Bagi kita, sahabat sudah seperti saudara sendiri. Kedekatan kita dengannya bahkan bisa melebihi kedekatan kita dengan saudara kandung. Dengan sahabat kita bisa berbagi semua hal yang ada. Mereka tak hanya ada disaat kita di atas puncak, tapi juga saat kita jatuh di bawah jurang. Saat hubungan kita dengan sahabat sedang bermasalah, rasanya sama seperti sedang bertengkar dengan pacar.

Ya, sahabat itu sudah seperti pacar sendiri kadang. Tanpa sadar kita juga suka posesif dengan dia. Banyaknya momen yang dijalani bersama, dari suka maupun duka, membuat hubungan kita dengan sahabat sangat dekat, seperti ada ikatan batin. Namun, sedekat apapun kita dengan sahabat, kita tetap harus memberi jarak dan jeda dengannya.

Memberi jarak dengan sahabat bukan berarti kita tak percaya padanya. Bukan pula bermaksud mencurigai sahabat sendiri. Tapi sedekat apapun dengan orang, bahkan sahabat sendiri, kita tetap harus memberi ruang batas.

 

1. Kamu tahu baik dan buruknya dia. Tapi setahu apapun dirimu tentangnya, kamu tidak akan pernah paham betul bagaimana sifat aslinya.

Kamu tak akan paham betul bagaimana sifat aslinya.

Kamu tak akan paham betul bagaimana sifat aslinya. via http://www.ultrahighdefinitionwallpapers.com

Menjalin hubungan pertemanan dengannya dalam waktu yang terbilang tidak sebentar, sudah pasti kita mengenal dia luar dalam. Kita pun bisa menjadi sahabatnya karena kita dan dia bisa saling menerima segala sifat baik dan buruknya, dan saling mengerti satu sama lain dalam berbagai versi.

Namun, bersahabat dengan seseorang selama bertahun-tahun, sepercaya, dan semengerti apapun kita pada dia, kamu tidak akan pernah bisa benar-benar tahu sisi yang sebenarnya dari dirinya.Setiap manusia pasti punya satu ruang privasi dalam dirinya yang tak akan pernah ditunjukkan kepada siapapun, termasuk kamu dan juga sahabatmu sendiri.

Kita boleh saja berbagi cerita dan rahasia dalam hidup, tapi di manapun kita berada, dan dengan siapapun kita bersama, kita harus selalu waspada. Dengan tetap berjarak dengan sahabat sendiri, berarti kamu sudah berusaha menjaga privasi kamu sendiri.

2. Sahabatmu adalah manusia biasa, yang bisa berubah sikapnya sewaktu-waktu.

Sikapnya bisa saja berubah sewaktu-waktu.

Sikapnya bisa saja berubah sewaktu-waktu. via http://cargocollective.com

Sebagai manusia biasa, kamu dan sahabatmu bisa saja berubah sikapnya. Jika selama ini dia sikapnya selalu stabil, bisa saja dia sewaktu-waktu bisa berubah menjadi manusia yang labil.

Bukan bermaksud menyutuhmu untuk menaruh curiga pada sahabat, tapi tak menutup kemungkinan dikala dirinya sedang tidak stabil atau bahkan sedang khilaf, dia bisa saja lepas kendali bertindak hal yang tidak menyenangkan di belakangmu.

Bila kamu tetap memberi sedikit jarak pada sahabatmu, kamu tak akan merasakan sakit hati yang begitu dalam apabila sikapnya padamu tiba-tiba berubah. Kamu juga tak akan merasa seperti ditikam dari belakang oleh seseorang yang pernah kamu sebut sahabat.

3. Sudah pasti dia menyayangimu sebagai sahabat, tapi belum tentu juga kadarnya sebesar yang kamu berikan padanya.

Belum tentu dia punya kadar sayang yang sama denganmu.

Belum tentu dia punya kadar sayang yang sama denganmu. via http://www.liveinternet.ru

Sudah tidak diragukan lagi betapa sayangnya dirimu pada sahabatmu. Sahabat sudah seperti keluarga sendiri. Mungkin juga kamu berani membela dia meskipun terkadang dia sedang berbuat kesalahan. Kamu berani pasang badan jika ada orang yang berani-berani menyakitinya.

Tapi, apakah kadar sayangmu akan sama persis dengan kadar sayang dia padamu sebagai sahabat? Belum tentu. Sebagai sahabat dia sudah pasti sangat menyayangimu, tapi belum tentu dia mau berkorban demi kamu seperti kamu mau berkorban apapun demi dia. Taka da yang bisa menjamin itu.

Kamu jelas tidak mungkin meminta balasan yang setimpal pada sahabatmu, karena bagaimanapun juga hubungan sahabat tidak terikat kontrak di atas hitam dan putih. Jika kamu bisa teta menjaga jarak dengan sahabatmu, kamu setidaknya bisa menjaga hati supaya tidak merasa dirugikan sebagai sahabat. Kamu pun tak akan terlalu bergantung pada sahabatmu.

4. Dengan memberi jarak dengan sahabat, kita bisa meminimalisir rasa posesif kepadanya.

Jangan poosesif dengan sahabat sendiri.

Jangan poosesif dengan sahabat sendiri. via http://houseofbearhugs.blogspot.com

Tak bisa dielakkan lagi, kedekatan dan keeratan hubungan yang terjalin dengan sahabat bisa menimbulkan rasa untuk memiliki. Bahkan bisa saja, saking takutnya kehilangan sahabat terdekatmu, kamu tanpa sadar sudah memonopoli dirinya.

Kamu menganggap bahwa dia hanyalah sahabatmu seorang – orang lain tidak boleh. Kamu merasa cemburu jika sahabatmu sudah mulai punya kesibukan lain yang membuatnya menemukan banyak teman-teman baru.

Selain dirinya yang rugi, kamu juga akan merasakan rugi jika sudah mulai posesif dengan sobat sendiri. Kamu jadi semakin terjebak dalam hubungan persahabatan yang tidak sehat. Tanpa sadar, kamu juga jadi tergantung pada sahabatmu.

5. Memberi jeda dalam hubungan persahabatan adalah bentuk antisipasi, karena kita tak pernah tahu bagaimana hubungan kita dengannya di masa depan.

Akan seperti apa hubunganmu dengan sahabatmu di masa depan?

Akan seperti apa hubunganmu dengan sahabatmu di masa depan? via http://bessarabiainform.com

Tak ada satupun dari kita semua yang bisa menjamin bagaimana keadaan di masa depan, termasuk hubungan persahabatanmu dengan sahabatmu.Pastilah kamu dan sahabatmu akan selalu berusaha menjaga hubungan persahabatan sebaik mungkin, dan berharap agar tak pernah ada yang berubah dari hubungan persahabatan kalian. Tapi kembali lagi, kita tak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan.

Menjaga jarak adalah bentuk antisipasi, agar kita bsa lebih berhatihati terhadap diri sendiri. Taka da yang menjamin bila hubungan kalian bisa baik-baik terus selamanya. Bukan… bukan bermaksud menakut-nakutimu, atau menuduh sahabatmu nantinya bisa tak setia padamu, tapi apapun bisa terjadi di dunia ini.

Tak menutup kemungkinan, kawan-kawan dekatmu di masa mendatang akan menjadi lawanmu. Bisa saja di masa mendatang hubungan kalian tiba-tiba jadi tidak baik (semoga hal ini tidak akan pernah terjadi). Jika hubungan kalian ternyata tidak bisa diperbaiki lagi, tak ada yang menjamin apakah dia masih bisa menjaga rahasia dan nama baikmu di belakangmu.

 

Hubungan persahabatan itu bisa dibilang bagaikan sebuah rezeki terindah dalam hidup.

Namun, bagaimanapun juga, sedekat apapun juga kamu dengan sahabatmu, berilah jarak yang cukup antara dirimu dan sahabatmu. Agar kalian bisa saling menjaga, mengisi, dan memahami.

Jika dari awal kamu sudah mengantisipasi dengan memberi jarak, kamu tak hanya akan menyelamatkan dirimu, tapi juga menyelamatkan hubungan persahabatanmu.