Saya tidak lagi tertarik menghabiskan waktu di sela sela rutinitas untuk berkumpul atau bermain seperti layaknya teman teman. Tentu bukan karena saya ingiin menjauhi mereka, tapi karena saya sadar saya sudah memasuki fase yang lebih dewasa. Sekarang saat yang baik untuk meraih impian sebelum saya memilih untuk menikah. Ketika menikah sudah jadi keputusan, saya akan di hadapi oleh situasi dilematis antara menjadi istri sekaligus seorang ibu dengan sebuah ambisi sebagai manusia dalam mencapai cita cita. Tentu bukan perkara yang mudah untuk memilih salah satu diantaranya, Ada yang bisa menjalani keduanya, ada pula yang lebih memberatkan salah satunya. Tentu bagi saya akan tersa berat jika harus melalaikan salah satunya. Maka saya putuskan untuk mempersiapkannya.

Saya akan di hadapi oleh situasi dilematis antara menjadi istri sekaligus seorang ibu dengan sebuah ambisi sebagai manusia untuk mencapai cita cita

 

1. Kali ini saya lebih tertarik menggali potensi diri yang bisa dikembangkan

saya akan menggali potensi diri

saya akan menggali potensi diri via http://4.bp.blogspot.com

Dua sampai tiga tahun kedepan akan saya dedikasikan untuk ambisi dan cita cita. Tahun tahun ini akan saya habiskan untuk bereksperimen serta membaca peluang baru di luar pekerjaan yang sudah pasti jadi tanggung jawab. Kamu tentu tau betapa ngototnya saya mengajakmu mengelilingi pasar grosir untuk mencari hijab khas anak muda untuk kemudian dijual lagi, hanya untuk mengetahui sebesar apa mental saya dalam berdagang. Akhir pekanpun tak lagi kita gunakan untuk berjalan jalan, menonton atau sekedar makan di luar, sebaliknya kamu memilih untuk membantu eksperimen kecil saya dalam memasak. Saya selalu bilang, siapa tau enak, lalu bisa di jual, kan lumayan buat nambah tabungan...,lalu di sambut dengan tawamu yang menghangatkan. Mungkin kamu tau akan gagal tapi kamu memang tak pernah mematahkan semangat.

Saya akan terus menggali potensi diri

2. Sebelum menyerahkan seluruh hidup saya dalam ikatan bernama keluarga dan menjadi seorang ibu, saya akan mengejar semua ambisi selama saya bisa

saya akan mengejar ambisi saya

saya akan mengejar ambisi saya via http://www.shutterstock.com

Sebelum menyerahkan seluruh hidup saya dalam ikatan bernama keluarga dan menjadi seorang ibu, saya akan mengejar semua ambisi selama saya bisa

Kamu tentu bisa memahami betapa besar semangat saya dalam bekerja, selama belum dalam tanggung jawab yang lebih besar kamu mengijinkan saya mendedikasikan sebagian besar waktu saya untuk mengejar ambisi. Menikmati rutinitas kantor dengan setumpuk file dan seduhan kopi hangat, menjelajahi peluang untuk menemukan pengalaman baru selalu jadi hal menyenangkan. Saya akan menikmati semuanya sepenuh hati, mengambil semua peluang yang ada selama saya mampu. Menikmati bangganya menerima uang dari hasil keringat sendiri. Sebagian penghasilan ini akan saya hadiahkan kepada orang tua sebagai tanda terimakasih, sebagian lagi saya tabung untuk membangun rumah tangga denganmu kelak dan sisanya akan saya gunakan untuk mendanai eksperimen eksperimen kecil saya.

3. Memang bukan tidak mungkin selama menikah saya masih kamu ijinkan bekerja, tapi itu bukan lagi jadi prioritas saya

kamu memang tidak pernah melarang

kamu memang tidak pernah melarang via http://log.viva.co.id

Memang bukan tidak mungkin selama menikah saya masih kamu ijinkan bekerja, tapi menurut saya pekerjaan yang paling berat itu mengasuh anak anak. Kamu benar benar membaca semangat saya dengan teliti, sesekali kamu memberi sinyal setuju jika memang saya lebih menyukai berkarir. Tapi tenang saja, saya sudah berkomitmen dengan diri sendiri untuk mengasuh anak dengan tangan dan kasih sayang sendiri. Rasanya tidak rela membiarkan mereka lebih dekat dengan pengasuh. Saya sudah mempersiapkan tahun tahun sebelum memutuskan menikah untuk mengejar mimpi saya, memang tidak sesempurna yang semestinya, tapi untuk proses yang tidak lama saya cukup bangga.

Jika menikah nanti, saya sudah siap membuat pencapaian baru dengan menghasilkan anak anak yang cerdas dan berakhlak baik.

4. Mungkin bagi sebagian orang saya terlalu muda memikirkan perihal pernikahan, tapi bagi saya mempersiapkan semuanya dari sekarang

Mungkin bagi sebagian orang saya terlalu muda memikirkan perihal pernikahan

Mungkin bagi sebagian orang saya terlalu muda memikirkan perihal pernikahan via http://idepernikahan.com

Akan ada beberapa teman yang menyela dan berkata

usia dua puluh dua tahun sudah memikirkan pernikahan?

Nggak kecepetan?

Menikahnya kan masih lama kok udah di pikirin sih

emang udah siap jadi emak emak ?

Mungkin bagi sebagian orang, saya terlalu muda memikirkan perihal pernikahan, tapi bagi saya mempersiapkan semuanya memang harus dari sekarang. Menikah tidak bisa dilakukan cepat cepat, banyak yang memang harus dipersiapkan. Selain mental dan tanggung jawab, saya dan kamu akan di bebankan dengan biaya pernikahan yang semakin mahal. Saya harus benar benar mengendalikan pengeluaran dan membantumu menyiapkan modal tidak hanya untuk resepsi ini itu, tapi juga untuk mengisi tempat tinggal kelak. Saya memang bukan wanita yang semudah itu membiarkan kamu memikirkan semua biaya sendirian. Kita akan sama sama berjuang, saya akan membantu mencicil isi rumah sambil menikmati tahun tahun sebagai wanita karir, dan kamu silahkan fokus mengejar semua ambisi sambil memepersiapkan tempat tinggal. Bagi kita semua ini memang harus di persiapkan matang matang.

Tidak ada kata terlalu muda untuk mempersiapkan hal yang besar

5. Saya tidak akan pernah terbelunggu dengan perasaan menyesal, entah karena terlambat menikah atau karena terlalu cepat menikah

kini saya sudah siap menjelajahi fase hidup yang lebih menarik

kini saya sudah siap menjelajahi fase hidup yang lebih menarik via http://uniqpost.com

Saya sudah siap dengan semua konsekuensinya. Keputusan untuk fokus pada ambisi dan cita cita sudah cukup untuk saya habiskan sebelum saya memutuskan untuk menikah, lalu untuk apa menyesal? toh saya sudah merasakan semuanya, saya sudah menikmati tahun tahun sebagai wanita karir, kelak saya bisa menjelajahi fase hidup yang lebih menantang ketika menjadi ibu. Saya yakin, saya tidak akan pernah terbelunggu dengan perasaan menyesal, entah karena terlambat menikah atau karena terlalu cepat menikah. Semua hal sudah saya perhitungkan jauh jauh hari.

Saya sudah cukup merasakan nikmatnya menjadi wanita karir, kini saya sudah siap menjelajahi fase hidup yang lebih menarik