1. Menaruh kepercayaan dan rasa nyaman pada seseorang itu butuh waktu.

I don’t know you but I want you via https://www.instagram.com

Pertemuan yang hanya hitungan jari itu seharusnya belum mampu membuatku percaya, tapi aku memilih percaya padamu. Percakapan yang hanya kita bangun sejak 6 tahun lalu adalah bukti bahwa aku punya rasa percaya yang cukup baik padamu. Kamu ada dan kamu siap mendengarkan apapun yang aku bicarakan. Penting atau tidak, kamu tetap di sana, mendengarkan dengan seksama, tanpa menyela.

Aku tahu, tidak hanya aku yang menikmati asiknya mengobrol denganmu. Tidak hanya aku yang bicara seolah-olah kamu dekat dan mengerti semua hal di hidupku. Tidak hanya aku yang menaruh kepercayaan itu. Sikapmu baik dan jadi salah satu sikap yang semua orang suka. Aku tahu.

Pelan-pelan, rasa nyaman itu muncul seiring intensitas "dongengku" kepadamu. Rasa nyaman itu hadir seperti rasa percaya dengan tingkatan yang lain. Bukan lagi sebatas teman, tapi seorang kakak yang selalu siap mendengarkan semua keluh kesah. Rasa nyaman yang timbul ketika kamu datang untuk meredakan segala resah dan gelisah. Sampai hari ini, aku masih bisa nyaman menceritakan semua hal padamu. Meskipun aku tidak pernah tahu keresahan apa yang ada di pikiranmu.

2. Kenyamanan ada padamu, bukan yang lain.

Wake-up Call via https://www.instagram.com

Advertisement

Aku mau bilang, aku harus selalu selesai dengan yang lain, tapi tidak denganmu. Bang, ada waktu dimana aku harus melepaskan perasaanku pada orang yang aku suka. Melepaskan rasa suka itu biasa karena aku tidak lagi bisa membuat diriku baik-baik saja ketika menyukainya. Tetapi, melepas rasa nyaman, terutama denganmu itu ternyata sulit. Seperti menarik paksa rantai tali yang sudah diikat mati: sakit, tapi tak juga bisa lepas.

Mungkin spasi yang panjang dalam percakapan kita masih bisa aku atasi. Berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan masih bisa bertahan. Tapi, ketika kata-kata itu kembali kita lontarkan, kamu tau aku akan bercerita banyak hal setelah lepas dari basa-basi menyoal kabar. Aku tidak pernah bisa diam, inginku terus bercerita padamu.

3. Belum ada yang seantusias kamu mendengar segala bentuk cerita romansa milikku, bahkan disela-sela pekerjaanmu.

blessing with a curse via https://www.instagram.com

Bagiku bercerita tentang gebetan padamu adalah sebuah solusi. Kamu mampu berpikir jauh lebih rasional daripada otakku yang selalu dipenuhi asumsi. Kamu mampu membuatku berpikir dengan bijak meskipun dengan penjelasan yang pelan. Kamu membuatku bisa paham pada apa yang sedang aku hadapi. Kamu orang terbaik untuk aku bisa berkeluh kesah tanpa takut merasa dihakimi.

Sejak pertemuan kita yang ketiga, ada kesan lanjutan yang membuatku yakin bahwa kamu orang yang tepat untuk menjadi teman berbagi. Melihatmu sebagai sosok yang amat sangat mau direpotkan olehku, membuatku ingin bicara banyak hal lagi denganmu.

4. Aku pencemburu dan sulit ditebak apa maunya.

The End of the Story via https://www.instagram.com

Pertemuan-pertemuan selanjutnya dihiasi percakapan panjang tentang hidup masing-masing. Harapan, keinginan, khayalan absurd yang sering kali kita tertawakan mewarnai kotak pesan di Whatsapp. Ada kalanya kamu diam, berusaha menimbun rindu untuk dirimu sendiri. Ada kalanya aku juga diam, berusaha tidak mengganggumu dengan kisah-kisah tidak pentingku.

Diam-diam aku sering merasa ada yang hilang atau sesekali terasa nyeri ketika melihatmu menggoda teman perempuan lain. Padahal aku bukan siapa-siapa. Hanya adik. Atau begitulah kau menganggapku.

Bang, aku hanya anak kecil yang suka merepotkan. Aku ingat, berkali-kali merepotkan kamu soal makanan. Aku yang kebingungan dan enggan makan ini itu atau hanya menyebut kata "terserah" ketika kamu menawarkan. Aku tahu kamu jengkel, tapi kamu tidak marah di depanku. Diam-diam, aku cuma ingin menangis karena merasa tidak enak hati selalu merepotkanmu.

5. Sebab, melepas rasa nyaman itu tidak akan pernah mudah.

I’m not ready for the final cut. via https://www.instagram.com

Sejak hari dimana kehadiranmu membuatku terbiasa, aku tidak lagi ingin kamu hilang dari peredaran. Hal-hal yang menjadi kesalahanku kemarin adalah aku terlalu cepat emosi dan tidak berpikir panjang. Kebodohan yang membuatku harus membiarkanmu berada di ujung spasi yang panjang dan dalam keheningan yang aku sesali.

Ketika kamu bilang ingin hilang dari peredaranku, sesungguhnya aku ingin melarang. Tapi aku bisa apa? Aku tidak bisa apa-apa, Bang. Melarangmu itu bukan hakku. Aku bukan siapa-siapa, kan? Aku cuma anak kecil yang merepotkanmu setiap waktu. Aku cuma., ah sudahlah. Toh sekarang semuanya sudah tidak lagi sama. Entah bagaimana jadinya. Penjelasanku kemarin seperti sia-sia karena pada akhirnya kita benar-benar tidak akan sama lagi.

Entah aku atau kamu yang membuat jarak itu semakin panjang. Meskipun sampai hari ini aku masih ingin selalu bisa bercerita padamu seperti dulu. Seperti sebelum tingkah bodohku membuatmu jauh dari peredaranku. Sebab, aku tidak ingin melepas rasa nyaman itu begitu saja.

Kamu tau, kan, Bang? Aku tidak ingin. Sungguh-sungguh tidak ingin melepasnya begitu saja.

Dari gadis yang mengeja spasi sejak kamu jauh dari peredaran.

NB: Nyatanya memikirkan ini selama berminggu-minggu lebih menyesakkan.