Dulu yang aku tahu kalau ketertarikan secara emosional dan seksual berjalan seiringan. Aku melihatnya dari keluargaku, ayah dan ibuku menikah dan mempunyai 3 anak lelaki. Terlihat bahagia memang. Walau dengan berjalannya waktu, aku mengetahui bahwa aku berbeda dari mereka.

 

Halo, aku ada di dunia ini

Sedari kecil aku merasa kalau aku berbeda dari orang-orang. Bukan karena tubuhku kecil dan kurus, bukan juga karena kulitku yang gelap karena terlalu sering bermain di bawah terik sinar matahari. Aku berbeda karena aku … tertarik dengan semua orang. Aku tertarik secara emosional dengan semua orang yang membuatku nyaman, tidak sebatas jenis kelamin mereka.

1. Aku Sadar Kalau Aku Berbeda Semenjak

Aku Berbeda via http://cdn.sheknows.com

Aku tahu aku berbeda semenjak aku mengetahui kalau manusia itu tertarik satu sama lainnya, kurang lebih ketika aku menduduki bangku sekolah dasar. Pada saat itu aku melihat temanku menyatakan cinta kepada seorang gadis dan mereka terlihat begitu gembira dan pada saat itulah aku mengetahui bahwa ada yang namanya cinta.

Aku sempat bertanya kepada temanku, kenapa dia mengatakan cinta kepada gadis itu dan dia menjawab karena dia selalu senang melihatnya. Alasan sekecil itu bisa membuat seseorang menyatakan cinta kepada orang lain dan aku mulai bertanya pada diriku sendiri, siapa orang yang membuatku senang ketika melihatnya.

Aku membuat list orang-orang yang membuatku senang ketika melihat mereka. Aku pun menyadari kalau di dalam daftarku itu ada beberapa nama laki-laki. Yang belum aku sadari adalah, menyukai orang dengan gender yang sama adalah hal tabu di negara ini.

2. Aku Menemukan Cinta Pertamaku.

Advertisement

Mengenal kebahagiaan via http://hdwallpapers.move.pk

Aku menemukan cinta pertamaku ketika aku berumur 10 tahun. Dia seorang gadis, gadis yang sangat manis di mataku. Dia berumur 2 tahun lebih tua di atasku dan dia adalah teman sepermainanku dulu.

Tetapi seperti cerita cinta monyet lainnya, cinta pertamaku berakhir sangat singkat, yaitu ketika orang tuanya memutuskan untuk pindah ke benua Eropa. Dengan polosnya aku berkata kepadanya bahwa aku akan selalu menunggunya dan aku akan segera menyusulnya, secepatnya. Aku begitu naif pada saat itu.

3. Mengetahui Bahwa Aku itu Berdosa .

I feel so sinful via http://thumbs.dreamstime.com

Ketika aku menduduki bangku sekolah menengah pertama aku mulai mengetahui, dari pelajaran Agama yang aku dapatkan, bahwa menyukai seseorang dengan gender yang sama adalah perbuatan dosa dan semenjak saat itu aku mulai mempertanyakan agama, bukan mempertanyakan tapi lebih tepatnya kritis terhadap agama, hingga saat ini. Aku masih menyukai laki-laki dan perempuan dan aku merasa seperti ini, selalu seperti ini dari dulu.

"Apakah Tuhan memberiku dosa yang tak bisa aku ubah?" kataku dalam hati.

4. Mereka yang di Luar Lingkaran adalah Mereka yang Berdosa, Apakah Aku Berdosa?

Self introspection via http://m3.img.srcdd.com

Semua Agama, yang aku tahu, membentuk masyarakat untuk menjadi heteroseksual. Dengan alasan agama saja, orang-orang sudah bisa menghakimi, memukuli dan bahkan membunuh mereka yang bukan heteroseksual.

Ironis memang, ketika agama selalu berbicara tentang kedamaian mereka dengan mudahnya menghakimi orang hanya karena seksualitas mereka. Yang pada akhirnya, ini justru membuat ketidakharmonisan.

Apakah mereka berdosa karena telah menghakimi orang-orang yang berbeda dari mereka?

Akhir-akhir ini aku menyadari bahwa paradigma orang tentang mereka yang berbeda adalah orang yang “sakit”. Hingga saat ini, aku tidak bisa mengerti mengapa orang-orang memberikan label “sakit” kepada orang non-heteroseksual.

Jika memang sebuah “penyakit”, Apakah ada obat untuk "penyakit" itu? dan bagaimana dengan orang-orang yang terlahir “sakit” seperti aku? and even If it were a sickness, let me be sick because God Himself made me sick.

“ I was born sick and I love it” -Hozier

5. Aku Menyukai Lelaki dan Perempuan, Aku Seorang Biseksual?

Pertama aku mengenal kata biseksual dari ayahku ketika kita melihat berita tentang seorang pembunuh berantai asal Jombang yang ternyata memiliki kekasih dengan gender sama juga. Aku lupa detailnya bagaimana, tetapi ayahku sempat berkata bahwa sang pembunuh itu biseksual dan aku bertanya kepada ayahku apa itu biseksual.

Dia menjelaskan apa yang dia tahu tentang itu dan waktu itu aku merasa bahwa penjelasannya memberikan pencerahan atas identitasku selama ini.

Aku biseksual”, itu lah yang ada di pikiranku waktu itu.

6. Aku Mengenal Orang-Orang dengan Masalah yang Sama Denganku.

Seeing outside of the “window” via http://www.newlovetimes.com

Di bangku sekolah menengah atas aku mulai membuka diri terhadap dunia. Internet adalah hal yang paling aku sukai. Aku jatuh cinta pada internet setelah aku menemukan orang-orang yang “berbeda” dan memiliki “masalah” yang sama denganku, yaitu berpura-pura untuk menjadi “normal”.

Nota bene masyarakat Indonesia yang memegang teguh prinsip agama, bahwa seksualitas selain heteroseksual itu dosa. Sebenarnya aku merasa bahwa aku bisa survive dengan masalahku ini. Aku bisa saja mencintai wanita, menikahinya dan mempunyai hidup “normal” seperti lainnya. Aku (mungkin) bisa bahagia dengan itu, tapi aku masih belum puas dengan seksualitasku tanpa jawaban yang pasti.

7. Almost-Sex Experience, Di Mana Aku Merasa Kalau Aku Seorang Homoseksual.

It was all right until … via https://farm5.staticflickr.com

Aku cukup dewasa untuk mengenal sex pada waktu itu, aku sedang menjalin hubungan dengan seorang gadis. Kami begitu intens, sangat intens malah. Sampai pada suatu malam ketika kami berdua di kamarnya, kami berniat untuk melangkah ke tahap selanjutnya yaitu seks.

Pada awalnya, aku begitu nyaman sampai pada titik dimana aku merasa bahwa semua yang aku lakukan ini begitu salah dan aku mendadak menghentikan semua aktivitas kami di atas kasur dan aku merasa bahwa aku tidak tertarik secara seksual dengan pacarku. Kami tidak berbicara apapun pada malam itu dan hari-hari setelahnya.

Tak lama setelah kejadian itu, kami mengakhiri hubungan kami. Dia yang memutuskan hubungan kami dengan alasan dia merasa dipermalukan. Aku mengiyakannya karena aku pun akan melakukan hal yang sama jika aku adalah dia. Dari situ, aku mulai mempertanyakan identitasku. Mengapa aku tidak bisa tertarik secara seksual dengan wanita yang aku cintai, aku cinta dia, itu yang pasti.

8. Kepribadianlah yang Membuatku Jatuh Cinta.

Out of closet for being who i am via http://assets.vancitybuzz.com

Dihantui dengan pertanyaan "Apakah aku homoseksual?" Aku mulai mencari-cari soal spektrum seksual, yang dulu aku ketahui hanyalah heteroseksual, homoseksual, dan biseksual. Aku mulai memperlebar wawasan tentang spektrum seksual, aku menemukan hal-hal menarik dan akhirnya menemukan istilah "panseksual". Aku lalu mulai mendalami soal itu.

Aku yakin mayoritas orang Indonesia tidak tahu apa itu panseksual. Panseksual adalah seksualitas dimana orang tertarik secara emosional dan seksual dengan orang lain tidak berdasarkan jenis kelamin orang tersebut.

Yup, itu termasuk orang-orang transgender maupun transseksual, aku bisa saja menyukai mereka dan aku tidak peduli. Sejujurnya aku bisa saja jatuh cinta pada mereka yang menurut orang kurang baik, jika mereka mempunyai kepribadian yang begitu menarik di mataku. Ya, aku tidak peduli soal penampilan fisik seseorang, kepribadian merekalah yang membuatku jatuh cinta.

“Ya, Aku seorang panseksual” pikirku saat itu.

Lalu aku bercerita tentang panseksualitasku kepada teman internetku, mereka merespon dengan sangat baik dan mendukung atas seksualitasku ini. Hal yang yang tak pernah aku rasakan sebelumnya, sebuah apresiasi dan dukungan atas sesuatu yang tabu di masyarakat dan untuk pertama kalinya. Aku merasa dihargai atas sesuatu yang aku selalu tutupi dari semua orang. Aku mulai terbuka atas seksualitasku, I'm out of my closet, for good.

9. Seks Bukanlah Prioritas Dalam Suatu Hubungan.

Sex is not the only bound via http://www.metro.pr

Meskipun aku sudah keluar dari zona nyamanku, itu belum menjawab pertanyaan kenapa aku tidak tertarik secara seksual dengan orang yang aku cintai. Aku sudah yakin atas seksualitasku — tapi masih ada sedikit pertanyaan, "Apakah aku itu homoseksual?" di pikiranku. Pertanyaan itu menjadi liar dan membuatku berpikir,

"Aku belum pernah menjalin hubungan dengan seorang lelaki, mungkin aku seorang homoseksual. mungkin saja aku bisa tertarik secara seksual dengan lelaki."

Untuk kesekian kalinya, aku menceritakan pikiranku ini ke teman internetku dan mereka, seperi biasanya, merespon dengan baik ceritaku meskipun mereka tidak memberikan solusi atas pertanyaanku "Mungkinkah aku seorang homoseksual ketika aku bisa mencintai seorang wanita?". Setelah beberapa waktu, salah seorang teman internetku menceritakan tentang pengalaman aseksual temannya.

Aku sangat tertarik dengan segala informasi baru seputar spektrum seksual dan cerita temanku soal aseksual membuat ribuan pertanyaan di kepalaku. Aseksual? Seperti tumbuhan dan amuba? Apakah sains telah berkembang sebegitu pesatnya sampai bisa melakukan hal seperti membelah diri? Dan lainnya.

Aseksual adalah suatu orientasi seksual dimana orang aseksual tidak merasakan keinginan untuk melakukan aktivitas seksual dengan orang lain.

Setelah mengetahui arti dari aseksual, aku melakukan riset di internet tentang apa itu aseksual. Aku mulai mengetahui bahwa seks itu, cepat atau lambat, penting tapi seks bukanlah suatu prioritas dalam suatu hubungan. Semakin aku menemukan artikel-artikel tentang aseksualitas, semakin aku merasa begitu nyaman dengan istilah aseksual.

Aku mulai mengintrospeksi hubungan yang pernah aku jalani, aku pernah menjalin hubungan dengan beberapa wanita dan tidak pernah sekalipun terlintas dipikiranku untuk melakukan hubungan seks dengan mereka meskipun aku mencintai mereka. Aku bisa mencintai mereka secara emosional tetapi tidak secara seksual. Meskipun aku belum pernah menjalin hubungan dengan seorang lelaki tapi aku yakin aku tidak akan pernah, secara seksual, tertarik dengan lelaki sama halnya dengan wanita. Aku seorang aseksual, aku yakin sekarang atas identitasku.

10. Halo, Aku Lelaki yang Bisa Mencintai Tetapi Tidak Secara Seksual.

I’m happy via http://cdn5.upsocl.com

Sampai saat ini, aku masih tertarik secara emosional dengan semua orang yang membuatku nyaman. Baik itu wanita, lelaki, trans atau bahkan orang yang tidak tergolong dalam suatu gender, aku tidak merasa keberatan dengan itu. Sampai sekarang pula, aku masih tidak tertarik dengan segala interaksi yang berkaitan dengan seks.

Idealnya, aku ingin menjalin hubungan dengan seseorang secara romantis tanpa harus memikirkan tentang seks. Untuk umurku yang tergolong muda, mungkin aku masih bisa menghindari seks tetapi, cepat atau lambat, seks akan menjadi suatu hal yang amat penting, pernikahanlah yang membuatnya menjadi suatu tekanan.

Itulah "masalahku". Aku hanya ingin bercerita bahwa orang sepertiku ada, bahwa seksualitas bukanlah suatu "opsi" yang bisa kalian pilih begitu saja ketika kalian dewasa. Yah, jika seksualitas adalah sebuah pilihan, I chose to be happy. Apakah kalian akan bahagia dengan berpura-pura menjadi seseorang yang bukan kalian?

Aku bahagia dengan diriku yang seorang PanAseksual/ Panromantis, dan aku mulai terbiasa mengatakannya kepada orang-orang, termasuk keluargaku.

Kebahagiaanlah yang sebenarnya orang-orang cari dalam hidup, berbahagilah atas dirimu ketika itu tidak merugikan orang lain.