Saya menikah tanggal 17 Januari 2016, sakramen pernikahan dilaksanakan siang hari di kapel biara di bilangan Jakarta Pusat, dilanjutkan dengan resepsi pernikahan di salah satu ballroom sports club di daerah Serpong. Sakramen pernikahan yang kami dilakukan cukup sakral, hanya di kapel biara, bukan di gereja besar, dihadiri oleh keluarga besar dan sahabat terdekat. Resepsi kami dilaksanakan cukup meriah dengan mengundang semua keluarga dan relasi kedua orang tua kami. Teman-teman saya dan suami hanya sedikit saja yang diundang karena sebagian besar adalah teman-teman perantauan yang 100% tidak ada yang bisa datang. 

Kalau boleh dikategorikan, pernikahan kami bisa disebut sebagai pernikahan kelas menengah cenderung atas (amin!), biaya yang dikeluarkan cukup banyak, undangan yang disebar pun demikian. Harus saya akui, acara pernikahan kami bukan sekedar untuk mengesahkan hubungan kami secara hukum maupun gereja, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi keluarga besar orang tua kami yang lama tidak berkumpul karena tersebar di seantero Indonesia dan jagad raya, juga menjadi ajang meningkatkan relasi dengan kolega-kolega orang tua kami. Ayah saya adalah pebisnis, ibu saya aktivis di gereja, ayah mertua saya seorang psikolog dan ibu mertua saya seorang dokter. Saya rasa kami perlu mengadakan acara yang layak untuk menjamu rekan-rekan dan kolega-kolega orang tua kami, juga keluarga besar kami.

Berikut ini saya akan merinci persiapan yang kami lakukan. Untuk informasi pernikahan kami bergaya barat, bukan tradisional. Semoga bisa membantu memberikan gambaran bagi sahabat-sahabat Hipwee yang hendak menikah.

 

1. Tanggal dan tempat resepsi

Hal yang pertama-tama kami tentukan adalah tanggal acara dan tempat. Karena menurut kami tempat yang sesuai dengan kriteria dan harapan kami sulit didapat dan harus dicocokkan dengan jadwal kosong dari tempat tersebut. Beruntung keluarga kami tidak menganut kepercayaan menghitung primbon atau tanggal baik jadi begitu kami menentukan tempat yang dipilih kami leluasa memilih tanggal sesuai kosongnya tempat tersebut. Tanggal yang kami pilih tepat 1 tahun sejak kami lamaran dan memulai persiapan pernikahan kami. Percaya tidak percaya, Januari 2015 saat kami survey, tempat yang kami pilih sudah full setiap hari Sabtu dan Minggu sampai Desember 2015. Alhasil kami memilih tanggal 17 januari 2016.

Setiap orang punya kriteria tempat pilihannya masing-masing. Kriteria kami adalah sebagai berikut: 

- harus cukup luas untuk menampung paling tidak 800 orang (sesuai jumlah undangan)

- aksesnya harus mudah dijangkau, sebisa mungkin tidak macet

- lahan parkirnya harus luas

Ballroom sports club di area Serpong tersebut memenuhi 3 kriteria di atas maka kami memutuskan mengadakan resepsi di sana. Ballroom tersebut sudah menyediakan berbagai paketan berdasarkan kapasitas ruangan: setengah ruangan, 3/4 ruangan atau full ruangan. Kami memilih paket full ruangan, harganya hampir 300 juta tetapi sudah cukup lengkap, termasuk makanan prasmanan dan food stall, dekorasi, MC dan band, tim dokumentasi pada hari H. Kami sengaja berusaha memilih paket selengkap-lengkapnya untuk mengurangi keribetan memilih vendor satu persatu dari antara jutaan vendor pernikahan yang ada, masalahnya saya dan calon suami waktu itu masih bekerja di Kalimantan Timur dan NTT.

 

2. Dekorasi

Meskipun dekorasi ruangan resepsi sudah termasuk dalam paketan ballroom tetapi saya rasa perlu ada penjelasan lebih lanjut karena dekorasi yang masuk dalam paketan tersebut hanyalah dekorasi standar, pelaminan 2D (benar sekali, pelaminan pun ada dimensinya), dekorasi sederhana area VIP, 6 buah standing flower, meja penerima tamu, dan beberapa dekorasi kecil lainnya. Dekorasi seperti tentu saja kurang untuk mengisi area seluas ballroom berkapasitas maksimal 1200 orang tersebut. Ternyata untuk menambah dekorasi dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, upgrade pelaminan menjadi 3D, karpet bunga, pohon besar di dalam ruangan, upgrade dekorasi area VIP, photo corner, dll. 

3. Bridal dan seragam keluarga

Sama seperti saat memilih tempat resepsi, untuk bridal pun saya memilih yang punya paket lengkap untuk mengurangi keruwetan saya memilih vendor-vendor. Paket bridal yang saya pilih sudah termasuk make up pengantin + 2 mama + maid of honor, 1 hari foto prewedding, 2 baju pengantin dan mobil pengantin. Harga paketnya menurut saya standar sesuai dengan kelengkapan paket dan pelayanan yang diberikan yang menurut saya istimewa, sekitar 40 jutaan. 

Selanjutnya kami memutuskan untuk menyediakan kain seragam bagi keluarga inti dan penerima tamu agar sesuai dengan tema acara. Memilih kain seragam ternyata bukan perkara mudah, kami berburu kain di Pasar Baru yang menyediakan banyak pilihan dengan variasi harga yang luas tetapi relatif lebih murah. Tetapi pada akhirnya tetap saja menghabiskan belasan juta untuk kain jas pengantin dan ayah kami, kain untuk ibu kami dan kakak-adik perempuan kami dan 6 orang penerima tamu.

 

4. Foto Prewedding

Foto prewedding memang sudah termasuk dalam paketan bridal tetapi ternyata di luar perkiraan kami berdua, foto prewedding ini juga memakan energi dan biaya yang lumayan. Foto prewedding kami lakukan dalam 1 hari, sebagian di studio indoor, sebagian outdoor. Untuk kepentingan foto, fotografer kami mengarahkan kostum apa saja yang harus kami gunakan. Inilah permasalahannya. Kostum yang disarankan oleh fotografer banyak yang tidak sesuai dengan koleksi di lemari pakaian kami, alhasil kami harus mencari pinjaman kostum kesana kemari, bahkan untuk saya ada 2 gaun yang akhirnya saya sewa dengan harga yang cukup mengagetkan. Tetapi saat itu kami tidak ada pilihan lain karena terdesak oleh sempitnya waktu.

Dalam paket foto prewedding ini kami mendapat 1 foto kanvas ukurang sedang dan 1 album foto yang unik sekali. Setelah selesai acara, kami memutuskan untuk mengambil semua file foto dengan membayar biaya tambahan.

5. Kue pengantin

Kue pengantin adalah alokasi biaya yang saya sesali di akhir acara, pengeluaran yang menurut saya tidak perlu. Kue pengantin yang saya pilih waktu itu sebenarnya bukan untuk kepentingan makan tetapi lebih untuk kepentingan dekorasi. Kue yang kami pilih merupakan kue model terbaru yaitu kue tergantung, yang semuanya terbuat dari styrofoam jadi sama sekali tidak bisa dimakan. Kami mendapat 10 loyang kue yang bisa dimakan dan 50 kue kecil untuk dibagikan saat acara resepsi.

6. Akomodasi keluarga dari daerah lain plus acara midodaren

akomodasi

akomodasi via http://www.vemale.com

Karena acara kami mengundang semua anggota keluarga besar yang banyak berasal dari luar Pulau Jawa maka kami berinisiatif untuk menyediakan akomodasi hotel untuk mereka. Hotel ini juga menjadi basecamp saat persiapan pada hari H dan tempat tidur untuk kami pengantin baru. Kurang lebih ada 20 kamar yang kami pesan dan 1 hari sebelum acara kami mengadakan acara midodaren di salah satu hall hotel tersebut. Saya tidak tahu pasti berapa biaya yang dikeluarkan untuk akomodasi ini, tetapi bisa dibayangkan sendiri: 20 kamar untuk 3 hari 2 malam ditambah 1 hall selama 3 jam plus makanan yang dipesan.

7. Wedding organizer

Kami menyadari untuk acara sebesar ini, kami tidak bisa mengandalkan diri sendiri. Beruntung salah satu teman kami memiliki usaha Wedding Organizer sehingga kami memutuskan menggunakan jasa mereka untuk mengatur jalannya acara saat hari H, dengan harga bersahabat tentunya. Keberadaan WO ini saya akui sangat membantu kami karena tanpa adanya arahan dari WO saya cukup yakin akan ada banyak hal yang terlewatkan terutama hal-hal kecil yang tidak kami pikirkan sebelumnya. 

8. Undangan dan souvenir

undangan

undangan via http://alienco.net

Terus terang biaya untuk undangan menggelembung jauh di luar budget. Undangan kami buat dengan desain khusus, berbentuk buku tulis, menggunakan kertas dengan kilau emas yang harganya istimewa. Sementara untuk souvenir, kami produksi sendiri, jadi biaya cukup bisa ditekan.

9. Urusan Gereja

Kami adalah pasangan beragama Katolik, jadi poin ini bisa diganti dengan urusan agama masing-masing. Saya cantumkan sebagai poin nomer ke-9, bukan untuk mengecilkan pentingnya sakramen pernikahan di gereja, tetapi karena tidak semua sahabat Hipwee beragama Nasrani. Urusan dokumen gereja dan persiapan sakramen pernikahan juga suatu kehebohan tersendiri. Setiap pasangan Katolik yang akan menikah diwajibkan mengikuti Kursus Persiapan Pernikahan dan sertifikatnya menjadi syarat utama melanjutkan ke proses berikutnya.

Panjangnya proses persiapan pernikahan secara Katolik bisa saya jadikan 1 artikel tersendiri, mulai dari memilih Pastur, berkonsultasi tentang buku panduan misa, memilih putra altar, pembaca firman, paduan suara, pembawa persembahan, penerima tamu, belum lagi berkoordinasi dengan kameraman dan fotografer karena saat misa berlangsung tentunya fotografer tidak diperkenankan mondar-mandir di dalam gereja, mengatur dekorasi, makan siang seusai misa, dan seabreg kelengkapan lainnya.

10. Tetek bengek lainnya

tetek bengek

tetek bengek via http://media.shafira.com

Mengurus pesta pernikahan banyak sekali tetek bengek yang harus dipikirkan. Dan tidak jarang tetek bengek ini memakan biaya yang tidak sedikit, misalnya: cincin pernikahan - barangnya kecil tetapi harganya istimewa, corsage untuk keluarga, asesoris pengantin wanita dan maid in honor, perawatan tubuh pengantin wanita, dll.

Mengurus pernikahan yang hanya terjadi sekali seumur hidup ini memang luar biasa memakan waktu dan energi, belum lagi biaya yang besar, tetapi sungguh meninggalkan kesan tersendiri bagi kami semua terutama bagi saya dan suami. Bersusah-susah menyatukan ide dan pemikiran, mengerahkan segenap daya upaya kami untuk menjadikan acara ini menyenangkan bagi semua orang dan menyebarkan energi kebahagiaan pada semua tamu yang hadir, semuanya menjadikan kami lebih solid dan padu sebagai sepasang suami istri. Semoga bisa menginspirasi sahabat Hipwee yang hendak menikah ya. Semoga berhasil!