Sekilas tentang diriku, aku berusia 19 tahun saat ini, mahasiswa kelas malam semester 3 Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi di sebuah universitas swasta di Surabaya. Selain kuliah, aku juga bekerja sebagai admin di sebuah perusahaan swasta di Surabaya. Aku memiliki seorang pacar, dia juga berusia 19 tahun. Aku mengenal dia karena kita satu kelas pada saat kelas 2 SMP. Walaupun pernah satu kelas, aku dan dia baru pacaran saat kita naik ke kelas 3 SMP.

Melalui tulisan ini, aku ingin menceritakan kisahku dengannya saat memasuki bangku perkuliahan. Sekedar informasi, kami menjalani hubungan jarak jauh atau LDR setelah lulus SMA.

1. Penyesuaian awal LDR

Waktu berjalan terasa cepat, aku dan dia sudah hampir 5 tahun pacaran saat itu. Dia baru saja diterima bekerja di sebuah perusahaan BUMN di Surabaya. Tapi pada saat itu juga, dia harus ditempatkan di cabang perusahaan yang ada di Bali. Semenjak hari itu, aku dan dia LDR Surabaya-Bali.

Pada awalnya, hubungan kami tidak ada masalah yang berarti, komunikasi lancar dan rutin. Tapi setelah berjalan 1 bulan, barulah muncul masalah-masalah sepele yang berujung pertengkaran. Surabaya-Bali selisih 1 jam. Di mana saat dia istirahat kerja, aku belum waktunya istirahat. Di saat aku baru istirahat kerja, dia sudah masuk kerja. "Kan masih bisa komunikasi panjang saat pulang kerja?" Kenyataanya aku pulang kerja langsung berangkat kuliah, baru sampai rumah biasanya pukul 10 malam. Dan tidak jarang dia sudah tertidur sebelum aku sampai rumah. Jadi komunikasi kita berantakan. Padahal kunci utama LDR selain kepercayaan yaitu KOMUNIKASI.

2. Orang ketiga mulai masuk

Orang ketiga via https://www.inovasee.com

Advertisement

Karena berantem yang berkepanjangan, aku jadi muak. Pada saat hubungan kita renggang, datanglah seorang lelaki. Aku dan lelaki itu berkerja di perusahaan yang sama. Lelaki itu juga berusia 19 tahun (emang suka sepantaran sih) dan juga mahasiswa D3 di sebuah Politeknik swasta di Surabaya. Aku dan lelaki itu semakin sering berkomunikasi karena hubunganku dengan pacarku sudah merenggang.

Sebenarnya aku mau meladeni chat dari lelaki itu karena kesepian gara-gara bertengkar dengan pacarku. Selain itu, alasan lainnya karena aku tau lelaki itu sudah punya pacar. Yang ada dipikiranku saat itu yaitu: 


"Ngggakpapa kali yaa chatingan sama dia, toh dia juga sudah punya pacar dan aku juga sudah punya pacar, jadi nggak bakal ada cinta di antara kita."


Seminggu setelah aku sering chattingan dengan lelaki itu, aku merasa nyaman, sampai aku nggak pernah bales chat dari pacarku (karena emang masih berantem). Setelah aku deket sama lelaki itu, ternyata entah apa sebebnya hubungan dengan pacarnya tiba-tiba putus.

Semenjak dia putus sama pacarnya, dia makin rajin ngechat aku. Aku dan lelaki itu semakin rajin komunikasi (karena dia putus dengan pacarnya dan pada saat yang sama hubunganku dengan pacarku juga renggang).

Setiap hari kita ketemu di tempat kerja, dan juga semua temen kerja pada jail sukanya jodoh-jodohin aku sama lelaki itu. Aku sama dia sih malah ketawa waktu dijodoh-jodohin.

Sampai akhirnya aku sering jalan berdua dengannya. Kadang kami berangkat kerja berdua, kadang dia nganterin aku berangkat kuliah, kadang kami ketemuan pas pulang kuliah kalau lagi bawa kendaraan sendiri-sendiri, kadang kami malam mingguan berdua, kadang juga kami keluar rame-rame sama temen kerja.

3. Saat kita bertiga ada di kota yang sama "Surabaya"

Perselingkuhan via http://zhanot.com

6 September 2015, tepat anniversarry ku yang ke-5 dengan pacarku. Kita rayain berdua via video call di tempat masing-masing sambil bawa kue yang ada tulisannya "happy anniversaary 5 th". Pada waktu yang sama pula, lelaki itu untuk pertama kalinya bilang sayang ke aku.

Aku semakin dekat dengan lelaki itu, bahkan dia terlihat sangat sayang sama aku. Dia memposting foto kebersamaan kita berdua di semua media sosialnya, padahal belum jadian. Saat itu aku lihat pacarku juga semakin berubah menjadi lebih baik, dia mulai sering nungguin aku pulang kuliah walaupun sampe malem, dia tahan ngantuknya cuman buat nungguin aku pulang.

Kadang suka bingung kalo pacarku dan lelaki itu sama-sama ngajakin telfonan malem hari di waktu yang bersamaan (di sini aku punya 2 HP, jadi bisa masuk barengan telfonnya).

20 september 2015, hari itu ulang tahunku yang ke-19. Pacarku pulang dari Bali buat ngerayain ulang tahunku. Lelaki itu juga tau kalo hari itu aku ulang tahun, dan dia juga ngajakin aku ngerayain bareng. Tapi kali ini aku lebih pilih ngerayain sama pacarku yang bela-belain datang jauh-jauh dari Bali ke Surabaya cuma buat aku.

Bagaimana sama lelaki itu? Aku bilang ke dia kalau aku lagi di rumah saudaraku. HP yg untuk chattingan sama lelaki itu, aku titipin ke temenku (tujuannya biar nggak terlalu curiga kalau aku nggak bisa bales chat dari dia). Karena nggak mungkin juga aku bales chat dari lelaki itu saat aku kencan sama pacarku.

Masih di hari ulang tahunku, pacarku harus balik lagi ke Bali. Pada saat dia di bandara, tiba-tiba dia telfon, "Sayang, aku udah di bandara nih, bentar lagi mau masuk pesawat nggak bisa chat dulu ya… Kamu baik-baik ya di Surabaya, jangan nakal!" (sedih banget dia ngomong gitu).

Tapi setelah pacarku matiin HPnya, lelaki itu udah tau kalau aku udah di Surabaya (abis pura-pura dari rumah saudaraku) dan dia ngajakin ketemuan. Dan taraaaa, lelaki itu kasih aku kado.

4. Lirik lagu jadi ungkapan saat itu "Akhirnya kita harus memilih satu yang pasti mana mungkin terus jalani cinta begini"

Setelah hampir 2 bulan deket, lelaki itu mulai minta kepastian. Dia juga mulai curiga kalau aku sebenarnya punya pacar. Karena aku selalu mengalihkan perhatian kalau lelaki itu lagi mau serius ngomong sesuatu (sebenernya aku sudah tau apa yang mau dia omongin, dan aku nggak siap untuk kenyataan itu). Lelaki itu mulai mengerti kalau aku belum siap jawab ungkapan dia. Tapi aku salut sama dia yang tetep berusahaa bahagiain aku walaupun aku belum kasih dia kepastian.

Suatu saat aku sadar, aku nggak bisa gini terus. Aku harus memilih salah satu, atau aku akan menyakiti keduanya. Aku bingung saat itu aku harus memilih siapa. Apa aku harus pilih pacarku yang sudah 5 tahun bersamaku? Yang sudah lama mengenalku? Tapi aku juga terus berfikir, kuatkah aku meneruskan LDR ini Ataukah aku harus memilih lelaki itu? Yang setiap hari bertemu denganku, yang selalu ada untukku, yang membuatku sangat nyaman ketika bersamanya. Akan tetapi baru sekitar 2 bulan aku mengenalnya dekat.

Setelah aku menerima masukan dari sahabat-sahabatku. Aku lebih memilih pacarku, dan pelan-pelan mulai merenggangkan hubunganku dengan lelaki itu (dengan cara jarang bales chatnya, sekali bales chat jaraknya lama). Tetapi lelaki itu malah semakin perhatian, ketika aku lama membalas chat, dia langsung inisiatif telfon. Hal itu membuatku susah menjauhi lelaki itu, karena aku nggak tega dan nggak mau kehilangan sosok seperti dia.

5. Ketika aku binggung di antara 2 pilihan, Tuhan menjawabnya dengan takdir

Tuhan telah mengambilnya via http://www.sentidounico.org

Pada malam minggu, biasanya lelaki itu selalu ngajak aku ngedate. Tapi kali ini dia pergi touring dengan motor bersama temen-temennya. It's oke lah, tapi yang aku sangat salut sama lelaki itu adalah perhatiannya nggak pernah berhenti sama aku. Di tempat yg ramai pun, dengan siapa pun dia lagi main, selalu cepet bales chatku. Bahkan kalau nggak ada sinyal internet, dia langsung sms atau telfon.

Malam itu aku tertidur duluan, sampai sms dan bbmnya belum sempat ku balas, telfonnya juga nggak aku angkat. Di tengah tidurku, aku terbangun. Ketika melihat HP ada notifikasi panggilan tak terjawab dari lelaki itu, langsung aku telfon balik beberapa kali, tapi tidak diangkat. Okelah, aku berfikir mungkin dia lagi nyetir. Dan aku pun melanjutkan tidurku.

Sampai dini hari, bangun tidur rasanya seperti mimpi, aku membuka chat dari dia yang isinya, "Assalamu'ailakum ini dari rumah sakit, yang punya handphone mengalami kecelakaan dan sekarang di bawa ke Rumah Sakit Anwar Medika. Kondisinya parah dan keluarga tidak ada." Ada lampiran fotonya yang tertidur lemas di atas ubin ruang jenazah. Betapa hancurnya hatiku saat itu. Hancur se-hancur-hancurnya. Tak berhenti-berhentinya aku menyalahkan kebodohanku atas semua yang aku lakukan kepada lelaki itu.

Aku pergi ke rumah duka untuk melihatnya untuk yang terakhir kalinya. Aku dipanggil oleh kakak perempuannya. Dia mengira aku adalah pacarnya, karena banyak fotoku di HPnya. Kakanya juga yang ikut nyariin kado buat ulang tahunku kemarin. Semakin sedih aku menerima kenyataan ini, ketika aku melihat jenazahnya tak sanggup aku membendung air mata ini. Hanya maaf, maaf, dan beribu maaf yang bisa ku ucapkan. Maaf belum sempat jujur sampai dia dipanggil oleh yang Maha Kuasa.

Pada akhirnya aku sampai membenci pacarku, setelah meninggalnya lelaki itu. Bahkan sebenarnya pacarku tak tau apa yang sedang terjadi. Setelah kepergiannya pun setiap hari aku selalu memikirkan kenapa ini semua terjadi padaku? Kenapa Tuhan mengirimkan aku menjadi wanita terakhir di hidupnya?

3 bulan kepergian lelaki itu, pacarku dipindah tugaskan dari cabang Bali ke kantor pusat yang ada di Surabaya. Sampai saat ini, aku masih menjalin hubungan dengan pacarku. Satu kejadian ini menjadikan pelajaran yang sangat berharga buat aku. Aku tak akan main-main lagi dengan perasaan, dan alhamdulillah aku sudah menceritakan kejadian sebenarnya kepada pacarku. Awalnya dia tak terima. Sampai akhirnya dia memberikanku kesempatan terakhir, sudah tidak akan ada kesempatan lagi kalau kejadian ini kembali terulang di kemudian hari.

Semoga kisahku ini menginspirasi pembaca Hipwee untuk tidak pernah mempermainkan cinta. Karena kita tidak tau, apa yang akan terjadi selanjutnya. Terima kasih.