Tak perlu ditanya ingin menjadi apa seorang wanita kelak. Barang pasti jawabannya adalah menjadi istri dan ibu yang baik, dan bersamamu aku akan mewujudkan mimpi itu. Jodoh memang ketetapan Tuhan, dan aku begitu bersyukur Tuhan memilihku untuk mendampingimu. 

Tiada sesal, tiada cela, bersamamu, aku sempurna. Dan kini, izinkan aku berbagi kepada dunia tentang rasa syukurku memilikimu.

Aku menemukan kebahagiaan yang utuh di sampingmu, lelakiku. 

1. Kalau dulu aku cukup melihat guling disampingku, kini ada wajah elokmu yang senantiasa kupandang ketika pertama aku membuka mata.

Ada kamu di setiap pagiku via http://galleryhip.com

Ketika fajar menyapa, sudah sepantasnya kita pun ikut bangun dan siap mengawali hari. Ada yang berbeda dari dua bulan yang lalu, Biasanya aku hanya memandang jendela atau meraba guling di sampingku, tapi kini hal favoritku ketika mata ini terbuka adalah menatap wajahmu yang menawan.

Sudah sepantasnya aku terbangun lebih dulu, karena aku tahu mungkin malam belum sepenuhnya menghilangkan rasa lelah di badanmu. Sungguh, kau selalu bekerja keras dan tak pernah kau tunjukkan rasa lelahmu di depanku. Bahkan, kau selalu dengan ikhlas menyediakan bahumu sebagai tempatku bersandar. Tanpa kau pedulikan rasa lelah yang menggelayut di sana.

Kalau dulu biasanya aku langsung bergegas dan meninggalkan kamar yang sepi, kini tak lupa aku berusaha membangunkanmu dan bersama kita awali hari baru. Melihatmu tersenyum di pagi hari ibarat sumber semangat baru untuk menjalani kewajiban yang sudah menanti.

Advertisement

Tatapanmu di setiap pagiku dan senyum itu, cara terbaik mengawali hari.

2. Kau yang kini menjadi imamku, yang memimpin shalatku, kita berdua berucap dan memanjatkan do’a bersama kepada Tuhan.

Sujudku terasa lebih bermakna via http://madrasah2.ru

Sudah kewajiban kita sebagai manusia biasa yakni beribadah kepada Tuhan. Sebagai makhluk beragama, tentu sedari kecil kita sudah diajarkan untuk mengenal Tuhan, beribadah, bertaqwa dan mempercayai hanya kepada Allah semata.

Orang tua kita sudah mengajarkan ilmu agama kepada anak-anaknya dengan baik, dan sekarang tugas kita untuk mengamalkannya. Mempertebal keimanan, memperkokoh ketaqwaan, agar kelak kita juga dapat melakukan apa yang dulu dilakukan oleh orang tua kita. Mengenalkan Tuhan kepada anak-anak kita.

Sebelum jauh berpikir bagaimana nanti akan mengajarkan agama kepada anak-anak kita, yang wajib dilakukan adalah saling mengingatkan dalam menjalankan kewajiban agama. Tidak jarang aku yang harus cerewet mengingatkanmu untuk tidak lupa menjalankan shalat di saat kau terlalu dalam terbenam dalam kesibukan dan pekerjaan. Tentu aku senang melakukannya, bisa menjadi reminder bagimu.

Banyak pekerjaan, sayang? Padat sekali agenda hari ini. Pesanku, jangan lupa shalat.

Dulu mungkin kita terbiasa untuk menjalankan ibadah sendiri, sekarang, sujudku terasa lebih bernyawa ketika kau yang memimpinku. Menengadahkan tangan bersama memohon kepada Tuhan. Bersalaman dan mengecup tanganmu setiap selesai shalat — sempurna.

3. Ketika dulu aku bebas kemanapun dan melakukan apapun sesukaku, kini ada kamu yang menjadi “controller” dalam segala tingkahku.

You are my “aide-memoire” via http://www.cultureandliving.com

Kalau dulu ketika masih jadi penghuni kos aku masih boleh keluar-masuk, pulang-pergi sesuka hati. Ketika kuliah, masih boleh hang-out bareng teman-teman atau sekedar nongkrong membicarakan tugas sampai menggosip soal dosen. Berbeda jauh dengan sekarang, berangkat dan pulang kerja selalu dalam pengawasan, tapi aku tak pernah keberatan, tidak pernah. Justru hal itu membuatku merasa diperhatikan.

Dulu, berangkat kuliah atau jalan-jalan boleh kebut-kebutan, sekarang jangan harap, kamu pasti selalu cerewet tiap kali aku berpamitan. Tapi aku suka, itu tandanya aku begitu dipedulikan. Kau ibarat aide-memoire bagiku, menjadi pengingat setiap aktivitasku, menjadi pembatas dalam setiap tingkah lakuku.

Menjadikanku punya border yang jelas, tak perlu ditulis, tak perlu dihapal, naluri sebagai seorang istri sudah tentu aku mengerti. Dan di kala aku mulai melenceng, dengan sabar dan telaten kau meluruskan lakuku.

Tanpa kuminta, tanpa rasa bosan, kau selalu mengingatkanku di kala aku mulai khilaf.

4. Ketika kawan-kawanku masih sibuk mencari seseorang yang menurut mereka “ideal”, aku sudah lebih dulu memantapkan hatiku padamu.

Kumantapkan hatiku via http://www.4summer.net

Teman-teman kuliah, teman-teman sekolah, bahkan rekan kerjaku pasti bertanya kenapa bisa secepat ini karena memang belum lama kita saling mencinta. Bolehkah aku sedikit mengurai perjalanan kita hingga pada akhirnya kita dipersatukan dalam ikatan sakral yang tak akan mampu diputuskan oleh manusia.

Walau belum lama kita bersama, menjadi istrimu menjadikanku tahu bahwa kita memang sudah ditakdirkan untuk bersatu. Tanpa disangka, tanpa rekayasa, ternyata kita punya segudang kesamaan tak terduga. Mendalamimu, aku memetik berbagai hal, salah satunya ternyata kita sama-sama menyukai dunia astronomi, tentang bintang, langit, bulan, senja, awan, gerhana serta semua fenomena yang ada di sana.

Aku dan kamu ternyata tipikal pribadi yang sangat menyayangi keluarga, keluarga adalah segalanya. Dan atas alasan inilah pula, aku memantapkan hatiku padamu.

Aku tak pernah tahu alasanmu memilihku menjadi pendampingmu, yang aku tahu, aku bersyukur atas itu. Mungkin aku dan kamu tidak pernah tahu kapan rasa kita muncul dan mulai berpadu, yang aku yakini kita akan selalu bersama menjalani hari depan, selamanya.

Ketika Allah berkehendak: orang tua meridhoi, dunia merestui, semesta mengamini. Aku dan kamu sudah menjadi kita.

5. Dunia terus berputar, kehidupan terus berjalan dan kita akan menapaki hari depan bersama.

Bersama, kita menggapai masa depan via http://imgarcade.com

Tak lain dan tak bukan, aku hanya mampu mengucap terima kasih telah memilihku sebagai pendampingmu, imamku. Syukur tiada terkira memilikimu sebaga lelakiku.

Aku tidak pandai memasak, tidak piawai menjahit atau merajut. Tapi, denganmu, aku akan menjadi lebih baik. Dengan penuh kesabaran kamu selalu memahami kekuranganku

Aku tahu perjalanan kita masih panjang dan kita baru akan menempuh dua purnama. Aku pun sadar di depan pasti akan ada kerikil bumbu perjalanan rumah tangga kita, tapi denganmu aku yakin kita bisa. Bersama, kita akan temukan kebaikan masa depan, akan kita gapai kebahagiaan. Tetaplah sabar membimbingku, tetaplah telaten menasihatiku, dan jangan pernah bosan membersamaiku.

Untukmu yang hampir dua purnama ini menjadi imam yang luar biasa bagiku. Untukmu, lelaki yang memaknai hidupku dengan sempurna dalam dua bulan ini.

I loved you, I'm loving you, I love you, and I'll always love you..