Genderang Pilkada Gubernur DKI Jakarta sudah memasuki babak baru. Resmi sudah KPUD menyatakan bahwa pasangan Anies-Sandi yang memenangkan pilgub Jakarta periode 2017-2022. Namun jika dirunut ke belakang, siapa sih yang nggak ikut menyimak hebohnya pemberitaan terkait Pilkada Jakarta lalu yang penuh "drama" dan sempat menyenggol tentang isu SARA. Nggak cuma para petinggi-petinggi itu saja yang ramai, tapi komentar-komentar pedas dan unik dari netizen juga jadi sorotan media.

Di jaman sekarang memang gampang banget orang "cuat cuit" sana sini, asal komen sekenanya, dan gampang percaya berita hoax yang akhirnya bikin keadaan makin panas. Terus sebagai orang yang tinggal di Jakarta apa kita cuma perlu diam saja? Tinggal duduk diam minta fasilitas ke pemerintah terus bisa melakukan segala sesuatu seenaknya? Kalau masyarakatnya saja sudah susah untuk sadar diri, mau dikasih fasilitas sebagus apapun ya Jakarta nggak akan berubah seperti yang diharapkan. Dimulai dari diri sendiri, sebenarnya inilah kebiasaan-kebiasaan yang sebaiknya dirubah.

 

1. Kebiasaan buang sampah seenaknya. Udah kayak tempat sampah itu jauhnya beribu-ribu kilometer, susah dijangkaunya.

Persoalan sampah ini memang udah mendarah daging sama yang namanya Jakarta. Kalau cuma melihat jalanan protokol di Jakarta sih memang sudah keliatan selalu bersih. Tapi itu juga nggak lepas dari kerja petugas kebersihan Pemprov Jakarta. Coba kalau liat ke tempat-tempat umum kayak pasar, taman, rumah-rumah di gang-gang, apalagi got dan sungai di Jakarta, ampun deh sampah dimana-mana. Sampah itu nggak mungkin tiba-tiba ada kalau bukan karena ulah manusia yang sembarangan.

Tolong lah, itu sampah yang punya kita sendiri, masak orang lain yang bersihin. Seberapa berat sih buang sampah di tempatnya, keringat aja nggak mau netes kok kalau buat jalan ke tempat sampah. Jangan sampai buang sampah sembarangan itu jadi hal yang udah biasa, kan lebih enak kalau berubah jadi udah biasa buang sampah pada tempatnya. Hampir yakin deh kalau misalnya semua orang sudah punya kesadaran akan pentingnya buang sampah yang baik, itu jadi salah satu solusi mengurangi banjir Jakarta.

2. Kebiasaan "buru-buru" yang bikin serobot sana serobot sini di jalanan. Akhirnya yang ada jalanan di Jakarta semakin ruwet

Kalau nggak macet, bukan Jakarta namanya. Sejauh ini, macet di Jakarta memang udah stadium lanjut. Cuma bisa dikurangi sedikit-sedikit tapi hampir pasti nggak bisa diobati. Setiap hari lalu lintas padat merayap, lalu lalang kendaraan udah kayak lomba motogp, nggak sabar dan semua pengen duluan. Klakson sana sini, pepet kiri kanan, saling salip sembarangan kayak punya nyawa 9, lawan arah, ngetem dan ngebut sembarangan (ini biasanya angkot) bikin otak makin panas ada di jalanan.

Rambu-rambu lalu lintas semacam berlaku cuma kalau ada polisi. Kalau ternyata ditangkap polisi pun, selama masih bisa kabur ya pasti kabur. Apalagi yang suka ambil jalur busway seenaknya, mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan orang banyak yang di dalam Transjakarta, egois banget. Semuanya itu nggak jarang bikin kita stress sendiri dengan keruwetan lalu lintas di ibukota. Coba nih kalau para pengendara itu bisa lebih sabar sedikit saja.

Patuhi rambu-rambu lalu lintas yang ada, berkendara dengan lebih hati-hati dan nggak seenaknya. Setidaknya kalaupun harus ketemu macet nggak perlu melihat lagi amburadulnya pemandangan di jalanan. Lagi-lagi ini masalah kesadaran diri sendiri untuk mau dan enggak nya (untuk sabar dan patuhi rambu). Berkendara yang baik di jalan nggak bikin rugi kok. Kalau masalah buru-buru ya itu masalah pribadi, harus bisa kontrol waktu kapan seharusnya memulai perjalanan. Kurangi stress di jalan kalau mau harimu bahagia saat itu.

3. Transportasi umum nggak hanya disediakan untuk kalangan menengah kebawah, tapi juga kalangan atas. Kebanyakan kalangan atas masih nggak mau kalau disuruh naik transportasi umum.

Kebanyakan orang berpikiran yang naik transportasi umum itu adalah mereka yang nggak punya kendaraan sendiri. Bagi meraka yang punya kendaraan sendiri, entah motor atau mobil ya mungkin hampir nggak pernah naik transportasi umum. Bukan tanpa alasan, memang kalau bicara soal transportasi umum seperti angkot, metromini, kopaja, dan sejenisnya dirasa masih kurang aman dan nyaman. Panas, khawatir copet, pengamen yang naik turun seenaknya memang bikin kita memilih alternatif transportasi lain. Tapi jangan luipa, Jakarta punya Transjakarta yang cukup bagus fasilitasnya.

Ada AC, petugas onboard, dan punya jalur busway sendiri, naik Transjakarta bisa jadi pilihan agar kita nggak terus-terusan naik kendaraan pribadi yang bisa menambah macetnya Jakarta. Penambahan armada Transjakarta juga efektif mengurangi waktu tunggu di halte, karena sekarang menunggu Transjakarta sudah nggak selama dulu. Bus yang udah nggak layak jalan alias bobrok juga udah nggak keliatan lagi. Perbaikan fasilitas Transjakarta ini sesungguhnya bertujuan agar transportasi umum Jakarta ini bisa juga dipakai oleh kalangan atas.

Apalagi sekarang ada peraturan ganjil genap di kawasan Sudirman-Thamrin, yang bawa mobil pasti ribet kan. Satu lagi, Jakarta juga punya KRL lho yang bisa jadi alternatif buat berangkat kerja atau jalan-jalan kalau weekend (ya meskipun kalau di hari kerja harus desak-desakan ya). Jadi, mulai sekarang nggak ada salahnya bagi kalian yang masih suka pake mobil sendirian kemana-mana mencoba buat naik transportasi umum. Setidaknya bisa sedikit mengurangi macetnya jalanan Jakarta.

4. Parkir sembarangan di pinggir jalan, makan separuh jalan. Alhasil jalanan yang udah sempit jadi makin sempit dan bikin macet.

mana jalan mana parkiran

mana jalan mana parkiran via http://forletnews.com

Memang nggak ada habisnya kalau bahas soal jalanan di Jakarta. Selain karena jumlah kendaraan yang terlalu banyak, macet di Jakarta itu penyebabnya ya karena jalanan yang dipakai parkir sembarangan. Biasanya yang kayak gini itu daerah yang banyak tempat makan, tapi nggak punya fasilitas tempat parkir. Jadi makan sebagian bahkan separuh jalan buat parkir. Sebagian tempat udah dipasang mesin parkir otomatis, jadi memang bukan parkir liar.

Tapi yang masih jadi parkir liar juga masih banyak. Jalanan di Jakarta ini nggak semuanya lebar. Nggak di "bajak" buat parkir aja belum tentu nggak macet, apalagi dipake buat parkir sembarangan. Sebenernya yang suka parkir sembarangan itu beberapa udah ditindak tegas sama DISHUB dengan cara diderek, tapi merasa nggak sih kalau justru sebenernya biang utamanya malah nggak ditindak tegas. Ya, contohnya yang punya tempat-tempat makan tapi nggak punya lahan buat parkir itu.

Sama juga kayak di pasar-pasar, parkir sembarangan di pinggir jalan yang masih dipake juga buat jalan umum mobil dan motor. Apalagi kendalanya kalau bukan backingan preman yang menjaga biar lahan kerja mereka sebagai tukang parkir nggak musnah. Karena sudah banyak kasus demo dengan aksi perusakan tempat-tempat umum oleh oknum premanisme yang menolak kebijakan pemerintah soal lahan parkir. Tentunya ini jadi PR pemerintah juga untuk mengurangi parkir liar. Tapi kita juga bisa berkontribusi sedikit untuk nggak lagi sembarangan parkir di tempat parkir liar pinggir jalan. Kalau memang bisa cari tempat parkir yang aman dan resmi, kan lebih enak parkir disitu. 

5. Bikin rumah semi permanen di lahan milik pemerintah, tapi kalau digusur marah-marahnya juga ke pemerintah

Lahan kosong yang udah semakin sedikit dan biaya sewa atau beli rumah yang selangit, menjadikan cara ini sebagai pilihan untuk mereka yang tinggal di Jakarta dengan dana yang terbatas. Mereka memilih mendirikan rumah-rumah semi permanen, tak peduli layak atau tidaknya lingkungan di sekitar, yang penting bisa terlindung dari panas dan hujan. Masalahnya, nggak sedikit bangunan-bangunan tersebut sebenarnya adalah bangunan liar yang menempati lahan milik pemerintah, apalagi tempatnya yang persis di pinggir sungai.

Pemerintah Jakarta bukannya tanpa usaha, pihak pemprov Jakarta sebenarnya menyediakan rumah-rumah susun yang lebih layak. Tapi upaya pemindahan warga dan pembongkaran bangunan liar itu seringkali ditolak, sampai tindakan pemaksaan pun mau nggak mau harus dilakukan. Kondisi sungai di Jakarta yang kotor dan dipenuhi sampah jadi salah satu faktor utama pemicu Jakarta selalu banjir setiap tahun. Tapi kenapa masih ada saja yang betah tinggal di pinggiran sungai?

Kalau alasan mata pencaharian yang hilang, jika memang ada niat dan usaha rejeki bisa datang darimana saja kok. Nggak perlu bertahan terus dengan kehidupan tidak layak di pinggir sungai, yang efek nya nggak cuma dirasakan masyarakat sekitar situ saja, tapi juga semua masyarakat di wilayah Jakarta lainnya. Karena sesungguhnya fungsi sungai adalah untuk penampungan air hujan, jadi kalau sungainya bersih dan aliran air nya lancar, Jakarta bebas banjir nggak cuma akan jadi harapan.