(Yup, bacanya boska, bukan Bosya!)

Banyak sekali artikel yang memuat tentang Observatorium Bosscha, baik dalam media cetak maupun media online. Mulai dari artikel ilmiah tentang hasil penelitiannya, sampai artikel hiburan yang menjelaskan Observatorium Bosscha bisa menjadi alternatif pilihan untuk tempat berwisata. Dan artikel ini bertujuan agar semua masyarakat Indonesia mengetahui dengan benar tentang Observatorium Bosscha, serta meluruskan beberapa kesalahpahaman dan informasi yang salah. Terutama untuk pengunjung “ala-ala” yang hanya menyukai aktivitas berupa selfie dan upload, coba tolong dibaca dengan seksama agar Anda dapat menulis dengan benar informasi pada caption ditiap foto yang Anda sebarkan.

 

1. Observatorium Bosscha Bukan Tempat Wisata

Aturan yang harus dipenuhi ketika berkunjung ke Observatorium Bosscha.

Aturan yang harus dipenuhi ketika berkunjung ke Observatorium Bosscha. via http://bosscha.itb.ac.id

Observatorium Bosscha berada dibawah pengelolaan ITB, tepatnya dibawah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Program Studi Astronomi. Jadi sudah jelas sekali bahwa Observatorium Bosscha bukan merupakan tempat wisata. Observatorium Bosscha menerima kunjungan dari masyarakat umum, dalam rangka melaksanakan tridharma perguruan tinggi sila ketiga, yaitu pengabdian masyarakat. Diharapkan masyarakat yang berkunjung ke Observatorium Bosscha mendapatkan pengetahuan tentang ilmu astronomi dan perkembangan astronomi di Indonesia serta membantu Observatorium Bosscha dalam memerangi polusi cahaya. Jadwal berkunjung-pun sudah ditetapkan oleh pihak Observatorium Bosscha. Jadwal ini bisa dilihat dan sudah jelas tertera dengan aturannya, di-website resmi Observatorium Bosscha (http://bosscha.itb.ac.id/in/kunjungan.html). Diluar jadwal yang sudah ditetapkan, pihak Observatorium Bosscha tidak bisa menerima pengunjung. Harap diperhatikan bahwa tidak semua kunjungan dapat menggunakan teleskop.

Masyarakat indonesia masih banyak yang belum mengetahui hal ini. Mereka hanya mengetahui Bosscha sebagai tempat syuting film petualangan sherina, dan “berkunjung” kesana untuk alasan rekreasi. Sehingga banyak masyarakat yang memaksa untuk bisa diterima diluar jadwal yang sudah ditetapakan. Observatorium Bosscha juga melakukan pendidikan bagi mahasiswa Program Sarjana dan Pasca Sarjana Astronomi ITB serta melakukan penelitian. Diharapkan para pengunjung dapat memahami bahwa banyak hal yang harus dilakukan dan dipenuhi oleh Observatorium Bosscha, bukan hanya kunjungan publik saja. Perlu ada kesepahaman tentang hal ini untuk membuat Observatorium Bosscha tetap bisa berfungsi dengan seharusnya.

*Luruskan niat, dimulai.

“Tidak ada niat baik yang boleh dicapai dengan cara buruk, dan sebaliknya tidak ada niat buruk yang berubah baik meski dilakukan dengan cara-cara baik.” -Tere Liye

2. Observatorium Bosscha, bukan Museum Bosscha

Observatorium bukan Museum

Observatorium bukan Museum via http://bosscha.itb.ac.id

Generasi muda masa kini, a.k.a “kekinian”, banyak yang sudah tidak menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dengan benar (tentu saja termasuk Saya). Mereka lebih suka menggunakan istilah populer yang kadang tidak sesuai dengan arti dalam kamus besar Bahasa Indonesia. Di era digital seperti saat ini, kamus besar Bahasa Indonesia juga dapat diakses online di-laman berikut: http://kbbi.web.id/. Mengaku jadi anak gaul tapi tidak mengetahui tersedianya kamus besar Bahasa Indonesia dalam versi online? Ckckck, #mencemaskan (biar kekinian).

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, museum dan observatorium mempunyai dua makna yang berbeda:

Museum/mu·se·um/ /muséum/ (n):  gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum, seperti peninggalan sejarah, seni, dan ilmu; tempat menyimpan barang kuno;

Observatorium/ob·ser·va·to·ri·um/ /obsérvatorium/ (n): gedung yang dilengkapi alat-alat (teleskop, teropong bintang, dan sebagainya) untuk keperluan pengamatan dan penelitian ilmiah tentang bintang dan sebagainya;

Jadi, mulai saat ini, jangan ada lagi yang menggunakan redaksi “Museum Bosscha”, karena Bosscha adalah Observatorium.

3. Bosscha adalah nama observatorium-nya

Kiri: Bangunan Koepel. Kanan: Teleskop Refraktor Ganda Zeiss.

Kiri: Bangunan Koepel. Kanan: Teleskop Refraktor Ganda Zeiss. via http://bosscha.itb.ac.id

Luas total Observatorium Bosscha sekitar 8 hektar (masih menunggu hasil pengukuran dari Badan Pertanahan Nasional untuk angka pastinya –Desember 2015-). Bangunan atau gedung yang terlihat pada gambar di atas (sebelah kiri) adalah bagian dari Observatorium Bosscha. Bangunan ini bernama Koepel. Koepel adalah kata dalam bahasa Belanda yang berarti kubah. Kubah yang dimaksud adalah bagian setengah bola dibagian atas bangunan ini. Di dalam bangunan koepel, terdapat teleskop bernama refraktor ganda zeiss, seperti terlihat pada gambar di atas (sebelah kanan). Setiap bangunan di Observatorium Bosscha mempunyai nama masing-masing, begitu juga dengan teleskopnya. Jadi tidak ada yang namanya bangunan atau gedung Bosscha dan tidak ada yang namanya teleskop atau teropong Bosscha.

*Ya, silahkan diperbaiki caption difoto masing-masing, sekarang!

4. Observatorium Bosscha tidak akan pindah

Star trail pada langit cerah

Star trail pada langit cerah via http://bosscha.itb.ac.id

“Eh buset, lo kate mindahin observatorium itu gampang kaya balikin telapak tangan aje? Lo kira murah apa? Mendingan pemerentah bikin aje nyang baru, ngapain repot-repot” mengutip menggunakan aksen orang betawi yang ada disekitar Rawa Belong, Jakarta Barat.

Berita mengenai pindahnya Observatorium Bosscha sempat merebak dimasyarakat. Dan masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa berita ini adalah tidak benar. Observatorium Bosscha akan tetap berada di Lembang, tidak akan dipindahkan. Memang, saat ini sedang direncanakan pembangunan Observatorium baru, bukan memindahkan Observatorium yang sudah ada. Pembangunan ini akan dilakukan di Kabupaten Kupang, sekitar Gunung Timau, Nusa Tenggara Timur. Pemilihan lokasi untuk Observatorium tidaklah mudah. Setelah dilakukan penelitian secara mendalam, diputuskan bahwa daerah inilah yang paling memenuhi aspek-aspek yang diperlukan untuk sebuah Observatorium, sehingga diharapkan pengamatan dapat dilakukan sepanjang tahun.

5. Observatorium Bosscha tidak menentukan 1 Ramadhan dan 1 Syawal

Pengamatan bulan sabit muda (hilal)

Pengamatan bulan sabit muda (hilal) via http://bosscha.itb.ac.id

Observatorium Bosscha hanya melakukan pengamatan terhadap bulan sabit muda (hilal) dan kemudian melaporkan hasilnya kepada Pemerintah. Pemerintahlah (dalam sidang isbat) yang menentukan kapan tepatnya tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawal. Pengamatan bulan sabit muda tidak menggunakan teleskop refraktor ganda zeiss, tetapi menggunakan teleskop William Optics 66SD (http://www.williamoptics.com/telescopes/zenithstar66sd_spec.php). Salah satu lokasi pengamatan bulan sabit muda adalah lantai dua bangunan koepel, sehingga banyak masyarakat yang salah paham. Media masa yang meliput juga sering menampilkan teleskop refraktor ganda zeiss untuk alasan “belanja gambar”, padahal lokasinya saja yang digunakan, bukan teleskopnya.

 

 

Semoga dengan adanya artikel ini masyarakat Indonesia mengetahui dengan benar tentang Observatorium Bosscha, sehingga Observatorium Bosscha tetap bisa berfungsi dengan seharusnya.