat ini aku berfikir, bisa ga yah aku sampai puncak? Atau mau nyerah aja ?.

Ternyata yang berpikiran seperti itu tidak hanya aku saja, tapi teman-temanku yang lan juga berpikir hal yang sama. Sehingga kami memutuskan untuk mendirikan tenda dan akan melanjutkan perjalanan esok hari. Sempat meyesal karna perjalananku belum mencapai target. Harusnya malam ini aku sudah sampai puncak agar esok hari bisa melihat sun rise dari atas gunung, tapi mau bagaimana lagi tubuhku sudah tidak bisa diajak kompromi. Ga baik juga kalau memaksakan diri untuk berjalanan. So, aku memutuskan akan bangun ketika subuh dan melanjutkan perjalanan agar bisa sampai puncak sebelum sun rise tiba.

Tidur kali ini sangat nyenyak, aku sama sekali tidak terbangun ditengah malam. Aku tidak pernah merasakan tidur senyenyak ini. Saking asiknya tidur tau-tau sudah jam delapan pagi, sedih sekali rasanya karna tidak bisa melihat sunrise.

Setelah bangun aku langsung merapihkan tenda dan shalat subuh. Ditambah shalat maghrib dan isya semalam yang belum sempat aku tunaikan haha.

Setelah itu aku melanjutkan perjalanan, dan sekitar jam 10.00 pagi barulah sampai puncak. ‘Gila’ indah banget pemandanganya, rasanya semua lelahku terbayar. Inilah hal yang paling aku suka dari mendaki gunung. Gunung selalu menyuguhkan keindahan alamnya. Tak henti-hentinya aku memuji dan bersyukur kepada Yang Maha Kuasa. Tanpa basa-basi, aku dan beberapa teman ku langsung ‘gelar tikar’ dan masak-masak tampan. yang aku rasakan Cuma kebahagiaan. Aku sama sekali tidak memikirkan apa-apa, sampai aku lupa dengan skripsi ku, disini aku benar-benar ‘lupa daratan’.

Setelah puas main-main di puncak. Akhirnya aku turun untuk pulang kerumah. Perjalanan turun terasa lebih cepat di bandingkan naiknya. Bahkan aku merasa tidak begitu lelah.

Sebelum pulang, aku menyempatkan diri untuk mampir ke air terjun. Air terjun masih berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Dan nilai plus dari gunung gede pangrango adalah ia memiliki air terjun yang super indah. Biasanya para pendaki datang ketempat ini selain untuk melihat keindahan air terjunya juga untuk membersihkan tubuh setelah kurang lebih 2 hari tidak mandi haha.

Setelah puas bermain air, akhirnya aku melanjutkan perjalanan ke pos penjaga. Tidak lama untuk sampai kesini hanya beberapa menit. Setelah sampai di pos penjaga aku langsung melapor bahwa aku sudah sampai dengan selamat. Dan ini adalah peraturan wajib bagi setiap pendaki untuk melapor ketika ingin naik dan setelah turun gunung. sekarang saatnya pulang ke habitat masing-masing. dengan harapan, 'body'ku bisa lebih fresh untuk mengerjakan skripsi lagi. semangat :)

4. Kalau Bukan Sekarang Kapan Lagi ?

Jalan Bareng Teman

Jalan Bareng Teman via https://4.bp.blogspot.com

Saya selalu menyarankan ini jika kalian masih muda, punya banyak waktu luang, tidak memiliki terlalu banyak keterbatasan, maka berkelilinglah melihat dunia. Bawa satu ransel di pundak, berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu desa ke desa lain, dari satu lembah ke lembah lain, pantai, gunung, hutan, padang rumput, dan sebagainya. Menyatu dengan kebiasaan setempat, naik turun angkutan umum, menumpang menginap di rumah-rumah, selasar masjid, penginapan murah meriah, nongkrong di pasar, ngobrol dengan banyak orang, menikmati setiap detik proses tersebut. 

Maka, semoga, pemahaman yang lebih bernilai dibanding pendidikan formal akan datang. Dunia ini bukan sekadar duduk di depan laptop atau HP, lantas terkoneksi dengan jaringan sosial yang sebenarnya semu. Bertemu dengan banyak orang, kebiasaan, akan membuka simpul pengertian yang lebih besar. Karena sejatinya, kebahagiaan, pemahaman, prinsip-prinsip hidup itu ada di dalam hati. Kita lah yang tahu persis apakah kita nyaman, tenteram dengan semua itu. Nah, kalau kalian punya keterbatasan, lakukanlah dalam skala kecil, jarak lebih dekat, dengan pertimbangan keamanan lebih prioritas. Itu sama saja. Lihatlah dunia, pergilah berpetualang, perintah itu ada dalam setiap ajaran luhur” Tere Liye

5. Terimakasih Pangrango

Terimakasih Pangrango

Terimakasih Pangrango via https://2.bp.blogspot.com

Kisah asik pendakian gunung ! mana kisahmu ?