Terlalu cepat untuk mendakwa bahwa lantaran perasaan kita sama, lantas akan membuat kita disandingkan oleh-Nya menjadi satu pasangan jiwa. Aku memilih meluruhkan perasaanku pada setiap bait-bait do'a pada-Nya. Semoga kau yang aku iyakan hari ini selalu menjadi yang pantas untuk diriku, begitu pun dengan aku, semoga aku selalu menjadi yang pantas untuk dirimu. Bukankah Tuhan selalu memasangkan dua insan yang saling memantaskan diri? Aku menghaturkan baris demi baris harapanku pada-Nya, agar tak ada kecewa yang akan aku terima nantinya.

 

1. Karena hanya pada-Nya lah semua pengharapan bermuara.

Bukan aku yang memilih untuk menjatuhkan hati padamu. Aku tak memiliki sedikit pun kuasa untuk mengatur pada siapa harusku serahkan perasaanku. Ia datang begitu saja tanpa meminta sekalimat pun alasan. Ia memekarkan jiwa yang tadinya 'dikerontangkan' kekosongan. Aku tetiba disadarkan pada satu detak yang tak biasa. Darahku terasa mengalir dengan derasnya ketika harus berpapasan dengan ragamu. Tidak tahu bagaimana mesti mendefiniskan perasaan yang sebenarnya. Pahamku hanya satu, Tuhan tengah menitipkan rasa pada rongga dada yang harus aku jaga kehadirannya. Semua bermuara pada-Nya, maka pada-Nya pula aku serahkan setiap dentuman yang Dia ciptakan dalam ceruk dada.

 

2. Rindu itu merekah dalam dada berharap kau menjemput dengan rindu serupa.

Cinta untukmu

Cinta untukmu via https://weheartit.com

Ada kekuatan yang dititipkan Tuhan agar aku tak mampu memandangi kedua belah matamu. Kekuatan itu bernama jarak, dan jarak itu sesungguhnya adalah waktu. Waktu untuk kita belum jua datang. Apakah aku masih sanggup menunggu bersemainya durasi-durasi panjang untuk kita bersama? Entahlah. Waktu membuat rinduku semakin merekah. Rindu yang tak semestinya aku geletaki pada ruang-ruang terbuka sehingga berharap kau segera melihat dan menjemputnya. Aku menemukan dirimu tak menyadari tentang hadirnya seorang aku yang terus mencoba menembus sekat-sekat untuk bisa mengetuk pintu hatimu dan berharap kau membukanya untukku, membiarkan aku masuk dan tinggal di dalamnya. Kau tak pernah sadar akan hal itu. Rinduku, masih menunggu.

3. Agar aku bisa mengantarkan perasaanku kepada muasalnya

Padamu jualah ia bermuara

Padamu jualah ia bermuara via https://ababilsesat.wordpress.com

Aku mengumpulkan serpihan-serpihan alasan untuk tak merindukanmu. Tapi aku selalu kalah karena rinduku berjalan sendiri untuk pulang menuju bilik-bilik rindumu. Entah kau akan menerima kedatangannya atau tidak, yang aku tahu ia telah menumpahkan hasratnya untuk menjamu sebuah pengharapan. Aku mulai mengeja-eja huruf demi huruf namamu, agar aku bisa mengantarkan perasaanku kepada muasalnya. Agar ia tak keluar dari koridor semestinya. Agar gemuruh kegundahan tak sampai menemuinya. Aku ingin rinduku berada di bawah naungan-Nya. Sekali lagi, agar kecewa tak melulu terhunus dengan tajamnya.

Rindu ini akan kuletakkan di atas izin-Nya, berharap nanti kau datang memeluknya.

4. Dan rinduku tahu kemana ia mesti kembali

Kita tak bisa menerka apa yang akan terjadi di masa depan. Tidak tahu dengan siapa kau akan dipasangkan di masa yang akan datang. Dia yang bertahata dalam hatimu hari ini belum tentu akan terus ada hingga besok atau lusa. Ya, aku sadar akan semua ketidakpastian itu. Aku berusaha mendekap perasaanku agar ia selalu ada hingga kau dan aku benar-benar bertemu menjadi satu. Jika akhirnya rasaku harus terlepas dan rindu itu tak lagi ada, maka biarlah waktu yang akan menuntun apakah ia akan kembali atau tidak. Biarkan rindu itu sendiri mencari kemana ia akan kembali. Biarlah rindu itu yang mencari siapa pemiliknya yang sejati.

5. Ketika jarak itu bertemu, ketika waktu itu bersatu

Akhirnya, kita tetap akan menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Sama halnya dengan aku, aku menyerahkanmu pada-Nya. Aku kembali menyerahkan urusan perasaanku pada-Nya. Dia-lah yang akhirnya memiliki kehendak untuk menyatukan jarak antara kita. Dia yang memiliki Kuasa untuk mempertemukan waktu kita berdua. Namun jika akhirnya aku bukan untukmu, itu artinya rinduku masih harus menyusuri perjalanan panjang dengan haluan yang berbeda. Aku tak akan memelas kepada Sang Pemilik Cinta untuk dipersatukan denganmu. Sekali lagi, tiada lain yang bisa aku lakukan selain memantaskan diri agar rinduku tak mendustakan tuannya. Ia masih tetap menunggu hati yang tepat untuk kembali pulang.