Bagaimana aku bisa biasa-biasa saja saat kamu terlelap dalam pelukan malamnya? Bagaimana bisa aku tidak merasa sakit? Jika bisa, ajarilah aku. Tapi aku sedikit tenang karena ada dia yang setidaknya menjaminmu baik-baik saja. Aku mengerti jika aku memang tak pantas ada di antara kalian. Untuk kamu: "Aku belum pantas untuk kamu cintai."

1. Sebelumnya, maaf bila diam-diam aku selalu membuka lini masamu. Aku sekedar melihat status terbarumu.

Selamat malam, entah siapapun di sana! Aku bahkan sudah tidak tahu, apakah kamu masih ada di sana, di relung kencana rindu. Sejujurnya, aku tak ingin lagi mengingatmu. Lidah ini tak ingin lagi untuk menyebut namamu. Atau sekadar mengilas bayangmu di alam pikiranku. Tetapi, aku terlalu jahat bila tak menanyakan kabarmu.

Bagaimana kabarmu dan cinta barumu? Kuharap engkau bahagia bersama dia, pilihan hati dan cintamu. Cinta yang kemarin baru saja kamu renggut dariku. Kemudian kamu ceritakan kepadaku tentang kisah sayang kamu dan dia.

Aku tahu kamu pasti bahagia. Semua tergambar jelas dalam status-status di akun Facebook-mu. Sebelumnya, maaf bila diam-diam aku selalu membuka lini masamu dan sekedar melihat status terbarumu. Aku mengerti, stalking-ku ini memang terkesan konyol.

Advertisement

Tapi aku bisa apa? Hanya itu yang bisa kulalui meski terkadang bersama air mata. Iya, air mata untuk ungkapkan kebahagiaan ini. Bukan karena aku kecewa, tetapi karena menyaksikan sendiri kebahagiaan yang kamu ukir bersamanya kini. Iya, bersamanya. Bukan bersamaku.

2. The Sweet Lie: Ketika aku berkata, Aku turut bahagia.

Bahagia namun sedih via http://nicodemus19.blogspot.com

Mungkin ini kebohongan terindah yang pernah kugemakan. Jika aku berkata, “Aku turut bahagia dengan kebahagiaanmu.”

Begitukah? Bukankah seharusnya begitu? Ah, entahlah! Aku juga tidak cukup mengerti akan hal itu. Tetapi tak bisa kupungkiri bila cerita lama yang dulu pernah kamu ukir, masih saja menggetarkan lamunan kala hati ini sepi. Entah mengapa semua ini masih saja kurasakan. Padahal sudah dua tahun berlalu sejak kamu memilih pergi dari hidupku.

Tak cukupkah kamu mengerti bila aku kesepian saat kepergianmu? Sepi yang benar-benar menyiksa hari-hariku. Ditambah lagi saat aku mengetahui kamu telah bersamanya yang kukenali. Tapi apa? Ini kesalahan? Bukan. Mungkin ini bukan sebuah kesalahan.

Tiada yang salah bila kamu secepat itu melupakan aku. Tak ada yang salah bila kamu secepat itu jatuh cinta padanya. Mungkin memang dia yang layak memiliki hatimu. Tidak ada lagi yang pantas untuk diingat di antara kita.

3. Rasa yang mungkin tak layak lagi kumiliki.

Tak bisa memiliki lagi via http://nicodemus19.blogspot.com

Rindu. Masih saja kata itu bersarang di detak jantung ini. Oke, aku merindukanmu! Puas? Aku merindukan di mana kamu dan aku berada di bawah sinar gemintang. Aku mengerti jika hal ini memang tidak pantas lagi aku ungkapkan pada goresan ini. Aku hanya mampu berbaring lemah di sini, berharap Tuhan akan menolongku untuk keluar dari belenggu rindu yang cukup menyiksa dan membuatku terluka.

Tak cukupkah luka yang dulu pernah kamu ukir di hati ini? Tak puaskah kamu menyiksaku dalam perasaan sakit? Wahai rindu, betapa kamu sungguh membelenggu jiwaku kini. Duhai malam, bawa pergi rindu ini ke manapun kamu menginginkannya.

4. Ini bukan takdir, melainkan kesempatan yang belum mengizinkan kita untuk bersama.

Belum waktunya bersama via http://nicodemus19.blogspot.com

Hingga detik ini pun, aku masih memikirkan dan mengingat kata sayang yang pernah terucap. Saat itu begitu indah. Tak akan mungkin bulan dapat bersinar bila awan tebal menutupnya. Tapi, percayalah! Bulan itu akan tetap bersinar terang.

Aku ingin bertemu denganmu, sekedar melepas penat karena menanggung rindu ini. Tapi tak mungkin. Iya, kamu dan aku tak mungkin bisa berjumpa. Aku takut bila kembali jatuh cinta seperti dulu. Bahkan hingga detik ini, cinta itu masih tetap tinggal di sana. Di hati yang paling dalam.

Ini bukan takdir, melainkan kesempatan yang belum mengizinkan kita untuk bersama. Percayalah! Semesta tidak pernah berusaha menggariskan kita dalam takdir.

All ending are also the beginnings. We just don’t know at the time.

5. Bagaimana bisa perih ini kulupakan dalam sekejap mata? Terlalu murah bila aku harus melupakan kenangan itu.

Tak mungkin lupa via http://nicodemus19.blogspot.com

Kamu yang pernah goreskan luka di hati ini, bagaimana bisa perih ini kulupakan dalam sekejap mata? Terlalu murah bila kuharus melupakan kenangan itu. Tak sedikit waktu yang kita lalui untuk mengukir itu semua. Tak sedikit pula rasa yang kita korbankan untuk ciptakan masa itu.

Apa kamu ingat tentang mimpi kita? Mimpi yang ingin kita ciptakan bersama-sama. Mimpi yang kini hanya menjadi angan semata. Aku mengingatnya selalu. Bahkan aku selalu menyebutkannya dalam setiap doa terindahku. Aku akan selalu menyimpannya dan membawanya ke manapun aku akan pergi.